11. Tak Sesuai Rencana

93 16 1
                                        

Radio itu sudah dibawa pergi oleh Arsadinata dan akan dibuang entah ke mana, meninggalkan Rara sendirian di dalam kamar dengan segala macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya.

Jadi, semua pengalaman mistis yang diceritakan di program radio itu sesungguhnya merupakan pengalaman Rara sendiri? Lalu, dari mana DJ Heksa tahu tentang cerita-cerita Rayadinata? Cerita yang, menurut opini Yera, hanya diketahui oleh mereka berdua dan teman-teman satu kos selama PKL. Kecuali kalau Rara pernah menceritakan kisah di luar nalar itu pada orang lain, seperti Arsa, Julianto, atau Hendy.

Sebelum Arsa pergi, dia sendiri sudah mengonfirmasi kalau hanya ia seorang yang mengetahui cerita tersebut di kediaman keluarga Sudjatmiko. Rara pernah bercerita kepadanya di suatu malam ketika mereka berdua harus tinggal di rumah tanpa sang ayah yang sedang mengantar barang ke luar kota. Julianto, sepengetahuan Arsa, tidak pernah tahu soal pengalaman mistis yang dialami putrinya.

Meski tidak bertanya, Rara yakin benar kalau Hendy juga tidak tahu-menahu soal masa lalu Rayadinata di bangku SMK.

Apakah ini semua ulah teman-teman magangnya? Rasanya tidak mungkin. Terlalu kelewatan jika mereka semua berkomplot hanya untuk menjahili Rara seperti ini. Dari enam orang siswi, dua termasuk Rara dan Yera, empat lainnya tidak melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi dan langsung terjun ke dunia kerja. Sesuai obrolan mereka di telepon beberapa jam sebelumnya, tidak ada satu pun dari mereka yang masih berdomisili di Yogyakarta. Dua sudah menikah dan diboyong suami masing-masing ke luar provinsi, satu berprofesi sebagai tenaga kerja di Hong Kong, sementara satunya lagi tetap berkarir di bidang perhotelan di luar pulau.

Mereka, seperti Yera, sama terkejutnya ketika mengetahui kalau Rara benar-benar melupakan kejadian-kejadian tak masuk akal tersebut. Salah satu dari keempatnya, yang kini tinggal di luar negeri, bahkan mengatakan kalau insiden shower curtain yang bergerak sendiri itu sukses membuat mereka berenam tak betah menjalani masa-masa magang yang hanya tersisa satu bulan lagi.

Ia embuskan napas dengan kasar, merasa frustasi sekaligus takut. Tangan kanannya meraih secarik kertas yang ia sobek dengan paksa dari binder. Di sana, tertera lima nama orang yang sempat Rara tulis untuk memikirkan kembali situasi aneh yang ia alami saat ini.

Inneke. William. Coraline. Melinda. Tora.

Rayadinata merapalkan kelima nama itu dalam hati, berusaha mengingat siapa tahu ia mengenal mereka.

Nihil.

Rara tidak mempunyai teman sekolah atau kenalan dengan nama-nama itu. Yera yang sempat ia tanyai ketika mereka masih bersama, juga tidak mengenal para pengirim surel ke Neo Radio itu.

Lantas, siapa mereka sebenarnya?

"Rara?"

Gadis itu nyaris melompat dari tempat tidur saat seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah pintu yang ternyata masih dalam kondisi terbuka, menampilkan sosok Julianto yang sedang mengenakan jaket.

"Mau ke mana malem-malem begini, Pak?"

"Mau layat ke Kalasan, mertua temennya Bapak meninggal. Kamu di rumah sendirian nggak apa-apa? Bapak tadi denger suara motornya Arsa soalnya. Pergi ke mana dia?"

"Ah, itu ... Arsa tadi pamitnya ke Kotabaru. Katanya mau beli pukis sama nasi goreng juga di deket sekolahnya Cakra."

"O, ya udah." Julianto mengangguk. "Adikmu dikabarin biar pulangnya nggak mampir-mampir; habis beli makan sama jajan terus langsung pulang."

"Bapak ke Kalasan sendirian aja?"

"Bareng-bareng kok, ngumpul dulu sama yang lain. Bapak berangkat dulu, ya?"

After MidnightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang