"Kamu gak mau tanggung jawab?" Ucap lelaki itu pelan. Mata gadis itu mengerjap lucu, nampak kebingungan. Lelaki itu berusaha semaksimal mungkin menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar.
"Maksudnya?" Tanya gadis itu polos.
"Kamu gak mau nawarin saya mampir buat obatin luka saya?"
"Saya gak bisa ngobatin luka kak."
Kening lelaki itu berkerut. "Kamu punya kotak obat kan di rumah?" Tanya lelaki itu yang kemudian dibalas anggukan oleh gadis itu. "Nanti kamu bersihin luka saya terus pakek obat merah habis itu selesai. Masa udah gede kamu gak tau?"
"Itu kakak bisa." Balas Soreen dengan cepat.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Saya maunya kamu yang obatin. Saya jadi babak belur gini kan juga karena kamu."
Soreen mengerutkan keningnya, menatap Abimana dengan heran. Lagi-lagi lelaki itu menahan tawanya melihat ekspresi gadis itu sekarang. Lelaki itu memang sengaja ingin menjahili Soreen, dan berhasil. Terbukti ekspresi gadis itu yang terlalu jelas sedang gugup.
Lelaki itu sudah tak sanggup menahan tawanya. Ia tertawa lepas yang justru makin membuat gadis itu semakin kebingungan. "Udah sana kamu masuk, saya cuma bercanda." Ucap lelaki itu setelah puas menjahili Soreen.
Soreen yang mendengar jika lelaki itu hanya bercanda, kemudian ia juga sadar ekspresi gugupnya tadi sangat jelas. Ia yakin lelaki itu tertawa karena melihat ekspresi wajahnya, soreen tersenyum terpaksa pada Abimana.
"Saya masuk duluan kak. Sekali lagi makasih." Gadis itu melepaskan tangannya dari Abimana, dengan cepat ia keluar dari mobil lelaki itu. Ia sudah menahan malu sekali saat ini, ingin rasanya gadis itu berteleportasi ke dunia lain sekarang juga."
Abimana menatap kepergian gadis itu. Abimana terkekeh pelan.
"Saya rasa, saya tertarik dengan kamu Soreen Tadjimara Maheswari."
Gadis yang tadi pagi menjadi sosok yang menyebalkan bagi Abimana, justru sekarang lelaki itu mulai menunjukkan ketertarikannya pada gadis tersebut. Ingatannya kembali pada adegan di perpustakaan siang tadi yang menjadi titik mula rasa tertariknya pada gadis itu. Mata gadis itu benar-benar memikat dirinya.
🦅🦅
Soreen berlari menuju kamarnya. Perutnya semakin sakit dan napasnya semakin tak beraturan. Ia langsung berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Ia mengeluarkan sederet kotak obat, langsung ia telan pil-pil tersebut dengan bantuan air putih yang selalu tersedia di kamarnya.
Soreen menubruk kasurnya, ia menggeliat meremas perutnya yang kejang. Ia mencoba mengatur napasnya, meringis setiap merasa otot perutnya semakin terasa menusuk.
Wajahnya masih pucat. Keringat dingin mengalir dari kening hingga leher gadis itu. Matanya mulai berkaca-kaca menatap langit kamarnya, ia teringat bagaimana ia selalu merasa kesakitan setiap harinya. Gadis itu memandang sendu foto keluarga yang terpajang di dinding kamarnya. Papa, mama, kakak, dan dirinya, foto itu diambil sebelum dirinya divonis penyakit yang sekarang bersarang di tubuhnya.
"Soreen bisa sembuh gak ya? Apa soreen bakal ninggalin kalian?" Ucap gadis itu pelan, matanya mengerjap meneteskan air mata yang sudah tertahan sejak tadi.
🦅🦅
Abimana melangkahkan kakinya menuju kelas. Mulutnya beberapa kali menguap. Semalam tidurnya sangat terganggu dengan pikirannya sendiri. Berkali-kali lelaki itu mencoba memejamkan matanya, hanya ada bayangan gadis yang sejak kemarin mulai mengacaukan ketenangan fokusnya. 4 batang rokok yang ia hisap tak cukup untuk mengusir kekacauan pikirannya.
