"Mas, cimolnya satu lagi, dong. Tapi nggak usah pakai kentang, ya," ucap Rara sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Si penjual cimol mengangguk lantas membuatkan pesanan milik Rayadinata yang sibuk bersenandung di balik pagar pembatas antara area kampus dengan jalanan. Sebenarnya Rara bisa saja berjalan keluar dan mendekati gerobak cimol itu, hanya saja dia malas jika harus berjalan kembali ke area parkir di tengah teriknya matahari hari ini.
Setelah membayar dua bungkus cimol pesanannya, Rayadinata kemudian membalikkan badan dan berjalan menuju mobil Suzuky Katana warna hijau botol dengan plat area Bantul yang belum lama terparkir di depan Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Membuka pintu, ia langsung menyodorkan cimol tanpa kentang goreng ke arah Hendrasaka alias Hendy, teman satu fakultasnya.
"Thanks."
"Yoi," jawab Rara sembari menutup pintu. "Kaya sama siapa saja."
Hendy, seperti biasa, merespons dengan ekspresi terperangah yang berlebihan, seolah kawannya baru saja terlibat skandal yang akan mencoreng nama baik cimol langganan mereka. "Lho? Itu namanya basic manner, keles. Apa kata Pak Anto kalau tahu anaknya nggak paham basic manner?"
"Nyenyenye. Udah ah, ayo cabut."
"Keburu-buru banget emang kenapa sih, Non?" Mengaduh karena langsung dicubit pinggangnya oleh Rara, Hendy buru-buru memohon ampun. "Ini mau ke Gramedia Sudirman apa yang di mall?"
Rayadinata berpikir sesaat. "Sudirman aja, deh, yang lebih lengkap."
──●◎●──
Rasanya tidak adil kalau Hendy hanya dibelikan cimol setelah mengantarnya ke Gramedia (di mana Rara berakhir tidak membeli apa-apa karena harga buku self-improvement kesukaan ayahnya tidak sesuai dengan isi dompet di akhir bulan). Akhirnya Rayadinata memutuskan untuk mentraktir satu-satunya orang yang ia anggap sebagai teman dekat di kampus itu di warung bubur kacang hijau dan mi instan yang lokasinya berada di sebelah timur Galeria Mall.
"Kamu suka dengerin radio kampus nggak, Hen?" tanya Rara tiba-tiba. Matanya memperhatikan Hendrasaka yang masih mengunyah mi dok-dok rebus ekstra pedas yang ia pesan bersama segelas kopi instan dengan es.
"Neo Radio, maksudnya?"
"Ya ... iya? Ngapain juga ngomongin radio kampus lain?"
"Santai aja dong, jawabnya." Hendy langsung berkelit ketika cuilan bakwan dilemparkan Rara kepadanya. "Aku jarang dengerin siaran mereka, sih. Paling sering program musik yang jam tujuh malem itu, sambil dengerin lagu juga 'kan. Nilai plus-nya sih, penyiarnya Mbak Tika yang anak Manajemen itu."
"Mbak Tika?"
"Kakak pendamping kelompok kita pas ospek kampus itu lho, yang mukanya judes tapi kalau senyum malah mirip bakpao Bethesda; gemesin."
Mulut Rayadinata membentuk 'o', baru paham siapa yang dimaksud Hendrasaka. Benaknya mengingat kembali pada sosok Justika atau Tika, mahasiswi angkatan 2014 yang selalu bersikap manis pada anak-anak asuhnya bahkan setelah masa ospek berakhir. Wajahnya yang bulat dan chubby dengan mata seperti kucing memang hadir di antara jajaran para anggota UKM radio sewaktu sesi perkenalan.
"Eh, ngomongin Mbak Tika, dia kayanya udah ada pawangnya, lho. Jangan ngadi-ngadi." Tentu saja Rara pun jadi teringat pada pria dengan lengan penuh tato yang pernah menjemput Tika selepas kegiatan dinamika kelompok mereka. Pria rupawan yang mampu membuat wajah kakak tingkatnya itu merona merah tatkala ia mengulungkan pelindung kepala pada Justika sebelum mereka melaju pergi membelah Jalan Affandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Midnight
HorrorI thought everything was normal, until I realized how wrong I was. - Bathed in Fear, 002. © 2021 nebulascorpius
