Aku terbangun di tempat yang sangat gelap. Aku tidak bisa menebak tempat apa ini; mungkin sebuah garasi yang dipenuhi barang-barang atau bengkel tua yang semua pintu dan jendelanya ditutup. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti jelly. Lenganku juga gemetar dan tidak sanggup menopang tubuhku. Secara otomatis, mataku terarah ke sumber cahaya yang berasal dari rolling door di depanku.
Bayangan.
Sekitar lima orang dengan posisi dua berjalan di depan dan tiga di belakang.
Posturnya tinggi besar dengan lengan yang gemuk dan langkah yang berdebam-debam, seperti hitung mundur nyawaku.
Dari situ, aku mengangkat kepalaku dan mendapati wajah-wajah yang menghadap kepadaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki rambut di kepalanya.
Tunggu sebentar.
Aku pernah melihat pemandangan ini.
Bayangan yang terpantul dari benda berkilauan di tangan mereka, beberapa membawa benda panjang yang tergantung di belakang bahu mereka, dengan hanya satu tujuan langkah mereka.
Aku.
Aku mencoba mundur, tapi kakiku masih terasa seperti jelly. Baru aku tahu, ada suatu nama bagi perasaan yang menderaku saat ini.
Primal fear.
Ini seperti level boss dalam sebuah permainan. Bedanya, aku tidak memiliki bekal pertahanan apa pun. Sebelum benda berkilauan itu berayun ke wajahku, aku mendengar suara dari ketua mereka yang berdiri paling depan;
"Ini karena lo bikin satu sekolah tahu tentang gundukan di ruang bawah tanah itu"
Lalu semuanya gelap.
*******************************************************************************************
Dan aku terbangun di tempat tidurku sendiri. Napasku terengah-engah. Wajah yang kulihat dalam mimpi burukku itu, kalau aku pikir kembali, memang agak terlihat seperti Alam. Aku memutuskan untuk bangun saja dan bersiap-siap ke sekolah. Kalau kepagian, aku mau belajar saja. Dengan ngeri, aku mengamati bekas luka-luka samar di sekujur tubuhku saat aku bercermin untuk mengenakan dasiku. Rasa takut akan "kehancuran" itu sepertinya tidak bisa hilang sepenuhnya dari pikiranku.
Hari itu, hujan turun.
Mungkin pertama kalinya aku melihat hujan turun di sekolah ini. Atap sekolah yang berdebu seolah tersucikan oleh derasnya hujan yang mengguyur kota dan membatalkan apel pagi itu. Hujan turun seharusnya bisa menjadi suatu pertanda, tapi entah mengapa seluruh indraku terasa mati dan pembicaraan orang-orang di sekitarku terdengar sangat samar.
Aku jadi mengikuti kebiasaan Sal pagi itu. Memasang earphone dan mendengarkan lagu ketimbang keributan siswa-siswa yang berhujan-hujanan sebelum kelas dimulai. Aku tertidur di jam pertama. Dan kedua. Dan seterusnya. Aku baru tersambung dengan interaksi sosial saat Ivan menarik earphone ku setelah jam pelajaran Seni Musik (gurunya sedang hamil sehingga meninggalkan tugas mempelajari suatu lagu yang aku bahkan tidak tahu dan hanya aku yang tertidur di ruang kelas sementara yang lainnya ada di ruang musik).
"Lo udah KO?" Tanya Sal.
"Halo? Aris Pratama? Masih ada di dunia ini, kah?" Tanya Ivan. Aku mencoba untuk mengangkat kepala. Mencoba membaca angka yang tertera pada jam dinding.
"12.15!?" Aku terlonjak kaget.
"Kenapa? Takut telat zhuhur? Masih ada waktu, kok." Ivan bingung. Aku menggeleng. Aku segera berlari keluar kelas dan keluar dari gedung sekolah menuju gerbang karena aku harus menemui gadisku. Sesuai dugaanku, Lily sudah menunggu, kali ini penampilannya sangat kusut dengan rambut yang sudah acak-acakan dan seragam yang sudah lecek. Ia nyaris meninjuku saat aku menghampiri gerbang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Here Comes the News
Roman pour AdolescentsMenjadi yang paling sempurna di lingkungan yang tidak sempurna adalah suatu ketidaksempurnaan. Rasanya, aku ingin lari dari kenyataan Bantu aku untuk DO dari sekolah neraka ini.
