Kisah pemuda yang sedang berjuang mempertahankan karirnya sebagai penari Hip Hop, namun perjalanannya tidak semudah itu melihat kedaannya yang tinggal bersama Pamannya yang melarang keras Hoseog untuk menjadi penari.
Bertemu dengan seseorang yang m...
Setelah menyusuri jalanan besar yang sepi, Hanna memberhentikan motor kesayangannya yang berharga di parkiran tempat gedung tinggi tidak tahu apa sebenarnya gedung itu. Hanna dan Hoseog masuk ke dalam, tubuh mereka merasakan hawa dingin menyambut mereka. Dilihat dari penampilan dari dalam gedung ini sepertinya bukan sekedar gedung biasa. Banyak orang berpenampilan formal mengenakan jas, badan gemuk, berjalan dengan cepat tetapi tidak bermain kejar-kejaran. Ini seperti gedung yang diisi oleh orang berjabatan menteri.
"Han, kayaknya lebih baik kita balik ke bar saja deh." Sambil melirik orang orang berlalu lalang di sekeliling merekaa.
"Setelah sampai aku yakin kamu nggak mau balik lagi."
Hanna mendorong pintu darurat dan menaiki tangga ke suatu tempat yang dimaksud Hanna tidak akan mau kembali jika sudah sampai. Entah sudah anak tangga yang keberapa mereka naiki tapi mereka tak kunjung sampai ke tempat tidak akan mau kembali jika sudah sampai. Hoseog sudah tidak bisa bernapas dengan normal lagi, Hanna masih saja bersemangat melahap anak tangga.
Hanna berhenti tepat di depan pintu besi yang tertutup, entah terkunci atau tidak. Hanna mendorong pintu besi yang terlihat berat dilihat dari berapa lama pintu itu didorong sampai terbuka lebar. Segerombolan angin asli menyerbu masuk melewati pintu, mengisi penuh ruang pintu darurat dari lantai atas sampai lantai bawah.
Lalu mereka duduk bersama di pinggir sudut. Kaki mereka melayang di atas, Hoseog melihat kebawah. "Jangan melihat ke bawah." Cegat Hanna.Cepat cepat Hoseog melihat lurus ke depan, bulu kuduknya bergiidk setelahnya. "Kalau kau melihat ke bawah, rasa ingin menjatuhkan diri tiba tiba muncul, walaupun tidak berniat pun akan jatuh dengan sendiri."
Hoseog melihat Hanna yang sangat tenang meliahat ke depan. Selama Hoseog bersama Hanna dia tidak pernah melihat Hanna mengekspresikan perasaannya selain tenang, seperti angin malam. Setelah memperhatikan ketenangan Hanna disampingnya Hoseog ikut memandangi bintang kota yang jatuh ke tanah dengan warna yang berbeda. Benar kata Hanna, disini sangat nyaman, dia jadi tidak mau kembali karena kenyamanan yang sangat nyaman.
Satu lagi hal yang ia dapatkan jika bersama Hanna, kenyamanan.
Hoseog menghela napas berat, melepas semua beban yang sesak di dalam tubuhnya. Hanna menyenderkan kepalanya di bahu Hoseog, saling menikmati kenyamanan yang bertubi tubi datang pada mereka. Kenyamanan yang tak akan ada habisnya.
"Ngomong ngomong, kita ada di lantai berapa?"
"16."
=
Hanna membawa Hoseog ke sebuah tempat lagi. Tempat yang sama seperti sebelumnya. Bar. Di dalam bar ada penginapan khusus untuk orang yang terlalu mabuk sampai tidak bisa berjalan dengan benar. Hoseog katanya tidak mau pulang ke rumahnya dengan alasan yang Hanna tidak tahu dengan pasti kebenarannya. Hanna dan Hoseog berjalan di lorong, berjalan di atas karpet, melewati beberapa kamar. Penglihatan Hoseog kini berubah dengan dasar merah, warna kulit ikut berubah.
"Orangtuamu beneran nggak bakal nyariin?"
"Iya, seperti yang sudah ku bilang." Hanna takut jika orangtuanya tahu kalau orang dewasa yang menyuruh anaknya tidur di kamar bar tempat orang orang melakukan hal hal aneh. Bisa mati Hanna kalau ketahuan.
"Ini kuncinya." Memberi kunci kamar di atas telapak tangan Hoseog. "Kunci kamar walaupun kamu ada di dalam. Biasanya ada yang masuk sembarangan tak peduli siapa kamu ataupun umurmu. Kamu nggak mau melepas keperjakaan kamu sekarang, bukan?"
Hoseog membisu, tidak tahu harus membalas apa dengan kalimat ekstrim itu. Kembali berpikir apa ia jadi menginap disini atau tidak, tapi ia juga tidak mau kembali ke tempat itu bersama setan di dalamnya. "Semuanya baik baik saja kalau kau mengunci pintu." Hanna menepuk bahu Hoseog, menenangkan. "Ya sudah, kalau begitu, aku pergi."
"Tunggu!" Hanna menoleh. "Boleh minta nomor teleponmu..?" Hanna menaikkan alisnya menunggu penjelasan yang lebih jelas. "Bu-buat itu, kalo,, kan katanya ada yang suka masuk sembarangan, jadi, kalau ada yang mencurigakan aku bisa hubungin kamu, gitu.."
Hanna terkekeh, tangannya dia sodorkan meminta sesuatu. Dengan cepat Hoseog merogoh saku celananya dan memberi Hanna uang. Hanna tertawa. "Aku nggak butuh uang. Aku butuh ponselmu." Hoseog kebingungan. "Mau nomorku tidak? Kalau tidak mau, ya sudah." Hanna berniat pergi lagi.
Hoseog panik, buru buru menyusulnya, menghalanginya, mencari ponsel di sakunya, lalu memberikannya. Gerakannya sangat cepat, takut jika ia tidak berhasil mendapatkan nomor wanita itu. Hanna tersenyum. Tangannya masing masing memegang satu ponsel, melihatnya secara bergantian, saling bertukar nomor. "Sudah." Hanna mengembalikkan ponsel Hoseog. "Hubungi aku kapan saja. Walaupun tidak ada orang yang mencurigakan, hubungi saja sesukamu, aku tidak keberatan kalau orang itu adalah kamu."
Hoseog masih saja diam menatap Hanna sejak tadi. Hilang akalnya setelah Hanna mengecup pipi Hoseog. Hanna tertawa kecil setelahnya, lalu pergi. Sambil meratap kepergian Hanna, Hoseog memegang jejak kecupan itu. Sepertinya ia tidak bisa tidur malam ini. Dia sudah gila.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.