PLUVIA 2 : KESAN YANG BURUK

1 3 8
                                    

Bandara internasional Soekarno-Hatta 06.20 AM

    Setelah 16 jam mengudara,akhirnya Clarissa dan Marlo menginjakkan kaki di Indonesia.Setelah itu,mereka memutuskan menyewa hotel untuk menginap semalam sebelum bertolak ke Bandung.Pagi harinya, setelah selesai mengisi perut mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

    "Ayah,seperti apa sosok bunda bagi ayah? ".Tanya Clarissa kepada pria disampingnya.

    " Dia wanita terbaik sejauh ini,tak pernah sedikitpun dia mengeluh dengan keadaan.Dia wanita yang kuat,bahkan ayah akui hatinya begitu besar dalam menanggapi buruknya kehidupan yang ia jalani".Suara Marlo sedikit tercekat kala mengingat kembali masa emasnya bersama sang istri."Kamu persis seperti bundamu sa.Cantiknya, manisnya, baiknya. Pokoknya semua hal positif bundamu ada di kamu semua.Sampai ayah iri karena nggak ada hal yang ayah turunkan ke kamu".Lanjut Marlo sedikit terkekeh.

    "Bukan nggak ada,cuma belum kelihatan aja sama ayah.Bisa  aja malah sifat ayah yang mendominasi aku".Balas Clarissa menyingkirkan sekat diantara mereka.

   Selama seharian kemarin,banyak hal yang sudah ayahnya ceritakan kepadanya.Rasa bahagia,sedih, rasa sakit dan lainnya dibagi oleh ayahnya waktu itu.Hal itu juga yang menjadikan mereka sedikit lebih dekat dari sebelumnya.

Rumah kediaman keluarga Antharesia,Bandung 08.40 AM

    Mereka pun sampai di kediaman keluarga Antharesia.Clarissa tampak takjub memandangi rumah dihadapannya itu.Suasana yang asri dan sejuk tak luput dari inderanya.

    Saat Marlo membuka pintu rumah megah itu, tampak wanita usia 40-an yang menyambut kedatangan mereka dengan rona bahagia.Bisa Clarissa tebak, wanita itu adalah Tasya Antharesia.Istri ayahnya sekaligus ibu tiri baginya.

    "Selamat datang mas,selamat datang juga Clarissa.Sini biar mama yang bawain koper kalian".Sapa Tasya sembari menarik koper yang ada di tangan Marlo dan Clarissa.

    " Eh tante nggak usah kok,biar Clarissa aja yang bawa sendiri".Ucap Clarissa sembari menarik kembali koper miliknya.

   "Panggil aja mama sa,lagian kamu tuh baru nyampe pasti capek banget.Udah mendingan Mama aja yang bawa".Titah Tasya

    Cukup lama perdebatan itu terjadi,hingga akhirnya Clarissa pasrah dan menyerahkan kopernya untuk dibawa masuk kedalam rumah.

    Tubuh Clarissa menegang tatkala tubuhnya dipeluk oleh Tasya.Rasa hangat menyelimuti hati kecilnya,sudah berbulan-bulan ia tak merasakan pelukan hangat seperti ini semenjak bundanya meninggal.

    " Kamu bener-bener mirip banget sama Citra sa.Sesaat, Mama mikir kalo yang ada dihadapanku sekarang ini adalah Citra ".Ucap Tasya di sela-sela momen pelukan mereka,air mata pun kini sudah membasahi pipi Tasya.

    Ribuan pertanyaan seketika menyerang kepala Clarissa.Bagaimana Mama Tasya bisa tahu tentang bundanya?. Apakah mamanya ini memiliki hubungan erat dengan bundanya?.Seolah mengerti ekspresi bingung Clarissa,Tasya pun kembali melanjutkan kata-katanya.

    "Mama dan bundamu itu sahabat dekat,dulu sewaktu SMA kami kebetulan selalu jadi teman sebangku.Sungguh sa,menikah dengan ayahmu bukan pilihan mama.Baik Mama maupun ayahmu sama sama dipaksa.Hal itu dikarenakan rasa iba nenekmu setelah Mama menjanda.Ayahmu tak punya pilihan lain.Nenekmu memberikan pilihan yang berat,memilih antara melihat kamu dan bundamu disakiti oleh nenekmu atau menceraikan bundamu lalu menikahi Mama yang sebentar lagi akan melahirkan. Tapi sumpah sa, nggak pernah sedikitpun Mama ingin merebut ayahmu dari bundamu.Bahkan Mama berusaha untuk membuat ayah dan bundamu tetap bersama, tapi semuanya percuma".Ucap Tasya disela tangisnya

PLUVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang