16. Perpisahan

28 1 0
                                        

"Hendy ...."

"Ibun, maaf. Hendy mohon ampun sama Ibun." Dekapannya semakin erat, dengan kepala kian tenggelam dalam pundak sang ibunda, membiarkan cairan bening terus mengalir dari sudut matanya. "Maaf, maaf."

Lestyana Septikasari tak luput dari dukanya sendiri. Ia meremas bahu putra semata wayangnya, menghirup aroma apel hijau dari rambut Hendrasaka yang kini sudah dipangkas lebih pendek; berusaha menjebak aroma sampo tersebut supaya bisa ia kenang sampai ia mati.

Sebab, Septi bukanlah perempuan naif.

Dia tahu ini merupakan sebuah perpisahan.

"Hendy." Septi tersedak ludahnya sendiri, kesulitan untuk mengungkapkan kata-kata penenang bagi sang putra. "Le, Thole, dengerin Ibun baik-baik. Ibun nggak pernah maksa kamu untuk mengikuti jejaknya Eyang. Kalau memang ini jalan yang kamu pilih, atau yang mungkin memang ditakdirkan Tuhan untuk kamu, Ibun nggak apa-apa. Ibun tetap sayang sama kamu. Kamu tetaplah anaknya Ibun, kebanggaannya Ibun."

Tangannya dengan lembut menangkup wajah sang putra yang sudah basah akan bulir-bulir air mata yang terus turun. Hidung mancung Hendy memerah, Septi bisa melihat ingus mengancam turun dari salah satu lubang hidungnya. Tak dapat menahan diri, puan yang sudah tak lagi muda itu pun tertawa disela tangisnya. Gelak tawa yang malah terdengar menyedihkan jika didengar oleh khalayak, sebab terasa begitu getir bahkan tanpa mereka icip.

Septi kecup dahi putranya, lama sekali, kemudian menyapu jejak tangis yang mewarnai pahatan indah pada wajah manusia yang ia lahirkan belasan tahun silam.

Wajah yang akan selalu mengingatkan Septi pada seseorang yang memorinya sudah ia kubur dalam-dalam.

"Ibun cuma pesen satu hal saja sama Hendy. Meskipun kamu nanti berada dalam lingkaran ..." Septi menelan ludah, tak mampu menyebutkan nama makhluk jahanam itu secara gamblang. Septikasari benarlah orang biasa, tetapi dia merupakan satu di antara manusia yang pernah mendengar nama mengerikan tersebut. "... yang berbeda, kamu tetaplah manusia. Jadilah manusia yang lebih baik dari Ibun, Eyang Kakung, juga ... dia."

"Bun–"

Hendy bisa melihat ibundanya menggigit bibir, kembali menahan tangis. Sejujurnya, Septi tidak akan rela kalau jalan kehidupan keluarganya menjadi seperti ini. Setelah semua hal yang dia lalui, membesarkan Hendrasaka yang rupanya dikaruniai kepekaan lebih tinggi ketimbang insan pada umumnya, Septi tidak pernah membayangkan pada akhirnya ia harus terpisah dari putranya dengan cara yang sekejam ini.

Namun, bayang-bayang akan wajah lesu dara yang sebaya dengan putranya kembali menghantui Septikasari tanpa ia mau. Mata yang sembab karena terlalu sering menangis, bibir pucat dan kering sebab lama tak menyegarkan kerongkongannya dengan air minum, rambut yang diikat sembarang saja tetap terlihat meski ia tutup dengan scarf berwarna hitam; semua Septi saksikan tatkala ia turut menemani Hendy melayat ke rumah perempuan yang Septi kenal sebagai teman dekat anaknya selain Juantama dan salah seorang lagi, yang kini berada di luar kota.

Septi sudah mendengar penjelasan Hendy mengenai apa yang terjadi pada Rara.

Septi, meski tidak se-"hebat" keluarganya, sudah menangkap betapa berbahayanya pemuda bersurai cokelat kehitaman yang membaur di antara para pelayat. Air mukanya tak terbaca, gerakannya begitu luwes menyelinap di tengah lautan manusia yang tak menyadari bagaimana raut wajah Rayadinata langsung menegang bersamaan dengan pemuda bernama Heksa itu sudah berdiri tidak jauh darinya juga Julianto Sudjatmiko.

Seolah mengingatkan gadis tersebut untuk menjaga sikap, sebab selamat atau tidaknya nyawa Julianto berada di tangan pemuda itu.

Ini keputusan besar, benar. Keputusan yang akan menghancurkan keluarga Septikasari dalam sekejap, yang akan membuat Hendy langsung didepak oleh kakeknya dari naungan penuh kasih sang ibu. Namun, seperti yang berulang kali Hendrasaka tekankan pada ibu juga pria berusia senja yang ia sapa "Eyang Kakung" itu dalam perdebatan panas mereka bertiga beberapa malam terakhir, Rara adalah satu dari sekian contoh di mana manusia biasa terjebak dalam permainan makhluk terkutuk itu.

Mengingat kembali alasan kenapa Rara bisa berada di situasi tersebut, membuat hati Septi tersayat-sayat. Rayadinata, sama seperti Hendrasaka, tidak sepantasnya berendam dalam kubangan penuh dosa yang bahkan bukan mereka penyebabnya.

Selamanya anak-anak itu akan terkekang dalam jilatan api neraka tanpa mereka mau.

"Hendy," ucap Septi sembari mengulum senyum. "Apa pun keputusan kamu nanti, selama kamu masih menjadi manusia yang baik, Ibun akan bantu kamu sebisa mungkin. Ibun akan selalu mengulurkan tangan buat kamu, bagaimana pun caranya, selama kamu bisa memenuhi permintaan Ibun tadi.

"Janji ya, Hen? Ibun cuma minta itu saja sama kamu, bisa 'kan?"

"Bisa, Bun."

After MidnightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang