"Sampai disini dulu...." Pak Karno menyudahi kelas. Pria lelah tersebut berdiri dari bangkunya dan menata bukunya, ketika tiba-tiba tertubruk olehku yang terburu-buru berlari mencapai pintu.
"Aris!!!" Seru Pak Karno saat aku hendak keluar kelas. Tadinya, aku hendak menggubrisnya, tapi karena aku sangat buru-buru, aku hanya menoleh sedikit dan meringis sebagai tanda maaf dan kembali berlari di lorong sekolah yang mulai ramai dengan anak-anak yang hendak istirahat. Tanpa sadar, aku menubruk beberapa dan menjatuhkan buku di dekapan mereka.
"Si Aris mau kemana, sih?" Ivan mengerutkan kening sembari membantu Pak Karno menata kembali buku-bukunya yang jatuh karena ku.
"Nggak tahu. Sebelum kelas selesai dia udah nggak sabaran banget lihat-lihat jam." Jawab Sal.
Aku berharap bisa memberikan penjelasan kepada dua temanku yang tanpa sengaja kurugikan, tapi aku harus ke gerbang sekolah sebelum jam istirahat selesai dan tentunya aku tidak boleh ketahuan ketemu Lily di gerbang sekolah. Aku melintasi kelas Edgar dan anak itu berseru sejenak padaku. "Ris! gue mau tanya--"
Ucapannya itu terpotong karena aku melewatinya begitu saja dan terus berlari keluar dari gedung sekolah.
Benar, kan. Di depan gerbang sudah ada Lily, berdiri dengan tidak sabar, menghentakkan kakinya dan menghela napas lega begitu melihatku. Rambutnya digulung dengan pita rambut yang seperti biasa aneh dan mencolok; ia mengenakan celana olahraga di bawah kemeja sekolahnya dan dilapisinya dengan sweater pink terang. Lily mengenakan sepatu kets dengan corak bintang-bintang yang terlalu kekanakan untuk umurnya.
"Untung lo tepat janji." Kataku, mencubit pipi Lily saking senangnya.
"Sakit! Udah, ah, cepetan. Gue nggak punya waktu seharian!" Sewot Lily sambil mengusap pipinya yang memerah.
"Gue ada ide buat rubrik koran sekolah, tapi gue butuh bantuan lo untuk itu. Karena itu, gue bikin kliping yang menjelaskan semua rencana gue di dalam map ini. Lo baca aja dan nanti kasih tahu gue gimana tanggapan lo lewat telepon." Aku menyodorkan map di tanganku.
"Apaan lagi, nih? Nggak aneh-aneh, kan?" Lily was-was.
"Gue rasa nggak aneh sih." Aku tersenyum jahil.
"Ih! Gue nggak mau masuk perangkap lo!" Lily makin was-was.
"Udah, lah. Lo bakal suka kok. Ini ada hubungannya dengan prom night sekolah gue yang udah tiga tahun nggak diadakan." Kataku.
"Hah? Terus apa hubungannya sama gue? Atau, gue mau dijadiin tumbal ceritanya? Sama kayak kasus Putri kemaren--"
Aku menjitak Lily agar diam. Gadis itu memasang kuda-kuda, kali ini mukanya beneran sebal.
"Udah, lo nggak usah main Putri-Putrian lagi. Seisi sekolah udah lupa soal Putri, kecuali si Edgar yang udah jatuh hati sama lo. Dan kecuali kalau..."
Aku menengok sedikit. "Kecuali juga, kalau proposal prom night diterima sekolah, gue yakin siswa-siswa mau Putri hadir di prom night tahun depan." Kataku. Lily melongo, tapi aku berjalan menjauh dan melambaikan tangan padanya seraya berjalan pergi. "Gue pengen berterimakasih ke lo dengan cara yang proper, Lil. Gimana, ya? Gimana kalau pas liburan kita jalan?" Tawarku sambil menoleh.
Lily menjadi agak senang. "I...iya, boleh, Ris. Yaudah, gue balik ya?" Pamit Lily.
"Okay. Dadah!" Aku melambaikan tangan dan Lily berjalan menjauh. Aku berjalan santai ke kantin sekolah, dimana Ivan dan Sal menungguku dengan tidak sabar. "Dari mana aja lo, Ris?" Tanya Ivan seolah aku anak 3 tahun yang hilang di supermarket.
"Kalian makan apa?" Aku malah bertanya hal lain.
"Cewek tadi siapa, Ris?" Sal malah bertanya hal lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Here Comes the News
Teen FictionMenjadi yang paling sempurna di lingkungan yang tidak sempurna adalah suatu ketidaksempurnaan. Rasanya, aku ingin lari dari kenyataan Bantu aku untuk DO dari sekolah neraka ini.
