13. Bernostalgia

121 15 0
                                        

"Kita pertama kali ketemu belasan tahun lalu, tepatnya di salah satu jalur hiking Pegunungan Menoreh. Aku waktu itu jalan-jalan sama kakakku, Mbak Hayu, yang masih SMA. Mungkin bagi orang awam, Mbak Hayu terbilang nekat karena berani hiking cuma sama anak kecil, tapi temen dia udah memastikan kalau rute yang kami lalui itu nggak berbahaya sama sekali—selama kami tetap berada di jalur. Sialnya, karena aku sering berhenti di jalan buat lihat sana-sini, aku nyasar. Bayangin, Ra, anak SD nyasar di hutan.

"Aku berusaha nyari Mbak Hayu sebisa mungkin, teriak-teriak manggil namanya walaupun yang kudenger cuma gema suaraku sendiri. Aku nangis, mana waktu itu udah mendung gelap. Aku mau ketemu Mbak Hayu, aku mau pulang. Aku nyesel waktu itu maksa dia buat hiking ke Pegunungan Menoreh cuma karena aku merasa iri setelah denger cerita temenku yang habis hiking di sana juga bareng kakaknya.

"Sampai aku nemuin bapak-bapak yang lari ke pinggir jurang dan nyelametin anak perempuan yang hampir jatuh ke sana. Anak perempuan itu nangis, lengannya luka-luka sambil teriak manggil papanya ke arah jurang, sedangkan si bapak-bapak nahan dia supaya nggak nekat ikut turun.

"Aku lihat bapak-bapak itu gendong si anak perempuan. Aku akhirnya berjalan deketin mereka tepat saat gerimis mulai turun. Si bapak kaget karena aku tiba-tiba muncul, sedangkan anak perempuan yang dia gendong masih histeris.

"Aku minta tolong sama dia buat nganterin aku ke bawah, siapa tahu Mbak Hayu udah di sana 'kan? Tapi kamu tahu 'kan, Ra, cuacanya lagi hujan. Otomatis jalur yang harus dilalui pasti lebih licin. Berhubung si anak perempuan ini masih histeris, bapak itu nggak punya pilihan lain selain nolongin salah satu di antara mereka berdua.

"Udah bisa nebak 'kan siapa yang dia pilih?

"Benar, si anak perempuan inilah yang dia pilih untuk diselamatkan lebih dulu, karena ada risiko dia bakal lari nyusul papanya yang udah jatuh ke jurang. Meskipun bapak-bapak itu janji sama aku kalau dia bakal balik lagi setelah nganterin si anak perempuan ke pos terdekat, aku tetap sakit hati. Aku ditinggal, Ra. Aku ditinggal sendirian di hutan dalam kondisi hujan.

"Aku ditinggal gara-gara kamu histeris nangisin orang tua yang jelas udah nggak bisa ditolongin, paham?"

Heksandriya menghentikan monolognya, kembali mengusap pipi Rara.

"Hujannya tambah deres, aku kedinginan. Aku tetep teriak-teriak di hutan meskipun rasanya mustahil bakal ada yang nanggepin.

"Tapi, aku salah. Ada yang nanggepin teriakanku, Ra. Aku denger suara Mbak Hayu, dan menurut insting seorang bocah, tentunya aku bakal ngikutin arah sumber suara itu 'kan? Kuikutin, Ra, dan tanpa sadar aku udah ngelewatin sesuatu yang tak kasat mata."

Rayadinata melotot, menatap Heksa tak percaya sekaligus ngeri.

"Iya, aku malah masuk ke dimensi lain; tempat di mana aku bisa ngelihat kalian tapi kalian nggak bisa ngelihat aku. Bayangin, setelah aku masuk ke dimensi itu, hujannya berhenti. Aku lihat banyak penduduk sama tim penolong nyariin aku; lihat bapak-bapak asing itu kelihatan capek dan khawatir, lihat Mbak Hayu udah nangis sambil teriak manggil namaku sampai suaranya parau.

"Padahal aku jelas-jelas ada di depan dia, berusaha manggil dia juga.

"Dan gara-gara kejadian itu, Mbak Hayu disalahin dan dirundung orang tua dia sendiri. Aku lihat itu semua, ngelihat gimana mata kakakku bengkak berhari-hari karena kebanyakan nangis. Badannya makin kurus karena dia nggak nafsu makan sama sekali, merasa bersalah atas menghilangnya aku.

"Sampai dia hampir nyerah karena tekanan keluarga, tapi berhasil ditolongin sama salah satu temennya yang nggak pernah nyalahin dia. Telat sedikit aja, Mbak Hayu beneran mati kayanya.

After MidnightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang