Abimana berjalan di koridor sekolahnya dengan Arga Pradewangga, yang tak lain adalah pemilik sekolah ini sekaligus ayah Abimana. Beberapa kali Abimana melirik lelaki paruh baya tersebut yang hanya terdiam, wajahnya tenang namun tersirat banyak hal.
"Saya sedang mengusahakannya sesegera mungkin." Ucap Abimana lurus, tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Lelaki paruh baya itu menepuk pelan bahu Abimana, "Ayah tau, kamu anak ayah yang bisa ayah percaya untuk hal ini." Kemudian tersenyum tipis ke arah Abimana.
"Saya pasti segera menemukan bajingan itu." Tegas lelaki itu sekali lagi. "Pasti, ayah percaya kamu akan segera menyeret bajingan itu ke hadapan adikmu."
Abimana tersenyum tipis, kedua lelaki itu berjalan beriringan sembari mengobrolkan beberapa hal terkait urusan pekerjaan dan hal pribadi. "Tumben sekali kamu bungkus makanan, biasanya kamu makan di tempat atau kamu akan suruh orang untuk mengantarkannya ke ruangan kamu." Tanya Arga yang menyadari putranya sedang menenteng paper bag transparan berisi sekotak makanan. Abimana melirik ke arah kantong makanannya, lalu menunjukkan ke arah ayahnya, "Bukan buat saya." Arga terkejut, tidak biasanya putranya itu membelikan sesuatu untuk orang lain. Putranya bukan seseorang yang mau dengan sukarela membeli sesuatu untuk orang lain jika lelaki itu tidak dekat atau peduli.
Abimana berhenti, menghalang seseorang. Arga menoleh, menatap gadis yang berada di depan putranya itu. "Saya suruh kamu istirahat, bukan keluyuran di sini." Soreen terkejut ketika berpapasan dengan Abimana, gadis itu refleks menoleh ke samping lelaki itu. Ia seperti melihat Abimana versi tua. Soreen menunduk, tersenyum ramah.
"Saya tanya, kenapa gak istirahat dan malah keluyuran di sini?" Tanya lelaki itu lagi. "Saya gak bisa tidur pak, di sana sepi, saya agak merinding takut ada hantunya."
Lelaki itu menghela napas, ia menoleh pada ayahnya. "Ayah kenalin ini murid saya yang bandel, namanya Soreen." Gadis itu melirik Abimana dengan sinis. Soreen melangkah mendekati Arga, lalu bersalaman dengan sopan.
"Soreen pak." Arga tersenyum tipis lalu mengangguk.
Mata Arga beralih melirik Abimana yang tidak mengalihkan pandangannya dari gadis di depannya ini, membuat Arga tersenyum geli.
"Ayah harus kembali ke kantor, ayah tadi cuma mampir sebentar. Kamu lakukan pekerjaanmu dulu, selesaikan dengan baik." Ucap Arga, Abimana mengangguk paham dan membiarkan ayahnya pergi.
"Ikut saya." Ucap Abimana. Gadis itu menoleh malas, "Kemana lagi sih pak." Tanya gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya gemas.
Abimana tersenyum miring, "Nurut aja." Lelaki itu menggandeng tangan gadis di depannya ini dengan otomatis, membuat sang empu sedikit terlonjak kaget. Lelaki itu terus menggandeng tangan Soreen, tanpa ia sadari banyak mata yang melihat. Sedangkan gadis itu hanya bisa tertunduk menghindari tatapan-tatapan murid lain.
Keduanya telah sampai pada tujuan. Ruang pribadi milik Abimana tadi. "Sekarang kamu makan ini." Titah lelaki itu, menyodorkan kantong makanan yang sejak tadi ia pegang.
Gadis itu menggeleng, "Gak mau, saya gak nafsu makan pak." Tolak Soreen, membuat lelaki di sampingnya menghela napas panjang. Abimana menarik tangan gadis itu, menyeretnya untuk duduk di sofa yang tersedia.
"Sekarang duduk dan makan ini."
"Gak. Gak mau." Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanda menolak perintah lelaki tersebut. Abimana mengambil alih kotak makan yang semula berada di atas meja tersebut. "Buka mulut kamu, saya suapi."
Gadis itu mengerutkan dahinya, ia sedikit kaget sekaligus bingung dengan sikap lelaki di sampingnya ini yang tiba-tiba menjadi perhatian seperti ini. Walau ia merasa nyaman dengan perhatian lelaki itu tapi ia tetap merasa aneh dengan sikap Abimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABIMANA (ON GOING)
Novela JuvenilJujur ini lebih seru yaaaa versi tanpa alayyyyy
