Midorima mendesah seusai memeriksa keadaan Nanami. Tatapan matanya sulit untuk didefinisikan. Campuran antara tidak tega, miris dan sedih. Sungguhan tidak tega. Wanita itu... Satu-satunya sosok perempuan yang pernah Akashi kenalkan pada teman-teman rekan basketnya. Sosok yang dikenalkan sebagai tunangannya sejak mereka masih muda. Sosok yang selalu tenang dan bisa menghadapi kondisi apa pun.
Wanita itu terbaring. Matanya tertutup rapat. Dia tidak sadarkan diri beberapa saat setelah melihat putra kandungnya. Di sampingnya, tepatnya di dekat kakinya sendiri, Midorima menatap seorang bocah berusia lima tahun. Berdiri di sampingnya sembari mengamati keadaan ibunya yang tidak sadarkan diri. Ekspresi wajahnya sudah lebih baik dibandingkan saat pertama kali Midorima mendapatinya dalam gendongan sang kakek. Bocah itu terpukul. Ah tentu saja. Bocah mana yang tidak akan terpukul saat ibu yang sangat menyayanginya tiba-tiba saja berada pada keadaan tidak bisa mengingatnya sebagai seorang anak. Reiji berdiri dengan ekspresi tabah yang kelewat mirip ibunya. Cara bocah itu menghadapi keadaan orangtuanya mengingatkan Midorima pada Akashi dan Nanami. Reiji seolah mengambil dua sisi terbaik milik orangtuanya.
"Reiji,"
Bocah itu berkedip sembari mendongak. Midorima berlutut. Membuat dirinya sepantar dengan si bocah.
"Mamamu sudah lebih baik. Apa Reiji mau tetap di sini?" Dia bertanya lembut. Jika saja itu Midorima di masa lalu, mana ada dia bersikap lunak apalagi menunjukkan sisi lembutnya pada seseorang.
"Um. Rei akan tetap di sini menemani Mama." Jawabnya, lugas.
Sebelah tangan terangkat pelan. Berhenti di atas kepala merah si bocah. Jika fisik bocah ini sama sekali tidak mewarisi ciri fisik sang ibu, namun, sikap keras kepalanya lebih mirip sang ibu.
"Baiklah. Cari sensei saat Mamamu bangun, oke?"
Kepala itu mengangguk tanpa sedikitpun keraguan. Matanya berkedip.
"Sensei,"
"Hn?"
"Apa Mama sakit lagi karena Rei bilang Papa sakit?" Dia berkedip. Ada kekecewaan pada binar matanya.
Midorima mendesah pelan. Diam-diam menahan diri. Dia... Demi apa pun bocah sekecil ini, bagaimana bisa...
Bagaimana bisa bocah sekecil ini menghadapi kenyataan yang teramat menyiksa? Saudara kembarnya meninggal dan ayahnya dalam kondisi kritis di saat bersamaan. Lalu...
Midorima merengkuh tubuh kecil itu, hangat. Mata terpejam.
"Tidak ada. Mamamu sakit karena dia belum sembuh. Tidak ada hubungannya dengan apa yang Reiji lakukan."
Bocah itu mengangguk pelan.
"Reiji,"
"Ya?"
"Bukankah Reiji sudah berjanji pada Papa dan Ryuji untuk bisa bahagia agar Mama bahagia?" Midorima tidak punya cara lain. Dia menjadi salah satu saksi pada tragedi yang menimpa keluarga kecil temannya.
"Um. Gomenasai, Rei tidak akan menyalahkan diri lagi."
"Bagus. Sekarang Sensei harus pergi. Saatnya memeriksa keadaan Papa. Reiji masih ingin di sini?"
"Um. Reiji mau menemani Mama."
Midorima mengangguk, mengerti. Dia bangkit. Tersenyum tulus. Mungkin, setelah menjadi dokter apalagi mengambil dua spesialisasi berbeda (spesialis anak dan spesialis bedah) kadar tsundere nya Midorima sudah berkurang banyak. Banyak sekali. Ah atau mungkin itu setelah Midorima menikah dan punya anak kadar tsundere nya mulai berkurang? Entah. Itu sepertinya masih menjadi misteri.
KAMU SEDANG MEMBACA
An Imaginary
Short StoryPemuda bersurai merah menyala itu bernama Akashi Seijuuro. Dia selalu punya cara agar tidak seorang pun berani membantah ucapannya. Entah bagaimana... dia seolah mempunyai sesuatu yang membuat siapa pun tidak bisa untuk tidak memberikan atensi padan...
