Soreen Tadjimara Maheswari..
Berparas cantik dengan mata yang indah. Mata yang bisa membuat orang yang menatapnya enggan untuk mengalihkan pandangannya. Mata yang sulit untuk tidak ditatap dari dekat. Mata khas wanita Asia dengan bulu mata yang lentik dan bola mata yang tampak bersinar menampilkan warna keclokatan terang.
Tringgg
Tringgggggg
Tringggggggggggggggg...
Tangan yang mengulur panjang muncul dari balik selimut yang membungkus tubuh kecilnya, uluran yang sedang berusaha untuk mematikan benda yang sedari tadi mengacaukan kenyamanan tidurnya.
"Selamat pagi Soo..."ucapan itu menggantung ketika wanita paruh baya tersebut melihat anak gadisnya saat ini masih tertidur pulas dengan tubuh yang tenggelam pada selimutnya, padahal sekarang sudah menunjukkan jam setengah 7 yang artinya hari ini anaknya itu akan TELAT.
"Soreen.. Bangun sayang, kamu nanti telat loh ke sekolahnya." wanita itu sambil menggoyang goyangkan bahu gadis itu berharap sang empu segera terbangun dari kenikmatan tidurnya.
"Masih pagi loh bunn, Soreen masih ngantuk, masih mau tidur." Bukannya bangun, gadis itu malah kian mengeratkan pelukannya pada guling yang sekarang sudah menempel erat pada tubuhnya.
"Soreen Tadjimara Maheswari..."
"Sekarang jam setengah 7 sayang, kalau kamu gak bangun sekarang, jangan salahin bunda kalau kamu nanti telat."
"Jam 7?" Gadis itu terperanjat dari tidurnya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, ia segera membuang sembarangan selimut yang sejak tadi melilit tubuhnya.
Gadis itu melompat dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Ia berencana akan memakai jurus mandi itik, sekejap yang penting badan basah.
Wajah yang memang sudah cantik itu tidak memerlukan polesan make up yang rumit, yang terpenting adalah memoles bibirnya dengan liptint peach yang sangat pas untuk warna kulitnya dan setidaknya ia tidak terlihat pucat. Rambut yang hanya ia biarkan terurai panjang dengan hiasan bando menambah kesan manis bagi Soreen.
"Bundaa, Ayah.. Soreen berangkat dulu." Pamit gadis itu sambil menyerobot roti yang ada di piring ayahnya.
"Hati hati sayang, jangan lupa obatnya dibawa." Kini giliran ayahnya yang bersuara.
"Oke boss." Sahut gadis itu sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Pak Umar selamat pagi, kita berangkat sekarang ya pak, tapi boleh gak kalau misalnya Soreen minta agak ngebut dikittttt aja soalnya Soreen udah telat." Pinta Soreen pada sopir pribadinya dengan sedikit memelas.
"Baik non Soreen.."
Soreen Tadjimara Maheswari, anak bungsu dari Radian Danugrah Maheswari dan Rosalina Maheswari. Terlahir dari keluarga terpandang dan kaya raya yang sanggup memenuhi apapun keinginannya tak lantas membuat Soreen menjadi sosok yang angkuh.
Gerbang sekolah sudah terpampang jelas dihadapan gadis itu, ia memandang malas ketika melihat gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat.
"Pak Umar langsung pulang aja, nanti kalau udah waktunya pulang Soreen kabarin." Gadis itu segera berlari menghampiri satpam sekolahnya, meminta belas kasihan agar dibukakan gerbang untuk dirinya.
"Pakk Dang..... Gerbangnya tolong bukain dong..." Soreen menempel erat pada gerbang yang sudah tertutup rapat itu.
"Pak Dangg... Buka dong... bukain pak dang gerbangnya."
Kedua tangan yang menyatu memohon untuk dibukakan gerbangnya, dan tentu saja akting dengan wajah yang sayu memelas serta mata yang tak luput dari genangan air mata palsu itu siap ia luncurkan agar satpam sekolahnya ini rela membukakan gerbang sekolah demi dirinya.
