Hoseog bersama para penari lainnya sudah berada di belakang panggung. Musik terdengar jelas di telinga mereka, suara jarum jam bahkan terdengar mengerikan bertanda waktu tetap berjalan. Belum apa apa tapi sudah berkeringat karena detak jantung yang berdetak cepat. Berharap agar penampilan mereka berjalan dengan lancar. Bergantung satu sama lain untuk bekerjasama. Satu orang melakukan kesalahan adalah kesalahan semua orang.
Lampu sudah dimatikan dan studio menjadi gelap, waktunya para backdancer naik ke atas panggung secara diam diam. Warna merah darah yang menegangkan menguasai studio, musik hiphop mulai terdengar, sorakan para penggemar sangat membantu meningkatkan semangat mereka yang ada di atas panggung, termasuk Hoseog tentunya.
Hoseog tidak bisa mencari Hanna disaat dia sedang sibuk menggerakan badannya. Kalau ia mencari Hanna dia akan gagal fokus sehingga membuat kesalahan, pengalaman yang seharusnya dikenang menjadi buruk tak henti untuk menyalahkan dirinya nanti. Tidak mungkin juga Hoseog menemukan Hanna ditengah lautan manusia.
Pertunjukan telah usai, napas yang sangat berantakan, studio kembali gelap dan para backdancer mulai turun dari panggung satu persatu. Diawali gelap diakhiri gelap juga. Hoseog keluar dari area studio, keluar dari ruangan pengap yang penuh udara berat karena napas para penari yang kelelahan. Hoseog lebih cepat dari yang lain karena dia ingin bertemu Hanna secepatnya, ada juga beberapa penari yang masih menetap disana karena masih ada penampilan selajutnya.
Hoseog membuka ruang pesan Hanna dengannya.
Kau ada dimana? Aku sudah di luar.
Hoseog mematikan ponselnya dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana olahraganya. Menatap langit malam menunggu balasan Hanna. Hoseog menghela napas, lagi lagi hanya ada dua bintang di langit, bulan pun enggan menampilkan dirinya. Hoseog menegakkan tubuhnya ketika melihat salah satu bintang redup tiba tiba, bintang itu menghilang. Kini bintang yang ditinggalkan sendirian. Kasihan sekali.
Suara telepon masuk berbunyi. Hoseog cepat cepat mengambil ponselnya dan menerima panggilan masuk.
"Hei, kau ada dimana? Aku lagi di dekat pohon besar, kau bisa melihatku?" Hoseog terlalu senang, melihat sekelilling mencari Hanna yang tersembunyi.
"..maaf Hoseog, aku seharusnya menghubungimu dari awal,"
"Maksudmu?"
"Aku ada tamu tak diundang, aku tidak bisa datang kesana tepat waktu.." Hoseog tidak berbicara, dia diam. "Apa penampilanmu sudah selesai? Kalau kau belum tampil aku akan datang secepatnya! Aku akan mengendarai Buroq!"
"Tidak usah. Penampilanku sudah selesai."
"Oh, benarkah?" Hoseog kembali diam, tidak menyangka Hanna akan semudah itu mengatakannya. "Sayang sekali. Hoseog, kalau begitu aku tutup dulu ya, tamuku sudah menungguku, aku tidak enak membiarkannya lebih lama."
"...Iya,"
"Maaf ya, aku tutup dulu, sampai ketemu lagi."
Hoseog masih menempelkan ponsenya ditelinganya walaupun panggilan sudah ditutup Hanna. Dia seperti bintang yang barusan ia kasihani, sekarang dia merasa sendiri, orang itu pergi menghilang, tidak tahu apa Hanna tadi meminta maaf dengan tulus atau tidak. Hoseog merasa kasihan dengan dirinya seperti ia mengasihani bintang tadi.
Ternyata selama ini ia tampil tanpa ada yang melihanya. Sama halnya seperti ketika ia latihan di ruang latihan, sendiri, dengan pantulan dirinya di cermin. Tidak ada bedanya ia menari di atas panggung besar dengan tidak. Seketika ruang latihan itu menjadi gelap, ia tidak bisa melihat pantulan dirinya, kini ia terjebak sendiri tanpa mau berusaha untuk menyalakan lampu atau keluar dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
cigarettes
FanfictionKisah pemuda yang sedang berjuang mempertahankan karirnya sebagai penari Hip Hop, namun perjalanannya tidak semudah itu melihat kedaannya yang tinggal bersama Pamannya yang melarang keras Hoseog untuk menjadi penari. Bertemu dengan seseorang yang m...
