*drt drt* suara dering ponsel Renjun bergetar.
Renjun yang baru saja menyelesaikan aktivitas mandi-nya pun langsung mengangkat telepon itu yang ternyata dari rumah sakit, dimana sang Eomma berada.
Selamat siang nona Renjun. Kami ingin memberitahu-kan bahwa keadaan Eomma nona sedang kritis di rumah sakit. Para dokter dan perawat sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Eomma anda.
Renjun langsung bergegas mengambil kunci mobil-nya setelah mendengar kalimat yang di ucapkan sang perawat.
Tolong selamatkan Eomma-ku bagaimana pun caranya.
Balas Renjun yang langsung menutup telepon-nya sepihak.
"Kau mau ke mana Injun-ah?" Tanya Jeno yang melihat Renjun yang sedang berjalan ke arah mereka dengan penuh gelisah.
Renjun tidak menjawab, ia langsung melangkahkan kakinya keluar, dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Meninggalkan area perkarangan rumah-nya dan juga Jeno, Jaemin dan Sooya di sana.
Jeno yang melihat Renjun masuk ke dalam mobil pun ingin segera menyusul Renjun, tapi ia ingat kalau mobilnya ada di sekolah.
Akhirnya dia hanya bisa menghela nafasnya pasrah, lalu kembali ke dalam rumah Renjun.
"Renjun udah selesai?" Tanya Jaemin yang baru saja membuatkan minuman untuk Sooya, karena Sooya meminta untuk di buatkan minuman.
"Dia baru saja pergi." Jawab Jeno di sertai dengusan kesal.
"Ke mana?" Tanya Jaemin yang di balas hedikkan bahu oleh Jeno.
"Aku juga tidak tau." Balas Jeno.
---
Renjun terus menjalankan mobilnya, sampai akhirnya ia tiba di depan rumah sakit berskala Internasional ini.
Masuk ke dalam rumah sakit, setelah berhasil memarkirkan mobilnya, dan langsung berlari menuju ke ruang ICU. Tempat sang Eomma yang sedang do rawat di sana.
"Maaf, anda tidak bisa masuk ke dalam Nona." Ucap sang perawat, yang tidak mengizinkan Renjun untuk masuk.
Sedangkan Renjun, ia terpaksa harus menunggu di depan ruang ICU.
Dengan tubuh yang gemetar, rasa ketakutan yang muncul, serta kegelisahan, membuat tubuh Renjun semakin bergetar.
"Eomma, jangan tinggalin Injun. Injun butuh Eomma di sini."
"Tuhan, jangan ambil Eomma-ku dulu. Aku masih tidak bisa hidup sendiri Tuhan."
"Tolong aku Tuhan. Aku tau kamu sangat menyayangi Eomma-ku. Tapi aku mohon jangan ambil dia sekarang."
"Eomma, bertahan-lah. Aku mohon."
Berbagai macam doa dan keinginan terus di ucapkan oleh Renjun. Ia terus berdoa kepada Tuhan agar Eomma-nya tidak di ambil oleh sang pencipta.
Setelah setengah jam Renjun menunggu, akhirnya para dokter dan perawat keluar dari ruangan.
Renjun yang melihat itu pun langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana dengan Eomma saya dokter?" Tanya Renjun, menatap dokter penuh permohonan. Keringat dingin terus mengucur di pelipis Renjun.
"Eomma kamu berhasil kita selamat-kan." Ucap sang dokter yang sukses membuat Renjun terjatuh senang.
Sangking senang-nya, Renjun tidak bisa berdiri dengan benar saat ini, membuat kakinya tidak bisa menampung bobot tubuhnya karena terlalu senang.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena telah mengabulkan doa-ku." Ucap Renjun dengan senyuman-nya.
"Tapi kita butuh transplatasi jantung dengan jangka waktu yang cepat. Eomma-mu sangat membutuhkan itu Renjun." Sambung dokter.
"Kami tidak dapat memprediksi kapan Eomma-mu pergi kalau transplatasi ini tidak segera di lakukan. Dan masalah administrasi? Kau bisa tanyakan kepada petugas administrasi-nya. Tuan Huang sudah menyerah dengan keadaan Nyonya Huang. Jadi dia berniat tidak ingin melanjutkan pembayaran Nyonya Huang. Anda juga bisa menemui Nyonya Huang setelah ini, setelah ia di pindahkan ke ruang rawat inap." Ucap sang dokter lalu pergi meninggalkan Renjun.
