Kelas 1-A tengah riuh mempersiapkan makan malam sekaligus pesta penyambutan untuk murid baru mereka, Kazima Ayano. Dapur asrama dipenuhi aroma masakan, suara peralatan memasak, dan obrolan kecil yang memenuhi udara. Malam terasa hangat, meski wali kelas mereka tak bisa hadir karena sedang bertugas bersama mantan Pahlawan Nomor Satu, All Might.
“Bakugou-san,” panggil Momo lembut sambil mengaduk sup. “Bisakah kau membangunkan Ayano-chan? Aku benar-benar butuh bantuan karena semua orang sedang sibuk.”
“DASAR WANITA SIAL—”
Belum sempat Bakugou melanjutkan umpatan, tatapannya bertubrukan dengan mata heterokromatik Todoroki. Tatapan dingin itu cukup membuatnya mendengus.
“Apa, hah? Ada masalah?” geram Bakugou.
“Tentu tidak,” jawab Todoroki kalem. “Aku hanya kurang suka ketika kau kasar pada wanita.”
Bakugou mengeklik lidahnya. “Yang kau maksud cuma wanita mu saja, kan? Kalau aku memarahi Jirou atau Ashido, kau diam saja. Munafik.”
Komentarnya membuat Todoroki terdiam. Tidak membantah, tetapi juga tidak mengiyakan. Ia hanya mengambil piring dan menatanya di meja bersama Sero, seolah percakapan barusan tak terjadi.
“Bakugou-san, kalau kau tidak—”
“Aku tahu! Tahu!” teriak Bakugou memotong Iida. “AKU AKAN PERGI, DASAR MENYEBALKAN!”
Ia pun melangkah pergi menuju lantai empat, tempat kamarnya—dan kamar Ayano—berada.
Tokoyami menggelengkan kepala. “Apa dia tidak pernah lelah marah-marah begitu?”
Kirishima tertawa. “Justru kalau dia diam, itu yang patut dikhawatirkan.”
“Tepat,” sahut Tokoyami. Mereka semua tertawa kecil.
Uraraka kemudian berkata pelan, nyaris seperti gumaman, “Apa Ayano-chan bisa membuat Bakugou… sedikit lebih santai, ya?”
Semua kepala serentak menoleh ke arahnya.
“E-eh!? Bukan! Maksudku—bukan begitu!” Uraraka panik.
“Tidak,” Mineta menggeleng serius untuk pertama kalinya dalam hidupnya. “Kau ada benarnya.”
Aoyama memegang dadanya dramatis. “Ah… apakah cinta mereka akan bersinar?”
“Tidak akan,” potong Ashido datar.
“Mereka akan bersinar,” sahut Todoroki tiba-tiba sambil mengelap piring. Tatapannya lurus ke depan.
Lida benar-benar kaget. “Tumben kau ikut bicara.”
Todoroki menutup piring terakhir sebelum berucap, “Bakugou hanya akan jatuh pada seseorang yang tetap tersenyum di hadapannya. Dan… gadis itu memiliki senyum seperti itu.”
Kaminari mengangguk cepat. “Benar! Dia pernah bilang begitu padaku dulu.”
“Sāte.” Lida melipat tangan. “Kita lihat saja bagaimana jadinya nanti.”
“Asui-san, ada apa?” tanya Uraraka ketika Tsuyu mengangkat jari ke pipinya, tampak berpikir.
“Mereka pernah bicara sebelumnya?”
Todoroki dan Midoriya saling melirik.
“Mungkin Bakugou yang mengantar Ayano ke ruang kepala sekolah tadi,” ujar Todoroki tenang.
---
Sementara itu, Bakugou berdiri di depan pintu kamar Ayano dengan raut kesal bercampur bingung. Namanya tertulis jelas di pintu: Kazima Ayano. Setelah mengetuk beberapa kali tanpa jawaban, ia memutuskan membuka pintunya.
“Ck. Apa-apaan sih wanita ini? Tidak kunci pintu? Bodoh,” gerutunya.
