Soreen berlari dengan kecepatan penuh menuju kelasnya. Ia mengintip dari balik pintu untuk melihat kondisi kelasnya pagi ini, dan sialnya sudah ada guru Matematika yang super killer, yaitu pak Herman yang sedang menulis materi pelajaran dipapan tulis.
Soreen membuka sedikit celah pintu dengan sangat amat hati-hati, berharap misi untuk menerobos kelasnya ini berhasil tanpa ketahuan oleh sang guru. Ia melangkahkan kakinya dengan waspada, berusaha agar tidak menimbukan suara yang dapat didengar pak Herman.
Grepppp...
"Ehhhhh....." Soreen merasa kerah bajunya ditarik oleh seseorang.
Soreen panik, kaget, sekaligus bingung.
"Selamat pagi." Ucap seseorang dari depan pintu dengan posisi menenteng kerah baju milik Soreen yang saat ini sedang panik dengan aksinya yang telah gagal itu.
"Pagi pak...."
Sahut seluruh kelas yang tentunya membuat pak Herman yang sedari tadi sibuk menulis materi mengalihkan fokusnya saat ini.
"Soreen, kamu telat lagi?" Tanya pak Herman yang sudah dongkol dengan muridnya satu itu.
Soreen yang ditanya pun hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, membenarkan pertanyaaan dari sang guru.
"SOREEN TADJIMARA MAHESWARI......."
"kamu ini setiap hari hampir telat, sebenarnya kamu ini niat sekolah apa enggak sih?"
"Niat kok pak, ya namanya juga bangun kesiangan jadi wajar kalau telat." Jawab Soreen dengan jujur namun terdengar menjengkelkan bagi seorang guru yang memiliki kebiasaan serba tepat waktu.
"Tuh kan....."
"Kamu ini ada aja jawabannya, kemarin macet, kemarinnya lagi supirnya berak gak kelar-kelar, sekarang kesiangan, besok apa lagi Soreen....?"
"Ya kalau besok belum tau pak alasannya apa lagi."
"AllahuAkbarr Soreennnnn..."
"Udah mending kamu duduk aja, bapak pusing lihat kamu lama-lama. Darah tinggi bapak bisa kumat karena kamu ini." Pak Herman benar-benar frustasi menghadapi kelakuan Soreen yang tak ada habisnya.
Lelaki yang sejak tadi mendengar adu argumen dari kedua orang tersebut sedikit menahan tawanya.
"Lepas ihhh." Soreen berusaha meraih tangan yang sedari tadi menenteng kerah bajunya hingga membuat lehernya sedikit tercekik.
Lelaki itu melepaskan cengkramannya, membiarkan sang empu bebas bergerak.
"Makanya sekolah tuh disiplin tepat waktu, bukannya telat terus." Giliran lelaki itu yang bersuara memberikan sedikit omelan pada gadis nakal itu.
"Iya, iyaaaa..."
"Masih pagi juga ngomel terus gak baik tauuu, nanti cepet tua." Soreen mempoutkan bibirnya, lantas memberikan tatapan sinis pada lelaki tersebut.
Lelaki itu sekarang benar-benar menahan mulut pedasnya, jika ia tidak ingat sekarang berada dimana, gadis nakal ini sudah habis ia maki-maki.
Seluruh kelas menjadi riuh karena kedatangan seorang laki-laki yang berpenampilan rapi dengan setelan jasnya. Wajahnya pun tak kalah membuat sebagian murid menjadikannya bahan gosip.
"Ada yang mau bapak sampaikan, mulai sekarang bapak tidak akan menjadi wali kelas kalian lagi, bapak akan pensiun, jadi mulai hari ini pak Abimana yang akan menggantikan bapak sebagai wali kelas." Ucap pak herman menunjuk lelaki yang sedari tadi menjadi pusat obrolan seisi kelas.
"Gila ganteng bangett."
"Astagaaaaa mimpi apa semalem dapet wali kelas spek model majalah."
"Mulai hari ini gue bakal jadi siswi paling rajin, anti bolos sih ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
ABIMANA (ON GOING)
JugendliteraturJujur ini lebih seru yaaaa versi tanpa alayyyyy
