From: Utari
To: neoradio@gmail.com
Subject: After Midnight
Hai, namaku Utari. Di sini aku mau berbagi pengalaman mistis singkat yang terjadi di rumahku sendiri beberapa hari lalu. Nggak begitu menakutkan sih, tapi aku masih kepikiran sampai sekarang karena saking anehnya.
Jadi, setiap pintu rumahku yang langsung mengarah ke luar rumah itu selalu punya kunci ganda: kunci biasa dan kunci gerendel.
Suatu ketika, aku yang lagi sendirian di rumah lihat kalau pintu depan rumahku dalam posisi terbuka. Padahal, aku seharian nggak pegang-pegang pintu itu dan 20 menit sebelumnya aku lihat pintu itu tertutup rapat.
══════════════════
Pintu depan rumah Rayadinata terbuka. Menampilkan sosok mengerikan yang langsung Rara kenali dari pakaiannya.
"M- Mbak."
Bajunya bersimbah darah. Kepalanya? Tak karuan. Rambut Arsa yang biasanya terlihat sehat dan cukup tebal kini lengket karena darah yang terus mengucur dari sisi kanan kepalanya.
"M- Mbak R- Rara."
Gadis itu menjerit, secara refleks menghindari tangan Arsadinata yangterulur ke arahnya. Ia berlari, mengunci diri ke dalam kamar. Pintunya iagerendel dengan tangan bergetar, dan Rara melangkah mundur menjauhi pintu.Pipinya basah, dadanya mulai sesak, tapi ia tidak bisa mengeluarkan suara apapun.
══════════════════
Itu baru pengalaman yang pertama. Pengalaman kedua sebenernya bukan aku yang ngalamin, tapi ibuku. Jadi, kami punya dua pintu yang mengarah ke halaman belakang. Cuma pintu dari arah dapur yang sering dibuka. Pintu satunya cuma dibuka kalau ada acara tertentu.
Perlu diingat, pintu itu terakhir dibuka beberapa bulan lalu dan memiliki tiga kunci gerendel yang jauh lebih kuat ketimbang pintu depan rumah.
Jadi, waktu itu ibuku lagi nyari kucing yang nggak kelihatan di teras rumah. Ibuku nggak sengaja lihat kucing itu duduk diem di deket pintu yang aku ceritain sebelumnya. Pas dideketin, ibu baru lihat kalau pintu itu juga dalam posisi terbuka. Kucingku yang ditemuin ini juga kaya ngeliatin ke arah pintu itu terus.
Aku pernah denger rumor, kalau kucing itu bisa melihat atau merasakan keberadaan 'mereka'. Terus, gimana kalau kucing dalam ceritaku ini diganti sama manusia? Apa dia juga bisa ngelihat siapa yang bakal buka pintu kamarnya yang udah digerendel?
══════════════════
Memejamkan matanya erat-erat, Rayadinata bisa mendengar suara pintu yang terbuka, yang ia tahu benar kalau itu suara pintu kamarnya sendiri. Ia takut untuk melihat siapa pun atau apa pun yang ada di balik pintu, dalam hati berharap kalau itu bukan adiknya.
Namun, yang Rara dengar hanyalah keheningan malam.
Tidak ada langkah kaki, tidak ada seseorang yang memanggil namanya.
Rara Sudjatmiko memberanikan diri membuka mata, dan benar saja, tidak ada siapa pun di sana.
Ia menghela napas panjang, tak sadar kalau sejak tadi ia menahan napasnya. Setidaknya, tidak ada wujud mengerikan seperti tadi. Setidaknya, suara radio itu akhirnya berhenti.
Sampai Rara merasakan seseorang melingkarkan kedua tangannya di perutnya, mendekap gadis itu erat dalam tubuhnya yang dingin.
"Rara, sayang, kenapa nggak dengerin siaranku kaya biasanya?"
Dulu, Rara selalu berharap bisa bertemu dengan sosok yang selama beberapa hari ini mengisi malam-malamnya. Sosok pria dengan suara yang terdengar begitu ceria dan menyenangkan, yang gelak tawanya selalu menggelitik perut Rayadinata. Apalagi nada bicaranya yang agak meledek setiap ia meminta para pendengar untuk memperhatikan keadaan sekitar sebelum ia mulai membacakan cerita horornya.
