05

66 6 0
                                        

HAIII SELAMAT BERTEMU DI BAB SELANJUTNYAAAA

❤️

Soreen berdecak sebal, kebiasaannya yang lapar saat malam membuat dirinya harus pergi keluar rumah. Tujuannya kini adalah mie ayam pinggir jalan langganannya. Sebenarnya ia bisa saja memesan online, namun menurutnya makan mie ayam di tempat jauh lebih nikmat tentu karena masih panas saat ia santap. Sekalian ia ingin membeli pembalut karena hari ini ia sedang red day, dan stok di rumah juga sudah habis. Salahnya juga, ia tidak mengiyakan supirnya yang ingin mengantarnya. Untung saja papa, mamanya sedang ada urusan di luar kota, dan kakaknya yaitu Magali Pradana Maheswari masih berkutat dengan segudang pekerjaan di kantornya, jadi tidak ada yang akan memarahinya.

Setelah selesai dengan urusan perut dan pergi berbelanja, Soreen segera pulang. Ia khawatir akan kemalaman sampai dirumah. Kini gadis itu terjebak di jalanan yang cukup sepi, jalan ini memang jalan pintas yang jarang dilewati kendaraan.

Soreen sedikit panik melihat jalanan yang terasa sepi, masih jam 8 lewat, belum terlalu larut. Matanya menyipit kala melihat beberapa lelaki berbadan besar dan penuh tato yang berjalan sempoyongan, ia tebak mereka sedang mabuk.

Ada sedikit perasaan panik, takut, ingin lari pada diri Soreen. Mengingat hanya dirinya seorang yang berada di jalanan sepi ini. Dengan memberanikan diri, Soreen berjalan cepat melewati para lelaki tersebut.

Jantungnya berdegup kencang, panik mulai menguasainya saat salah satu tangannya ditarik dengan kasar oleh salah satu dari mereka, membuat Soreen refleks menghempaskan tangan orang tersebut dari tangannya.

"Galak banget sih cantik." Ucap salah satu dari mereka yang wajah dan tangannya dipenuhi oleh gambar tak jelas. Tangan orang tersebut memegang botol alkohol, membuat Soreen mual saat mencium baunya.

"Minggir!" Titah Soreen sedikit menjauhkan tubuhnya. Para preman itu tertawa remeh.

"Cantik.. jangan galak-galak dong, nanti abang kasih uang jajan deh kalau kamu mau nemenin abang semalem aja." Soreen semakin takut mendengar ucapan yang kurang ajar itu.

Refleks ia langsung berlari. Belum ada beberapa langkah, badan Soreen sudah ditarik oleh mereka yang membuat dirinya memekik kencang.

"Tolong... Lepasin!"

Soreen memberontak dengan wajah yang sudah pucat pasi. Dirinya memang nakal, tapi jika berurusan dengan hal seperti ini, ia juga takut. Saat ini ia hanya berharap ada bantuan yang datang.

"LEPASIN!" Pekikan keras membuat Soreen dan para preman itu mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Matanya menyipit silau akibat pantulan cahaya mobil yang menyorot ke arahnya. Siapapun itu, Soreen hanya berharap orang tersebut bisa menolongnya. Langkah kaki dari arah sorot lampu membuat matanya tak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu, tapi suara itu terdengar tidak asing.

Soreen terkejut saat matanya dapat melihat dengan jelas siapa yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut. Abimana, lelaki itu datang masih menggunakan setelan jasnya. Setidaknya ia lega, ia yakin lelaki itu tidak akan membiarkan dirinya dilecehkan begitu saja oleh para preman tersebut.

Lelaki itu berjalan mendekat, menarik tangan Soreen untuk berlindung di belakang tubuhnya. Belum sampai pada tempatnya, tangan preman itu sudah ikut campur kembali dengan menarik tangan Soreen yang membuat pegangan Abimana terlepas.

"Lepasin dia." Ucap Abimana dengan tegas. Raut wajah lelaki itu kini sangat mengerikan, berhasil membuat Soreen sedikit bergidik ngeri. Wajah gadis itu kian memucat. Perutnya mulai terasa nyeri, di imbangi dengan keringat dingin yang terus mengalir begitu saja.

"Lepasin atau saya buat kalian tidak bisa lagi meneguk minuman keras. Bahkan saya bisa pastikan tangan yang kalian gunakan untuk menyentuh gadis ini tadi, tidak akan bisa berfungsi kembali." Ancam lelaki itu. Preman-preman itu masih saja menganggap remeh ancaman Abimana, mereka mengacuhkannya.

ABIMANA (ON GOING) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang