08. Gundah

83 15 0
                                        

Semesta sepertinya tidak sedang berpihak pada Rayadinata hari ini.

Sebelum berangkat ke kampus, gadis bersurai hitam itu dibuat senang karena mendapat kabar dari temannya semasa SMK dulu, Yera Pradana, kalau dia sedang berada di Tanah Air dan berniat untuk bertemu dengan Rara. Suasana hatinya sangat baik sampai jam makan siang tiba.

Kalau bukan demi ayam gongso kesukaannya, Rara sudah pasti akan menghindari Hendy yang saat ini duduk di hadapannya. Kantin yang berlokasi di dekat gedung rektorat dan perpustakaan itu sedang cukup ramai dipenuhi mahasiswa, termasuk Rara dan Hendy yang saat ini terlihat canggung satu sama lain. Padahal, biasanya mereka akan bercanda atau sibuk berbagi gosip sambil menyantap makanan yang mereka pesan.

"Masih marah?" tanya Hendy setelah Rara menghabiskan makan siangnya.

"Menurutmu?" Rayadinata balik bertanya dengan ketus.

Sebenarnya, Rara bukanlah tipe orang yang bisa mendiamkan teman atau orang terdekat setelah berselisih paham lebih dari 12 jam, tapi entah mengapa ia merasa sangat kesal setelah percakapannya dengan Hendy kemarin.

"Aku mau ngomongin sesuatu yang ada sangkut pautnya sama topik obrolan kita kemarin, Ra. Aku mau buktiin kalau aku sama sekali nggak bohong ataupun usil."

Rara langsung memutar kedua bola matanya. "Kalau cuma mau bahas itu lagi–"

Hendrasaka buru-buru mencengkeram pergelangan tangan Rayadinata yang sudah berniat untuk pergi dari sana. "Duduk dulu, habis ini baru boleh pergi."

Terpaksa ia menuruti ucapan temannya itu, dan Hendrasaka mulai menceritakan kembali percakapannya dengan Tendraditya beberapa jam sebelumnya.

"Dan sebelum kamu denial lagi, aku ngerekam penjelasannya Mas Adit." Hendy mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Dengerin baik-baik."

"Emang perlu banget direkam gini, ya, Hen?" Suara yang sama dengan yang biasa Rara dengar di program Night Chit Chat mulai menyapa telinganya, disertai suara ponsel diletakkan di suatu tempat. Meski terdengar ketus, berbeda dari biasanya, tapi ini jelas suara DJ Adit, tak bisa Rara pungkiri. "Emang ada apa, sih? Heksa itu siapa?"

"Nggak usah kepo, ah. Pokoknya Mas Adit jelasin lagi program-program di radio kampus sama penyiarnya."

"Gimana nggak kepo kalau sampai direkam begini?" Adit terdengar dongkol. "I deserve seenggaknya satu penjelasan, dude."

"Besok."

"Janji?"

"Janji tapi nggak detail."

"Well, that's enough for me." (Yah, itu cukup.) Terdengar suara gesekan alas kaki pada halaman berkerikil. "So, Neo Radio itu punya tiga segmen: morning, afternoon, sama evening to night. Segmen morning ada Neo Sunshine sama Brunch with Us. Ada empat DJ yang siaran di segmen pagi, salah duanya Mbak Winnie angkatan 2013 sama Arel anak 2014. Segmen afternoon juga ada tiga program dengan dua penyiar, salah satunya si Braham yang temenan sama kapten basket SMA Jaya Pramanda itu. Tahu 'kan yang mana orangnya? Nah, segmen evening to night ini yang lumayan banyak penyiarnya. Abel, adiknya pacar Mas Jojon, pegang program Pentas Tak Bersua bareng teman satu angkatanmu."

"Ih, siapa?"

"Flo."

"Ah, yang suaranya bagus banget itu? Anak Neo Radio juga ya, dia? Malah baru tahu aku, Mas."

"Dia juga adiknya si Arel yang handle segmen pagi tadi. Selain dua orang itu, cuma aku sama Tika; aku di Night Chit Chat, Tika di prime time-nya Neo Radio alias Music in Your Area. Kalau kamu sempet ngalamin, sebelumnya dua program itu dipegang sama Mas Yuda dan Mas Bona."

After MidnightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang