~#~
Keyla membuka matanya, samar-samar ia mendengar langkah kaki yang sibuk berjalan kesana-kesini. Mau tak mau ia harus merelakan tidurnya dan membuka matanya. Pandangannya menangkap seseorang dengan handuk yang masih membungkus rambutnya, berdiri di hadapan cermin.
"Ish emang bener Ra, senyum lu tuh kaya ada manis-manisnya." Monolog seseorang itu, Keyla hanya menatapnya sedari tadi.
"Bae-Bae ah diabetes." Dengan suara serak khas bangun tidur, Keyla menyindir perempuan yang sedang mengeringkan rambutnya itu.
"Diabetes nya gapapa, asal bopengnya buat lu."
"Teh aya mah doanya amit-amit." Keyla bangun dari tempat tidur, melempar bantal tidur yang ia gunakan kepada perempuan tersebut.
"Jorok ih Key, bantal gua diilerin." Ujarnya saat menangkap bantal yang di lempar Keyla.
"Itu tuh balesan semesta karena lu udah doa yang ga baik buat gua. Lagian mana ada gua ngiler." Keyla beranjak keluar kamar, lalu kembali lagi dengan segelas air putih.
"Dia yang doain buruk duluan, dia yang fitnah balik, dasar si Keylong." Desis Lara, tepat saat Keyla sudah kembali.
"Eh Teh, denger ya gua." Ujar Keyla duduk di samping Lara yang hampir selesai berdandan.
'Teh Aya' anak dari kakaknya Nenek Keyla. Namanya Lara, Keyla menganggapnya sebagai kakak dan teman berbicara. Keyla sangat akrab dengan Lara, tapi akhir-akhir ini banyak hal yang membuat mereka berdua sulit untuk bertemu, jangan lupakan Keyla yang baru masuk kuliah, itu cukup menyita waktunya dan Lara yang selalu pergi keluar kota, karena suatu kepentingan.
Seperti saat ini, Keyla datang kerumah Lara kemarin sore, tapi tidak menemukan perempuan yang ia panggil Teteh itu dan pagi ini, ia menemukannya, namun terlihat jika perempuan itu akan kembali pergi.
"Lu mau ngapain sih Teh? Sepagi ini?" Keyla menunggu jawaban Lara, tapi perempuan itu diam beberapa saat. Keyla kembali meneguk air putih yang tadi dibawanya, hingga perkataan Lara membuatnya tersedak.
"Mau interview di Jakarta."
"Uhuk..." Ia terkejut, padahal ada beberapa hal yang ingin ia ceritakan. Apa ia harus menundanya? Lalu pada siapa ia harus bercerita.
"Pelan-pelan ih minum teh." Dengan sedikit logat Sunda, Lara berbicara memperingati Keyla.
"Air putih ini, bukan 'teh'" Keyla membuat lelucon seakan menghibur dirinya sendiri.
"Yaudahlah sakarepmu Keyla." Monolog Keyla lagi, saat tak mendapat respon apapun dari Lara.
"Lu kalo ngejokes garing sih Key, asli. Hahahaha"
"Tapi lu ngakak, aneh." Kesal Keyla pada Tetehnya ini, ia meneguk kembali air putih yang tersisa setengahnya. Keheningan menyelimuti keduanya beberapa saat.
"Serius Teh, mau ke Jakarta?" Tanya Keyla lagi, memecah keheningan.
"Seriusan Key, kenapa gitu?"
"Pulang kapan?" Padahal baru saja bertemu, tapi harus kembali berpisah. Ada perasaan tak rela dalam hati Keyla.
"Sorean atau malem mungkin," Lara menatap Keyla. "Nginap sehari lagi, biar bisa curhat." Ujarnya lagi, Keyla menggeleng kuat.
"Ogah, udah dari kemarin sore dimari. Lu nya baru balik malem banget dari Bandung. Pacaran terus." Cecar Keyla.
"Lah ko ga ngabarin." Lara duduk menatap Keyla serius.
"Tadinya biar surprise, Teh Aya nya ga balik-balik."
"Gaya sih pake surprise segala."
"Iya malah gua yang di surprisein." Lirik Keyla, nada suaranya terdengar sendu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Together But Not Forever
Teen FictionTOGETHER BUT NOT FOREVER 1Juni 2021 ***** Cinta itu tentang Tuhan yang mempertemukan 2 manusia. Yang menjadi unik, cinta itu hal yang sederhan namun terkesan istimewa. *"Semakin banyak cinta, semakin banyak kebahagiaan."* "Cinta seperti apa yang...