°•°
Setelah pulang sekolah dinda langsung pergi ke cafe menaiki angkot yang biasa dia pake.sesampainya dinda di cafe dinda turun dari angkot dan memasuki cafe dan berjalan ke sebuah ruangan yang bertulisan ruang ganti, setelah berganti pakaian dinda langsung membersihkan meja meja yang kotor setelah meja terlihat bersih dan rapi dinda pergi ke dapur untuk menyuci piring kotor.
"Din biar kakak aja yang nyuci piring kamu nyatat pesanan aja" ujar sinta yang sepertinya baru datang dari depan.
Dinda menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah depan dan langkahnya terhenti karna ada yang memanggilnya.
"Dinda" ucap mirna.
"Eh iya tan ada apa ya"
"Itu kamu catat pesanan di meja nomer 16 ya"
"Iya tan"
Dinda berjalan menuju meja nomer 16 sembari membawa catatan.
Deg
Dinda menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang berada di meja nomer 16.
"Eh ada si miskin! lo kerja disini ya" ucap bella.
"Kasihan ya masih muda dah kerja" selly.
"Dia kan gak punya uang jadi harus kerja keras" nabila.
"Cewek kampung kayak lo juga gak pantes kerja di cafe mewah kek ginilo itu cocoknya jadi pengemis haha" bella dkk tertawa mengejek kepada dinda.
Dinda yang mendengarkan itu hanya bisa mengepalkan tangan hingga memberanikan untuk angkat suara.
"Mau pesan apa ya" ucap dinda mencoba menahan emosinya.
"Apa aja asal yang mahal" nabila.
"Oh iya minumannya juga yang mahal ya" sambung nabila.
"Baik tunggu sebentar" ucap dinda segera meninggalkan meja itu.mengirimkan pesanan mereka ke chef cafe.setelah makanan mereka selesai dikerjakan,dinda lah yang mengantarkan pesanan bella dkk kemeja nomer 16 itu,sebenarnya dinda sangat malas apalagi berurusan dengan bella dkk tapi ini adalah konsekuensi dari pekerjaannya itu jadi mau tak mau dinda mengantarkan pesanan bella.
"Ini pesanannya selamat menikmati" setelah menaruh makanan dia atas meja dinda berbalik badan ingin meninggalkan bella dkk.
"Tunggu" cegah bella.
"Kita belum bermain anak miskin" bella.
Bella mengambil minuman yang ada dimejanya dan mengguyur dinda dengan minuman itu dan bella dkk tertawa membuat para pengunjung ikut melihat kearah mereka.
Dinda yang kini basah kuyub hanya bisa menunduk dan pasrah atas perlakuan bella dkk.
Tidak hanya minuman dingin yang menyentuh badan dinda kini nabila juga ikut menumpahkan makanan berkuah panas pada tubuh dinda.
Lagi lagi dinda hanya mendengarkan tawaan bella dkk tetapi dinda hanya bisa diam menahan emosi dan mengepalkan tangannya.
Selly mendorong badan dinda hingga dinda tersungkar di lantai.tidak hanya di dorong,rambut dinda juga di tarik oleh bella hingga dinda merintih kesakitan.
Selly juga membantu bella menahan tangan dinda agar tidak memberontak dan nabila sesekali menampar dinda.
"Gue bisa benci sama lo kuman" ucap bella.
Setelah puas dengan perbuatan yang mereka akhirnya bella dkk pergi meninggalkan cafe.
Mirna dan sinta menghampiri dinda yang masih terduduk dan menunduk sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu gak papa din" ucap cemas mirna.
"Gak papa kok tan" lirih dinda sambil tersenyum.
"Maaf ya din tadi kakak gak bisa nolong kamu soalnya tadi yang bully kamu itu anak dari penilik cafe ini" ucap sinta.
Mendengar itu dinda melamun dan memikirkan sesuatu.
Om farhan adalah pemilik cafe ini~batin dinda.
"Din kok malah bengong"
"Eh iya kak gak papa kok"
"Yaudah yuk ganti baju dulu" mirna dan sinta mengantarkan dinda ketempat ganti.setelah selesai ganti dia keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Din kenapa tadi kamu gak lawan bella" ucap sinta.
"Dinda gak punya apa apa buat lawan bella kak lagian bella juga anak dari pemilik cafe ini" ucap dinda.
"Yasudah yuk lanjut kerja"
°•°
Dinda duduk di depan jendela kamarnya sembari manatap keatas melihat bintang bintang.
"Ayah bunda dinda kangen tapi dinda gak bisa ngelakuin apa apa kecuali mendoakan kalian" lirih dinda dan meneteskan air mata.
"Haruskah dinda bertemu orang gila harta itu lagi"
"Dinda gak tau gimana kehidupan dinda kedepannya tapi bolehkah dinda nyusul kalian kalo dinda sudah gak sanggup menjalani hidup? Pasti nanti kita akan menjadi keluarga bahagia di sana" sesekali dinda mengusap air matanya dengan kasar.
"Dinda tidur dulu ya yah bun bye" ucap lirih dinda yang berusaha menahan tangisnya dan mencoba untuk tersenyum.
°•°
KAMU SEDANG MEMBACA
TEDUH
Tienerfictie••• Seorang gadis berumur 8 tahun harus kehilangan kebahagiaannya karna iblis yang gila harta.dinda yang sewaktu kecil hidup enak dan bahagia kini dia hanya bisa bersabar atas penderitaanya.tidak memiliki tujuan hidup dan harus bekerja keras u...