Kamar itu dingin, AC menyala maksimal. Ayano terbaring di kasur dengan kemeja kedodoran dan tanpa bawahan, terbungkus selimut hingga leher. Bakugou menghela napas panjang, entah karena kesal atau panik.
Ia mendekat lalu menepuk bahu Ayano pelan. “Oi, bangun! Aku tidak mau disalahkan mereka kalau kau terlambat!”
Ayano hanya bergumam, mengencangkan selimutnya.
“OIII! TEMEEEE!!”
Ayano tersentak bangun, menatap Bakugou dengan mata melebar. “Ka-kau… kenapa ada di sini—ah!”
Gadis itu meringis sambil memegang kepalanya.
“Bakugou… kan?” suaranya bergetar.
“Hah? Memangnya kenapa?”
“Ambilkan kotak putih… di lemari, rak paling atas. Cepat… kepalaku pusing…”
Bakugou melotot. “HAH!? JANGAN—tch.”
Meski mulutnya protes, tangannya bergerak cepat mengambil kotak yang dimaksud.
“Tolong… penglihatanku mulai gelap…” ujar Ayano lirih.
Wajah Bakugou berubah. Ia meletakkan kotak itu di tangan Ayano, suaranya menurun sedikit. “Yang mana obatnya? Bilang!”
“Tenang… aku tahu. Tapi ambilkan air putih, tolong…”
Tanpa membantah, Bakugou bergegas mengambil air.
“Ini. Minum.”
Ayano meneguk perlahan. Ketika rasa pusing mulai mereda, ia menghela napas dan menatap Bakugou lembut.
“Terima kasih… Bakugou-san. Untuk semuanya. Ngomong-ngomong… ada apa kau ke sini?”
“Aku disuruh Momo SIALAN itu buat banguninmu. Dan kau tidur tanpa kunci pintu. Apa yang kau pikirkan sih!?”
Ayano terkekeh. “Maaf. Aku lupa.”
Bakugou memalingkan wajah. “Kenapa minta maaf padaku, hah!?”
“Kau… seperti mengkhawatirkanku,” jawab Ayano jujur.
“MA—MANA MUNGKIN AKU MENGKHAWATIRKANMU, DASAR BODOH!”
Ayano tertawa lebih keras. “Kau marah terus, ya?”
“AKU TIDAK MARAH!”
“Iya, iya, Bakugou-san~”
Ketika Ayano mencoba berdiri, tubuhnya kembali limbung.
“Oi! Kau bisa berdiri atau tidak!?”
“Bisa kok…”
“BISA APANYA!? NANTI MOMO PROTES DAN TODOROKI ITU MEMBUATKU STRES!”
Ayano menahan senyum. “Bakugou… bisakah suara kamu lebih pelan sedikit? Dan… bisa tidak sih berhenti memakai kata ‘sialan’ setiap lima detik?”
Bakugou terdiam sesaat.
Ayano melanjutkan lembut, “Kalau kau benar-benar mau membantuku, bantulah karena kau mau. Bukan karena disuruh Momo-chan.”
Gadis itu berjalan sambil menempelkan tangan ke dinding, tetapi langkahnya goyah.
Sebelum sempat jatuh, tubuh Ayano mendadak terangkat.
“Eh? Ba-Bakugou-san!?”
“Diam.”
Nada itu berbeda. Bukan marah—lebih seperti… cemas yang tidak mau terlihat.
Ayano menyandarkan kepalanya ke dada Bakugou. Hangat. Nyaman.
“Katsuki-kun…” gumam Ayano. “Kau… hangat sekali.”
Bakugou terhenti sejenak—lalu jantungnya berdetak lebih cepat dari ledakannya sendiri.
---
HAI! JANGAN LUPA VOTE YA!! HAPPY READING!! 💖📚✨
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) In Another Life || BNHA • BAKUGO KATSUKI
Ficção Adolescente(END) Follow dulu sebelum baca ya! Ada beberapa part yang di private! Happy Reading ❤️ • • • • Kazima Ayano, gadis blasteran Jepang-Amerika itu tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis ketika ia harus meninggalkan sekolah lamanya di Amerik...
