Chapter 2

23 1 0
                                        

Kesembuhan tidak pernah terasa lebih baik. Lalu, pergerakan seperti siput ketika aku berusaha menyiapkan kepergianku ke asrama yang tidak bisa kusebutkan namanya karena kejadian suram yang menimpaku selama disana. Bila aku ketahuan menulis cerita ini, bisa gawat. Namaku sudah di black list di sekolah itu sebagai rebel bercatatan gelap.

Aku ingat beberapa bulan sebelumnya hampir mati, lalu terjatuh di aspal dan koma, lalu terbangun entah beberapa lama kemudian bangun di kasur rumah sakit. Aku ingat, sewaktu bangun kulihat kalender di meja samping, berbingkai puluhahan tangkai bunga yang layu menungguku siuman--menunjukan tanggal 12 April.

Lalu aku mengutuk diri sendiri karena melewatkan ujian masuk serentak. Ketiga kalinya merasa hampir mati. Untung, sepupuku dan sahabatku mendukungku melewati semua ini. "Banyak yang lebih berharga!" Kata sepupuku. "Lo nggak mungkin tes masuk dengan tangan patah dan tulang alis patah!" Kata sahabatku. Oh, betapa memotivasi. Terimakasih.

Aku lupa kalau tulang alisku juga patah. Bukan cuma lengan yang patah. Aku melewati hari-hari di rumah sakit ditemani kedua sahabatku. Dengan candaan garing mereka. Hingga orangtuaku mengusahakan agar aku bisa masuk ke sebuah sekolah swasta dengan jalur raport.

Tidak ada yang lebih baik. Keluar dari rumah sakit, aku langsung dibantu keluargaku dan Lily untuk pindah ke asrama. Walaupun melepas anak satu-satunya yang baru saja kecelakaan ke asrama terdengar cukup nekat. Setelah kehancuran kedua, aku malah mengira orangtuaku akan membiarkanku homeschooling.

Tapi, aku tetap pindah ke asrama. Pada bulan Mei, keluargaku melepasku ke sekolah tersebut. Aku ingat, diantar sampai gerbangnya yang besar, lalu menjalani tur asrama dengan seorang senior berambut cepak kemerahan di gedung B asrama.

"Setiap lantai punya ruang makan. Untuk lantai 2 gedung B, ruang makan di ujung, dekat kamar 36B. Ada jadwal makan pagi dan malam bersama. Ruang makan beda sama kantin, ya. Kalau kantin di gedung sekolah. Kalau ruang makan di setiap lantai, dengan ibu itu yang memasak makanan di dapur asrama." Terangnya. Terlalu terang malah, bahkan sampai tidak peduli apa aku sudah tahu bedanya kantin dan ruang makan.

"Guru-guru nggak tinggal disini. Siswa dalam pengawasan guru sampai jam pulang. Setelah jam pulang, guru nggak peduli lagi sama siswa."

"Ruangan yang tadi apa? Ruang guru?"

"Kan gue udah bilang, guru nggak tinggal disini. Semuanya pulang ke rumah. Yang tadi ruang OSIS. Ketua OSIS mengawasi siswa sepulang sekolah, sepanjang malam, sampai pagi sebelum bel jam 7."

"Oh gitu. Yaudah lanjut aja ceritanya."

"Disini, nggak boleh ada alat komunikasi kecuali boks telepon umum di lantai satu. Sini HP lo. Gue nanti kasih ke guru BK. Segala informasi tentang sekolah nggak boleh disebarluaskan, positif atau negatif. Lo punya laptop atau tablet? Sini kasih ke gue."

Aku menyerahkan laptop ku. "Biar apa kayak gini?" Tanyaku.

"Peraturan ya peraturan. Mau se-nggak masuk akal pun, tetap aja peraturan." Kata si senior sambil menaiki tangga ke lantai atas.

Aku mengikutinya. Lantai 2 berupa lorong panjang dengan jajaran kamar di kanan dan kiri. Ada ruang makannya. Ada juga ruang janitor di ujung.

"Ini kamar lo. Ingat-ingat ya, 26B. Teman sekamar lo 3 orang. Disini nggak boleh banyak-banyak teman sekamar. Adaptasi, ya."

"Makasih ya." Kataku.

"Oke. Baik-baik ya, Aris." Kata si senior yang aku nggak tahu namanya itu sambil berlalu.

Aku memasuki kamar itu. Meletakkan tas di lantai. Mendapati seorang cowok seumuranku sedang nyandar ke jendela, melihatku sambil mainin headset di tangannya.
"Hei." Sapanya.

