"Kak, boleh minta tanda tangannya? Buat tugas MPLS hari ini suruh minta tanda tangan kakak kelas..." Shani menyodorkan secarik kertas dan pulpen padanya.
Ia menaruh buku yang ia baca lalu mengambil kertas dan pulpen dari Shani, hendak menanda tanganinya.
"E..engga disuruh apa- apa nih kak?" Tanya Shani Ragu.
Ia menatap Shani sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. Ia menulis nama lengkap dan membubuhi tanda tangan diatasnya. "Udah nih."
Shani mengangguk, menerima kertasnya kembali. Ia membaca nama yang dituliskan di kertasnya sebelum pamit untuk pergi ke yang lain.
"Eh bentar!" Ia menghentikan Shani. "Kamu udah tau nama ku kan? Nama kamu siapa kalau gitu?"
Shani sempat gugup saat memberitahunya, "S-Shani, kak. Kakak dari kelas akselerasi ya?"
"Iya. Aksel" Jawabnya.
"Shani...yaudah kalau gitu Shan. Next time kita kenalan yang lebih proper ya?" Ia tersenyum pada Shani yang membalas dengan anggukan. Tanpa ia sadari senyumnya telah menular, karena Shani beranjak pergi dengan senyum manis di wajahnya.
_
Baskara perlahan terbaring, berjajar dengan cakrawala yang terbentang lurus. Dan langit berubah dari biru menuju merah dan ungu. Mega membentuk rupa nan sempurna namun tak tertata, menciptakan garis- garis jingga yang cantik.
"Aku, sayang sama kamu. Shani." Bisiknya lembut. Sepi. Sebuah gema bergelombang di dalam telinga mereka
"Aku juga, akuu juga sayang sama kamu."
Senyum menggaris menyebrangi wajahnya bersamaan dengan matahari yang mengistirahatkan puncaknya di ufuk barat, jingga langit menggelap.
Tubuh mereka menyatu dalam pelukan penuh kasih, seakan masing- masing telah melengkapi semestanya dengan rengkuha yang abadi dalam harap mereka.
Cinta telah sampai pada tujuannya, batin mereka. Cinta ingin selalu tinggal pada labuhannya dalam cita dan bahagia.
Waktu terasa tak bergerak, semesta terhenti disekitar mereka. Mentari seakan enggan mengakhiri senjanya hari ini, ia tak ingin berpisah dengan pertemuan indah diantara dua hati yang sedang merasa suka. Ia ingin jingganya kukuh, menghiasi setiap keindahan yang akan ada dalam cerita mereka nanti.
-
"Kamu tau..."
Perlahan, ia melepas satu persatu kelopak kering bunga pinus yang ia ambil dalam perjalanan kemari tadi. "Aku dari dulu sering cerita ke bintang- bintang soal kamu."
Shani terkekeh, tiba-tiba mendengar kata-kata seperti itu dari cowok yang baru menjadi kekasihnya seminggu lalu.
"Emang kamu ngomong apa ke mereka?" Tanya Shani berpegangan pada kakinya yang ia tekuk.
Ditatapnya Shani lalu tersenyum, menatap mata cokelatnya terangnya dibawah terang bulan.
"Aku bilang ke mereka kalau kamu punya konstelasi sendiri di pipi kamu," Tatapannya mendarat di lesung pipit di wajah Shani.
Shani tertawa.
"Apa? Itu artinya apa by?"
Ia menunjukkan setengah senyum padanya, sebelum melihat ke bawah, ke bunga pinus dan memetik kelopaknya lagi.
"Aku bilang ke bintang- bintang kalau kamu punya galaksi sendiri di dua mata kamu." Ia masih tertunduk.
Senyumnya perlahan memudar.
"Aku bilang ke mereka kalau kamu sama kaya bulan, hal cantik yang suka aku liat dan aku selalu pengen jadiin punyaku. Selalu jadi yang paling terang di mataku yang segelap langit malam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Garcon Le Fleur
FanfictionHubungan kadang bisa jadi rumit, bahkan disaat kamu merasa bahwa kamu sudah sangat paham akan pasanganmu. Jadi apakah hubungan Shani dan pacarnya Gery (Gege), kakak kelas setaun diatasnya yang memiliki toko bunga sendiri itu akan baik-baik saja?
