From: Melinda
To: neoradio@gmail.com
Subject: After Midnight
Halo Kak Heksa, namaku Melinda. Aku mau nyeritain pengalaman di luar nalar yang aku alamin akhir tahun 2015 lalu, sewaktu aku magang di sebuah hotel yang ada di Jogja.
Jadi, aku dulu sekolah di SMK dan milih jurusan Akomodasi Perhotelan. Waktu kelas 11 semester ganjil, siswa/i di setiap jurusan yang ada di sekolahku memang diwajibkan buat magang selama beberapa bulan. Ada yang cuma dua bulan, ada juga yang sampai setengah tahun. Untuk jurusanku, kami magang di hotel selama enam bulan.
Dulu tuh kelasku dibagi jadi lima kelompok per hotelnya, kebetulan kelompokku cewek semua jadi nyari kos-kosannya lebih gampang. Untungnya kami dapet tempat magang di daerah perbatasan Kota Jogja dan Bantul, otomatis harga kosnya bisa lebih miring ketimbang mereka yang dapet di tengah kota.
Awal-awal aku magang di hotel itu, ya, normal-normal aja. Seniornya juga nggak pernah cerita soal kamar yang sengaja dikosongkan atau apa. Pokoknya semua hal di hotel itu normal-normal aja.
Sampai tiba masanya di mana hotel selalu penuh, jadi Executive Housekeeper sampai harus manggil beberapa casual (karyawan kontrak per hari) karena Departemen Housekeeping kekurangan tenaga. Dari situ, aku kenal sama salah seorang casual yang namanya Mbak Dana.
Mbak Dana cerita ke aku sama temen-temen kalau aslinya dari seluruh kamar yang ada di hotel itu, ada kamar yang terkenal angker di kalangan anak-anak magang terutama mereka yang magangnya di Housekeeping, yaitu kamar nomor 25. Katanya sih, setiap ada room attendant yang make up room pasti digangguin. Biasanya beberapa benda pindah tempat atau bergerak. Nah, Mbak Dana yang dulu pernah magang di hotel itu waktu SMK juga pernah ngalamin bareng temennya.
Jujur aja, awalnya aku skeptis ketika Mbak Dana cerita. Kenapa? Soalnya kalau ada kamar yang angker pasti senior udah wanti-wanti ke juniornya 'kan? Tapi, semua senior di Housekeeping nggak ada omong apa-apa. Area hotel yang terkenal angker cuma daerah laundry sama family room yang lokasinya beda gedung sama kamar itu, dan anak -anak magang jarang ke dua tempat itu jadi para senior merasa nggak perlu buat cerita.
Singkat cerita, peak season yang mengerikan di hotel akhirnya berakhir. Semua staf di Housekeeping punya jeda dua hari sebelum dapet reservasi rombongan turis sebanyak dua bus. Kalau diinget-inget, ngeri juga ngurus kamar hotel segitu banyak. Kebetulan waktu itu aku sama salah satu temenku (let's just call her Lulu) dapet jatah buat ngurusin kamar dari nomor 14 sampai 26.
Iya, nomor 14 sampai nomor 26. Jadi, aku sama Lulu waktu itu ditugasin buat ngurus kamar nomor 25 yang katanya Mbak Dana angker, hehehe.
Tadinya, Lulu udah nggak mau disuruh make up room nomor 25. Maklum, soalnya dia penakut banget. Ditinggal belanja ke toserba aja kalau dia sendirian di kosan nggak mau, milih ikut sampai harus bonceng tiga kaya cabe-cabean, yang penting dia nggak sendirian. Karena aku nggak mau dia takut mulu terus keburu-buru make up room-nya, akhirnya aku nawarin gimana kalau kita berdua mulai dari nomor 26 dan seterusnya, sampai kamar nomor 14 yang terakhir. Dia setuju, karena waktu itu masih pagi, jadi nggak mungkin ada hantu 'kan?
Kamar 26 aman, nggak ada gangguan apa-apa, dan itu bikin kita berdua lega. Awal-awal make up room di kamar 25 juga aman, meskipun aku pribadi udah ngerasa nggak enak dari awal masuk. Tapi aku nggak berani bilang apa-apa ke Lulu, nggak mau dia makin parno. Siapa tahu itu cuma sugesti saja setelah denger cerita dari Mbak Dana.
Kita udah hampir selesai make up room, dan aku terus-terusan berdoa dalam hati biar lancar kegiatannya sampai kita pindah ke kamar nomor 24.
Tapi doaku ternyata nggak manjur.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Midnight
TerrorI thought everything was normal, until I realized how wrong I was. - Bathed in Fear, 002. © 2021 nebulascorpius
