Bebal dan sulit di atur, tak jauh berbeda terkombinasikan menjadi satu.
"Ikik, mau jajan ya?"
"Ga boleh."
Bagaimana seorang tsundere buciners menghadapi gadis mungil banyak omong seperti Hazel?
| Jungri lokal.
Si mungil mulai menyadari kesalahan kalau kedatangannya hanya mengganggu tidur sang pacar. Jadilah sekarang ia di rundung kemuraman.
Matanya sudah berkaca-kaca, Hazel pikir Rizki tidak akan bisa melihat dia yang akan menangis. Tapi itu opini Hazel sendiri. Rizki tahu pacar unyilnya ini tidak dapat di bentak atau disudutkan dengan perkara yang jelas-jelas salah Hazel.
Pada dasarnya memang cengeng, Rizki tahu itu.
"Kesini sama siapa?"
"Sendiri."
"Di bolehin Mama?" Hazel menggeleng.
"Terus?"
"Diantar sampai gang depan sama Pak Suryo." makin pelan lah suara Hazel.
Rizki menghela napas, antara muak dan juga kesal. Ia kembali berbaring membenarkan selimut.
"Ini terlalu pagi buat ngucapin. Nanti, baru boleh."
Berniat melanjutkan tidur, Rizki berbalik memunggungi Hazel. Perempuan itu berdiri, hendak pulang. Tapi ujung-ujungnya bakal menangis mengadu Bunda Kris, berakhir Rizki terkena omelan pedas.
"Ya udah─ emm... met bobok Ikik. Aku pulang dulu ya."
Dua kali di pagi ini, Rizki membuang napas. Menguji kesabaran sekali, sungguh. Ia membalikkan badan melihat Hazel yang akan meraih kenop pintu.
"Hazel."
Tanpa menengok ataupun berbalik Hazel menjawab, "Iya?"
"Sini dulu."
Cukup lama Hazel diam, "Tapi Ikik kan mau bobok."
"Iya, makanya sini."
Takut-takut Hazel berbalik. Berjalan kembali menuju tempat Rizki berbaring. Setelah dapat di gapai, Rizki menarik Hazel pelan untuk masuk juga dalam selimut.
"Temenin bobok." memeluk Hazel bak guling. Kaki Rizki membelit Hazel erat. Hazel juga sudah tidak sungkan membalas pelukan pacar sendiri.
Satu kata, hangat. Iyalah hangat belum juga keluar selangkah dari peradaban.
"Ikik serem tahu kalau marah." suara Hazel teredam dalam dada Rizki.
"Kalau udah tahu jangan buat marah."
Hazel hendak menjulurkan kepala protes, naas pelukan di leher si perempuan semakin dibuat menguat.
"Acel nggak mau buat marah ya! Acel kan mengucapin. Ikik aja belum ngucapin tuh."
"Ngucapin happy anniv nyelonong ke kamar bahkan matahari belum muncul?"
Hazel yang salah, ia lupa. Jadi ia semakin mengencangkan pelukan mereka. "Ikik... maaf."
Hazel belum tahu saja di atas sana Rizki memejam tersenyum menang. Si laki-laki menunduk, mendekat pada rungu Hazel.
"Selamat tanggal 8, bocil."
"Aku nggak bocil, aku udah tujuh belas tahun Ikiiik!!"
"Kalau yang ini, punya Acel." si gadis membawa potongan besar rainbow cake ke ruang tamu.
"Daaah Ikik."
Rizki menggeleng kepala pelan. Ia menatap 1/4 rainbow cake di hadapannya. Kemudian menyuap bersama perasaan pias.
"Gini amat pacar gua."
***
Note: Hay hayy, akhirnya bisa pub work ini 😭 Aku udah dari lama ngidam pengen bikin cerita fluff banget. Sampai mabok sendiri bayanginnya. Jadi... Here we go. Tapi work sebelah tidak seringan ini bung 😏
Semoga suka ya, jangan berharap banyak. Ini aku up sesuai mood mwehehe. Dan gak terlalu panjang juga. Terima kasih jangan lupa jaga kesehatan <3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.