2.1 Prinsip Sialan

215 226 63
                                    

  "Katanya sebentar." Dengus Keyla, ia mulai bosan dengan menunggu. Ia berdiri dari duduknya, menyimpan ponselnya kedalam ransel dan ransel coklatnya ia letakkan di sofa ia duduki tadi. Ia berjalan keluar, bengkel sudah sepi tidak ada lagi pelanggan, hanya ada dua laki-laki yang keyla tahu salah satunya adalah teman Rakan, Noval dan satunya lagi adalah karyawan di bengkel tersebut. keduannya sedang membereskan bengkel.

  "Val, lu liat Rakan kemana?" Tanya Keyla kepada Noval, teman Rakan.

  "Dia lagi dikamar kecil, mungkin lagi bersih-bersih." Ujar Noval.

  "Oke, makasih." Ujar Keyla.

  Seorang perempuan masuk kedalam bengkel tersebut, Keyla tau perempuan itu, karena Rakan pernah memperlihatkan foto perempuan itu kepada Keyla. Perempuan dengan rok selutut dan sepatu high heels hitam, mendekati Keyla.

  "Dimana Rakan?" Ujar perempuan tersebut.

  "Dikamar kecil." Ujar Keyla menjawab pertanyaan perempuan itu, dimana perkataan yang terlontar tidak ada basa-basi nya, bahkan perempuan itu tidak mengucapkan salam atau permisi. Perempuan itu menatap Keyla.

  "Akhirnya gua ketemu juga sama lu." Ujar perempuan itu lagi, Keyla mengangkat satu halisnya.

  "Ga usah berlaga polos, lu yang nyuruh Rakan buat mutusin gua kan. Lu ngadu kalo gua labrak lu lewat telpon." Ujar perempuan itu yang tak lain adalah mantan kekasih Rakan, Niki.

  "Gua ngadu?" Keyla menunjuk dirinya sendiri.

  "Iya lu, dasar bicht." Sambil berujar, Niki melayangkan tangannya untuk menampar Keyla, tapi Keyla lebih dulu menahannya. Saat itu Gilang datang dan mendekati keduanya.

  "Awalnya gua simpati sama lu, awalnya gua kira lu cuma cewe baik-baik yang terhasut oleh kecemburuan. Tadinya gua mau bilang Rakan buat ga mutusin lu, tapi pilihan Rakan benar." Ujar Keyla, lalu melepaskan pegangannya pada lengan Niki, Keyla berbalik, berniat pergi.

  "Urusan kita belum selesai." Ujar Niki, membuat Keyla mengurungkan niatnya.

  "Urusan lu sama Rakan bukan gua." Ujar Keyla.

  "Jelas urusan gua sama lu, seharusnya lu itu ga usah hidup didunia ini, lu ga usah ada dikehidupan Rakan, lu itu penghalang cinta Rakan." Ujar Niki, Keyla yang mendengarnya kembali berbalik, lalu tersenyum kepada Niki.

  Detik selanjutnya, Keyla menarik kerah baju Niki, hingga perempuan itu harus berjinjit meski ia memakai sepatu higt heels, nafasnya terengah-engah.

  "Key." Gilang memegang tangan Keyla, tapi ia tidak bisa melepaskan pegangan Keyla pada kerah baju Niki, pegangannya terlalu kuat. Gilang takut melukai Keyla, jika memaksa melepaskannya.

  "Cuma diri gua sendiri yang bisa menyesali kehidupan gua, lu ga berhak buat menyesali hidup gua." Ujar Keyla penuh penekanan.

  "Keyla." Tubuh Keyla tertarik kebelakang, Rakan menarik Keyla dari belakang. Sedangkan Niki ia terjatuh, dengan terbatuk-batuk.

  "Lepasin gua anjing." Keyla langsung melepaskan tangan Rakan yang berada di bahunya, berbalik menghadap Rakan dan mendorong laki-laki itu agar menjauh dari dirinya.

  "Keyla." Panggil Rakan, karena ia melihat Keyla yang berbeda.

  "SEMUA KARENA LU KA, KARENA LU!" Keyla berteriak kepada Rakan, wajahnya memerah seakan menahan sesuatu agar tidak meledak.

  "Udah gua bilang kalo prinsip sialan lu itu menjadikan gua penghalang lu." Ujar Keyla.

  "Niki udah gua bilang buat ga nemuin gua lagi." Rakan mengabaikan perkataan Keyla.

Together But Not Forever Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang