"Tapi ya, gue emang tertarik sih sama tuh manusia....
"Tapi dikit.... Dikit banget itupun karena ganteng aja sih. Soalnya, menurut buku yang gue baca tadi, buat tau kalau kita suka atau jatuh cinta apa enggak, kita perlu natap matanya intens buat lihat diri kita."
"Langsung intinya aja Reen! Gue gak paham." Jujur Airin yang memang lambat dalam mencerna suatu kalimat.
Soreen menghela nafas panjang...
"Ya maksudnya, pas lo natap mata seseorang tuh, lo ada reaksi apa enggak di tubuh lo. Deg-deg an, keringat dingin, pingsan, mimisan atau apa kek yang penting REAKSI." Jelas Gina, Gina memang paling paham masalah perasaan, diantara mereka bertiga, hanya Gina lah yang sudah mempunyai pacar.
"Nahhh.... Ini nih bestie gue." Soreen mengacungkan jempol kirinya pada Gina dengan bangga.
"Emang lo udah natap mata pak Abi secara intens?"
"Udah lah..." jawab Soreen dengan santainya.
HAHHHH.... kompak Gina dan Airin.
"Kapan Reen? Lo halu ya? Jangan-jangan karena kepanasan, lo jadi ngehalu kek gini." Ungkap Gina yang tak percaya.
"Halu.. halu.. emang gue se-setres apa sampek ngehaluin makhluk satu itu." Kemudian Soreen menceritakan semua yang ia lakukan pada wali kelasnya tersebut saat di perpustakaan. Detail sekecil apapun ia ceritakan pada mereka berdua.
"Bener Reen.. lo emang bener-bener setres. Bisa-bisanya lo lakuin eksperimen absurd lo itu ke wali kelas yang baru aja lo temuin." Gina dan Airin keheranan atas tingkah sahabatnya ini.
"Ya namanya juga mau ngebuktiin bener apa enggaknya tuh buku."
"Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama buku, musyrik lo Reen." Sekarang giliran Airin yang meledek kekonyolan dari Soreen.
"Jadi reaksi lo saat natap matanya secara intens gimana?" Tanya Gina yang penasaran dengan kelengkapan cerita Soreen.
"Gak ada." Singkat Soreen.
"Lo gak ada reaksi apapun gitu liat matanya?" Tanya Gina sekali lagi yang masih penasaran.
"Gak ada Gina cantik.. tapi jujur ya...
"Dia tuh emang ganteng banget sih, mana wangi lagi." Jujur Soreen mengingat adegan dirinya saat mendekati lelaki itu.
Tak disangka, yang menjadi bahan obrolan mereka tiba-tiba saja lewat di depan mereka.
"Emang ganteng banget sih Reen.." Ucap Gina yang juga disetujui oleh Airin.
Tak lama berselang, berakhir sudah masa hukuman mereka. Masih ada waktu 20 menit lagi untuk mereka habiskan masa istirahat. Ketiganya berjalan beriringan menuju kantin sekolah untuk mengisi tenaga mereka yang sudah terkuras habis. Dari depan saja kantin sudah terlihat ramai.
"Lo ikut gue sekarang." Terang Soreen pada kedua sahabatnya itu.
Airin dan Gina memilih mengekori Soreen, karena dari mereka bertiga yang paling banyak akal dalam hal apapun adalah Soreen. Mereka lebih baik mengikuti Soreen daripada harus berdesakan di kantin. Sepersekian detik berikutnya mereka telah sampai pada tempatnya.
"Ngapain kesini Reen?" Tanya Gina dan Airin yang kebingungan dengan maksud tujuan Soreen mengajak mereka pergi ke kantin khusus guru.
"Makan lah, cepet duduk keburu bel masuk lagi nih."
"Emang sinting temen gue, ngapain kita kesini? Ke kantin guru?"
"Airin cantik, daripada kita disana gerah karena banyak orang mending disini, adem, nyaman, makanannya enak-enak juga." Terang Soreen menjelaskan maksud dan tujuannya.