"Hei juga." Balasku garing.

"Siapa lo?" Tanya dia.

"Gue Aris. Lo?"

"Hah? Nama lo Arisa? Kayak nama mantan gue apa gimana."

"Nama lo siapa?" Potongku.

"Sal." Jawabnya.

Sal, seorang teman yang baik banget yang aku ingat selama disana. Dan sarkasme nya juga bikin dia memorable banget. Sal bukanlah nama aslinya. Disini namanya aku samarkan, walaupun aku tidak ada masalah dengan anak-anak asrama pada masa itu, takutnya kalau kusebutkan nama aslinya kalian ternyata kenal terus cari tahu nama sekolahnya dan habislah aku.

Sal sukanya mendengarkan lagu pakai headset di iPodnya. Agak tertutup anaknya, dan joke-nya "tajam".

Sal adalah satu dari tiga teman sekamarku. Duanya lagi kakak kelas. Ternyata, sekamar sebulan dengan kakak kelas bisa membuat anak umur 16 tahun jadi se-dewasa anak umur 21 tahun. Beneran.

Sementara dua kakak kelas itu belum muncul, dan Sal cukup sibuk dengan iPod nya. Aku membereskan barang sambil melihat ke sekeliling kamar. Kamar ini ditata sedemikian rupa oleh kakak kelas yang menempati nya. Seperti kucing yang menandai wilayah kekuasaannya. Buku komik  laga berserakan di lantai. Dan di meja kecil. Ada poster Joker di dinding dengan quote "why so serious?".

Aku memilih jalan-jalan keluar saja. Tidak ada yang menarik disini. Aku memakai jaket lalu keluar. Berjalan-jalan di lorong sambil mengenali tiap sudutnya. Asrama ini berbentuk lingkaran dibagi menjadi gedung A, B, C, dan D. Aku di gedung B. Lantai dua. Di tengah lingkaran ada sebuah taman. Hanya lantai satu dan tiga yang punya koneksi ke gedung sekolah. Lantai tiga terhubung dengan lantai tiga sekolah, sementara lantai satu terhubung dengan lorong sekolah.

Aku mendorong pintu koneksi ke gedung sekolah. Bentuknya juga lingkaran, terbagi menjadi gedung 1, 2, 3, 4. Dengan lapangan dan kolam renang di tengahnya. Aku kelas 1, jadi tempatku di gedung 1. Gedung 1 memiliki jajaran kelas di kanan dan kiri, jajaran kiri menghadap ke lapangan, sementara jajaran kanan menghadap ke jalan.

Bangunan sekolah terlihat begitu dewasa dan bebas dari poster film berwarna-warni di asrama. Tidak ada satu pun poster acara atau kegiatan sekolah tertempel di dinding. Di gedung 1 ada sebuah ruang olahraga dengan poster film Prancis di dindingnya. Ada juga beberapa ruang ekskul yang terlihat tidak terawat.

Aku terus berjalan melewati lorong yang bau lembap karena hujan. Terdapat ruang ibadah untuk setiap agama yang cukup luas dan terjaga kebersihannya. Di sampingnya ada ruang janitor. Lalu, terdapat pintu koneksi ke kantin yang barusan disebutkan oleh senior cepak.

Oke, aku harus kembali. Karena aku sudah sampai di ujung gedung 1. Aku pun menuruni tangga dan keluar lewat pintu besi berwarna merah dan mendapati diriku berdiri di perbatasan gedung 1 dengan gedung 2. Dinding bata merah menyapaku, dan sebuah jam besar yang berbunyi tiap jam 12. Jendela tidak terlihat, Karena tertutup oleh poster kepala sekolah yang sudah lusuh.

Aneh sekali. Pikirku. Sekolah ini pasti sudah tua sekali.

Dak!  Dak! Dak!
Telingaku menangkap suara agak keras dari balik pintu gedung 2. Seperti ada yang berlari di tangga. Tapi dengan suara sekeras itu, terdengar seperti tangga itu terbuat dari besi.

Bayangan orang yang turun dari tangga itu membuat mataku berkerjap. Seorang pria kekar yang pernah kulihat dalam kehancuranku. Ya, semacam itu. Dengan ciri-ciri seperti itu, minimal ia bisa mematahkan tulang belakangku.

Pintu didorongnya dengan siku. Kulihat tangan kanannya. Digips dan diperban seperti aku kemarin. Perban itu penuh coretan seperti aku saat itu. Dan tangan kirinya....memegang tongkat baseball.

Aku menelan ludah.

Here Comes the NewsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang