Dengan keadaan Akashi yang seperti itu, juga perubahan yang terjadi pada kepribadiannya yang entah kenapa terasa lebih kejam dan tanpa ampun, Nanami akhirnya memutuskan untuk tidak bersekolah di sekolah khusus perempuan seperti saat dia SMP. Nanami memutuskan untuk mengikuti Akashi. Bersekolah di Kyoto. SMA Rakuzan. Itu adalah bentuk kepedulian Nanami sebagai seorang teman dekat. Selain itu, meski hubungannya dengan Akashi yang ini tidak sedekat biasanya, Nanami tidak bisa membiarkan orang itu sendiri. Apalagi setelah mendengar apa yang terjadi pada klub basket Teiko. Bukan. Itu bukan sepenuhnya salah Akashi. Nanami juga paham. Bakat masing-masing pemain basket itu benar-benar monster. Dan dengan usia yang begitu muda, Nanami jelas mengerti sikap pemberontakan pada diri generasi yang sering disebut 'Kiseki no sedai' itu. Tidak ada yang bisa menandingi bakat mereka. Tidak ada yang begitu hebat untuk dijadikan saingan (selain diri mereka sendiri dan anggota tim reguler itu). Kacau. Nanami jelas bisa memahami apa yang terjadi. Selain itu, ada Momoi Satsuki yang juga sering memberinya kabar mengenai klub basket mereka setelah mengetahui hubungan Nanami dengan Akashi. Seolah Momoi mendapatkan tempat curhat yang bisa memahami kondisinya yang rumit. Terlebih lagi... Kondisi Momoi dan Nanami yang nyaris mirip. Momoi yang tidak bisa membiarkan Aomine (temannya sejak kecil) sendiri, hingga memutuskan mengikuti sangat Ace ke sekolah pilihannya, begitu pula dengan Nanami. Dia... Tidak bisa membiarkan Akashi sendiri.
Meski tahu keberadaannya tidak akan memberikan dampak apa pun pada Akashi yang baru, tapi Nanami tetap kukuh pada keputusannya.
Lagipula, meski sikapnya dingin dan kurang bersahabat, Akashi yang saat ini tetap memperlakukannya dengan cukup baik. Tentu saja itu karena hubungan antara mereka dan dua keluarga. Akashi tidak sebodoh itu untuk melakukan sesuatu yang kasar pada gadis yang dipilih langsung oleh ayahnya.
Akashi memutuskan untuk tinggal di apartemen (mewah, tentu saja) dekat sekolah alih-alih meninggali satu mansion Akashi yang ada di Kyoto. Sementara Nanami sama seperti biasanya. Dia tinggal di asrama sekolah (padahal Akashi Masaomi justru memintanya untuk tinggal di mansion Akashi). Beruntung Rakuzan memiliki asrama sekolah.
Itu adalah pertama kalinya Nanami bersekolah di sekolah yang sama dengan Akashi. Dan entah bagaimana, mereka berdua juga berada di kelas yang sama. Nanami melihat sendiri bagaimana Akashi saat di sekolah. Dan entah bagaimana, sosok itu justru didaulat sebagai Ketua OSIS pada tahun pertama mereka bersekolah.
Kesibukan Akashi Seijuuro benar-benar gila.
Keningnya berkerut dalam. Suasana di antara mereka luar biasa suram. Tidak ada lagi sesi mengeluh saat kepalanya mulai terasa berat. Nanami diam sembari menggali setiap ingatan dalam kepala. Sementara di sampingnya, sosok bermata dwiwarna itu diam dengan tenang. Membaca sebuah buku, mengabaikan eksistensi lain yang kesulitan. Mendesah berat. Nanami menyerah. Dia melirik pada sosok di sampingnya yang duduk dengan ketenangan luar biasa.
"Akashi kun,"
Respons si pemuda bermata beda warna itu kering. Dia hanya menoleh sekilas. Tanpa membuka suara.
"Aku tidak mengerti soal nomor dua puluh." Nanami berkata dengan nada biasa. Ekspresi wajahnya tegang akibat otak yang digunakan terlalu lama buat berpikir. Nanami saja tidak mengerti mengapa matematika selalu menjadi kelemahannya? Padahal sungguhan, ayah Nanami itu bisa dikatakan jenius matematika. Kenapa justru dia yang putri ayahnya malah bodoh sekali dalam bidang matematika coba?
Buku dilepaskan. Disimpan di atas meja. Akashi mendesah pelan. Mata beda warna itu melirik sekilas pada soal matematika yang diperlihatkan si gadis dalam bukunya.
"Bukankah kau bisa menyelesaikan soal nomor lima belas tanpa kendala?"
Nanami tidak tahu kenapa orang ini sepertinya punya dendam tersendiri padanya? Padahal, Akashi yang biasa sepertinya tidak pernah menyimpan dendam padanya meski dia harus mengulang saat mengajari Nanami?
KAMU SEDANG MEMBACA
An Imaginary
CerpenPemuda bersurai merah menyala itu bernama Akashi Seijuuro. Dia selalu punya cara agar tidak seorang pun berani membantah ucapannya. Entah bagaimana... dia seolah mempunyai sesuatu yang membuat siapa pun tidak bisa untuk tidak memberikan atensi padan...