Renjun menyeringai ketika mendengar perkataan sang dokter. Ia tau kalau Appa-nya akan menghentikan pembayaran sang Eomma. Renjun tidak kaget akan hal itu. Karena Renjun sendiri pun sudah memiliki uang yang telah ia kumpul-kan selama ini.
Renjun langsung menuju ruang administrasi untuk membayarkan biaya rumah sakit sang Eomma.
Memberikan kartu debit-nya kepada petugas admin. Mengetikkan kata sandi di mesin adc, lalu pembayaran pun berhasil di lakukan.
Setelah membayar administrasi, Renjun akhirnya pergi untuk ke ruangan Eomma-nya.
*cklek* pintu ruangan di buka oleh Renjun. Perlahan Renjun mulai mendekati Eomma-nya yang sedang terbaring lemah di sana.
Renjun langsung mengambil duduk di kursi, tepat di samping brankar sang Eomma.
Semua-nya hening, hanya suara mesin ekg yang jadi suara di antara mereka berdua.
Renjun terus menatap Eomma-nya dalam diam. Ia sudah tidak tau harus berkata apalagi kepada sang Eomma.
Dulu pas pertama kali sang Eomma masuk ke dalam rumah sakit, Renjun sering menemani Eomma-nya. Bercerita banyak hal tentang harinya yang telah berlalu dan sering berdoa di samping Eomma-nya, Renjun juga sering menangis ketika melihat keadaan sang Eomma yang terus saja menutup matanya.
Tapi sekarang Renjun tidak melakukan hal itu lagi. Renjun hanya diam dan menatap sang Eomma dalam diam. Ia tidak bisa menceritakan apapun yang telah di alami-nya kepada sang Eomma.
Yang ia lakukan ketika berkunjung adalah berdoa dalam hati agar sang Eomma dapat membuka mata-nya. Hanya itu, selebihnya ia hanya diam menatapi wajah sang Eomma yang sangat pucat.
Setelah puas memandangi sang Eomma, Renjun pun pamit pulang kepada sang Eomma. "Eomma, aku pulang. Aku akan kembali lagi. Jadi, cepat kembali arraseo?" Ucap Renjun lalu pergi dari ruangan Winwin, sang Eomma.
Renjun terus jalan menelusuri koridor, menuju parkiran rumah sakit.
*drt drt drt* Notifikasi Renjun berbunyi lagi. Sebenarnya sudah bergetar daritadi, tapi Renjun abaikan semuanya.
Ada notifikasi pesan dan telepon masuk dari Jeno dan Jaemin. Ada juga pesan masuk dari teman-nya.
From : Yeji.
Kau dimana? Cepat-lah, ini sudah shift-mu.
Renjun langsung melihat jam yang ada di ponsel-nya. Dan ternyata memang sudah jam shift-nya. Renjun langsung saja membalas isi pesan itu.
To : Yeji
Aku on the way! Sabar ya.
Setelah mengirimkan pesan itu, Renjun langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju tempat yang ia tuju.
Selama beberapa menit, Renjun akhirnya tiba di sebuah restaurant terkenal. Renjun langsung saja masuk ke dalam restaurant itu.
Memberikan id card karyawan-nya, lalu masuk ke dalam.
"Kau ke mana saja Renjun?" Tanya Yeji, membuka apron-nya.
Renjun yang melihat itu langsung mrngambil apron Yeji dan memakai-nya. "Mianhe, aku ada urusan tadi. Maafkan aku karena telah membuat-mu pulang lambat" Ucap Renjun.
Yeji mengangguk-kan kepalanya. "Gwenchana. Aku pulang dulu ya!" Pamit Yeji yang langsung di balas Renjun.
Renjun pun mulai melakukan pekerjaan-nya. Mencuci piring kotor adalah salah satu pekerjaan Renjun, di antara pekerjaan part time yang Renjun lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S ME - NORENMIN
FanfictionCERITA INI KHUSUS NORENMIN (JENO X RENJUN X JAEMIN) SHIPPER! APABILA KALIAN TIDAK SUKA DENGAN SHIPPER YANG BERSANGKUTAN? DIMOHON UNTUK TIDAK BERKOMENTAR NEGATIF DI KOLOM KOMENTAR! ATAUPUN DI KEHIDUPAN PRIBADI LEE JENO, HUANG RENJUN, DAN NA JAEMIN! ...