Memang siswa boleh makan ditempat kantin guru, tapi banyak dari mereka yang tidak mau makan disini, karena mereka bisa saja bertemu guru killer atau guru yang memang mereka tidak sukai.
"Udah bel nih Reen, yuk cabut." Ajak Gina pada keduanya.
Bukan kelas ips namanya jika diberi tugas mereka langsung mengerjakannya. Saat ini kelas mereka sedang jam kosong, mereka hanya diberi tugas oleh guru. Meskipun demikian, diantara mereka semua hanya beberapa yang mengerjakan tugas, dan yang lainnya malah sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Kalau dipikir pikir, Pak Abi tuh emang menarik banget tau. Masih muda, wajah tampan, tajir pula kelihatannya. Meskipun dia galak banget sih." Ujar Soreen secara tiba-tiba membahas Abimana.
Gina dan Airin yang mendengar hanya menggelengkan kepala, tiba-tiba saja sahabatnya ini memulai obrolan dengan nama Abimana.
"Tapi gue juga tertarik sih kalau modelan cowoknya kayak pak Abi." Airin ikut menimpali ucapan Soreen. Ia juga menyetujui bahwa wai kelasnya itu sangat menarik bagi kaum hawa.
"Emang otak kalian ini isinya cowok ganteng doang. Tapi gue juga setuju sih." Kini giliran Gina yang juga ikut memvalidasi ucapan Soreen mengenai Abimana.
Soreen memperhatikan sesosok pria dari jendela kelasnya, ketika pria itu berjalan melewati kelasnya. Ia hanya memperhatikan lelaki itu dengan lekat. Dibenaknya jujur, ia tertarik tapi bukan suka pada pria tersebut. Pria itu misterius. Ada beberapa hal yang Soreen ingin ketahui dari pria tersebut, namun pria itu sangat sulit untuk ia dekati, bahkan dekat sebagai guru dan murid pun susah.
Jangan ditanya soal stalking sejak hari pertama kemunculan Abi, gadis itu sudah mencari tahu akun instagram pria tersebut. Jari-jemarinya mengetik nama Abimana di kolom pencarian instagram, tapi banyak sekali akun yang mempunyai nickname Abi. Akhirnya setelah membuka beberapa akun, ia berhasil menemukan akun instagram yang dicarinya.
Soreen melihat akun dengan postingan yang didominasi dengan hasil bidikan kamera layaknya akun seorang fotografer. Jika wali kelasnya itu menyukai hal-hal yang berbau kamera, mengapa ia malah menjadi guru sekarang. Soreen tidak lupa meninggalkan jejaknya berupa like di setiap postingannya. Sebenarnya Soreen sangat tertarik dalam dunia fotografi, ia juga bercita-cita menjadi seorang model nantinya, jika ia masih mempunyai waktu.
"Denger denger, ketua Atlas sekolah disini, lo tau gak dia siapa?" Celetuk Airin pada kedua sahabatnya ketika mereka sedang makan di kantin.
Di sudut yang berbeda, tampak seorang laki-laki yang sedang berada di rooftop. Ia menyesap rokok yang sudah bertengger disela bibirnya.
Lelaki itu kembali teringat adegan dirinya dan Soreen yang notabene nya sebagai murid saat di perpustakaan tadi. Ia kembali mengingat dirinya yang ditatap intens oleh gadis tersebut, ia mengingat saat dimana dirinya sempat terhipnotis oleh mata gadis itu yang menurutnya sangat indah. Jantungnya cukup berdetak sedikit diatas normal saat menghadapi gadis itu.
Lelaki itu mengacaukan pikirannya agar ia tidak terus mengingat kejadian tadi bersama Soreen. Ia mengalihkan fokusnya pada sebuah notifikasi yang ada di handphone nya. Sebuah akun dengan nickname familiar terlihat sekali sedang meng kepoi dirinya, terbukti dengan beberapa like yang akun tersebut tinggalkan.
Ia lantas membuka akun tersebut, tampak sangat percaya diri dalam berpose dan berfoto. Sekali tebak namun benar adanya, lelaki itu langsung tahu jika gadis ini menyukai dunia modeling