Namun, sekarang Rara membenci itu. Ia terisak, berusaha melepaskan diri dari pelukannya yang semakin erat. Ia bisa merasakan seseorang yang berada di belakangnya menopangkan dagu pada bahu Rayadinata, membuat mahasiswi itu bisa merasakan embusan napas di pipi dan lehernya.
"Please." Rara memohon dengan penuh iba. Ia tidak menginginkan ini semua.
"Kenapa, Ra? Kenapa nangis?"
"Please, aku nggak tahu apa-apa."
Permohonan yang terdengar memelas itu tidak ditanggapi. Rayadinata semakin tidak berdaya, energinya habis karena rasa takut yang mencekik dan tangisannya yang tidak kunjung berhenti.
"Rara, sayang, aku udah nyari kamu lama banget. Akhirnya ketemu, ya? Akhirnya kita ketemu lagi."
Lagi? Lagi, katanya?
"Tapi–"
"Sayangnya, waktu itu kita belum sempat kenalan. Aku Heksa, Heksandriya Kesuma."
Rara tidak tahu siapa dia. Ia menggeleng, tak peduli kibasan rambutnya mungkin menampar wajah pria yang memperkenalkan diri sebagai Heksa tersebut.
"Lepasin, kumohon."
"Kenapa? Aku kangen, tahu. Udah belasan tahun kita nggak ketemu. Jangan kaget gitu, ah. Bukannya dari kemarin sama hari ini udah kukasih kode kalau aku bakal dateng?"
"Kode?"
"Inneke. William. Coraline. Melinda. Tora. Utari." Heksa mendekatkan bibirnya pada telinga Rayadinata dan mulai berbisik, "I will come to u."
Rara bisa merasakan pelukan Heksa mengendur, dan ia mengambil kesempatan untuk kabur dari kamar.
Sialnya, Rara yang memiliki rambut panjang justru memberi peluang emas pada pemuda yang ada di belakangnya. Heksandriya dengan cepat menarik rambut Rayadinata, membuat gadis itu jatuh terpelanting. Ia mengaduh, tetapi Heksa kembali menarik rambutnya supaya tubuh Rara menjauh dari pintu.
"Dari dulu emang ngeselin, ya?"
Rayadinata diam saja. Ia terlalu fokus dengan rasa sakit bak terbakar di kepalanya karena Heksa masih menjambak rambutnya. Pemuda itu kini memaksa Rara untuk duduk bersimpuh di lantai, dan ia sendiri kemudian berlutut di hadapan satu-satunya pendengar setia program After Midnight tersebut. Tangannya tak lagi menjambak, tetapi kini merengkuh wajah Rara dengan kasar. Aksesoris yang ia kenakan pada salah satu jarinya terasa begitu dingin ketika beradu dengan tulang rahang bawah Rara. Keduanya beradu pandang, dan Rara kini benar-benar memperhatikan wajah manis yang terasa tak sesuai dengan perilaku orangnya.
Heksa sendiri masih menatap Rara tajam, meski sesekali ibu jarinya mengusap pipi Rayadinata, tak peduli dengan satu atau dua spot jerawat yang biasanya muncul kala gadis itu datang bulan.
"Kamu cantik, Ra. Cantik banget. Sayangnya, kesan pertamaku nggak bisa berubah gitu aja karena kamu tumbuh jadi gadis yang cantik. Sejak pertama kali kita ketemu, aku udah benci sama kamu. Benci banget. Kalau bisa, kamu udah kubunuh sekarang juga."
Ekspresi wajah kebingungan yang ditampilkan Rayadinata saat ini justru membuat Heksandriya tertawa.
"Kayanya kamu sama sekali nggak inget pertemuan pertama kita, ya, Ra? O, jelas, soalnya kamu waktu itu terlalu sibuk sama diri sendiri. Kalau gitu, mau aku ceritain, nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
After Midnight
HorrorI thought everything was normal, until I realized how wrong I was. - Bathed in Fear, 002. © 2021 nebulascorpius
