8|| hilangkan semua 1.

3 0 0
                                        

Selama masa bertelepon Hanna menyuruh Hoseog untuk diam disana tidak melakukan apa pun, diam selagi menunggunya, juga bertanya bagaimana Hoseog membunuhnya. Sudah cukup lama Hoseog menunggu tapi belum ada tanda-tanda Hanna akan datang. Rumahnya sudah dipenuhi bau amis darah, gemas ingin membersihkan darahnya tapi tidak bisa karena Hanna melarangnya.

Suara mobil terdengar semakin mendekat, tidak ada suara sirine mobil polisi yang menganggu datang karena mendapat laporan dari tetangga yang mencium bau amis di sebelah rumahnya. Pintu terbuka. Hanna datang. Masuk seenaknya tanpa ketukan punggung tangannya pada pintu, badannya tenggelam diantara barang barang ia bawa. Hoseog membantu mengangkat barang barang bawaan Hanna dan menyimpannya di suatu tempat.

Hanna menurunkan barang barang dari tubuhnya, melihat ke arah Mayat yang tergeletak tak bernyawa disana. "Ayahmu?" tanyanya.

"Bukan, dia Pamanku."

Hanna menyodorkan Hoseog pakaian plastik yang terlihat ribet untuk dipakai karena ukurannya yang besar dan letoy, sarung tangan medis, juga masker. Setelah berpakaian mereka tertawa melihat satu sama lain yang seperti sedang menangani kasus wabah baru muncul merambat seluruh negara dengan cepat.

"Kacau sekali." Komentar Hanna saat melihat Mayat Paman. Hanna dan Hoseog bersebelahan memandang mayat dengan matanya yang masih terbuka tidak berkedip.

"Apa kau menyentuhnya?"

"... Aku tidak begitu yakin aku menyentuhnya, tapi dia sebelumnya menyentuhku."

"Kalau begitu kita buka semua bajunya dulu, lalu,," diam sejenak. "Bagian tubuh apa yang menyentuhmu?"

"Tangan."

"Kita harus memotongnya."

"Apa?!"

"Kenapa? Kau kan sudah pernah membunuh, memotong tangan hanya hal sepele."

"Tapi, apa itu tidak sedikit berlebihan?"

"Berlebihan? Kalau kau mau dipenjara kau tinggal serahkan diri saja sana, jangan minta bantuanku. Kalau ujung ujungnya kau tertangkap sia sia aku melakukannya. Aku kesini bertujuan untuk menghilangkan bukti dan jejak agar kau tak tertangkap. Kita tidak boleh meninggalkan jejak sedikit pun, harus kita buang, harus kita hilangkan. Kalau kau mau dipenjara ya sudah, nggak usah repot repot pakai jasa ku, langsung saja ke kenator polisi lalu menyerahkan diri!" Hoseog tidak bisa menjawab, merasa bahwa apa yang dikatakan Hanna semuanya memang benar. Dia tidak mau dipenjara dan melepas semua mimpinya hanya karena ia membunuh penghalang mimpinya. "Tapi ada cara lain selain memotong tangannya, sih." Suaranya mengecil dari sebelumnya.

Hoseog menoleh melihat Hanna yang masih megamati Mayat yang tergeletak, Hoseog tidak sabar mendengar lanjutannya. "Kita mandikan saja. Lebih baik daripada memotongnya bukan?" kali ini Hanna membalas tatapan Hoseog.

"Iya, lebih baik!" Lalu baru terpikir oleh Hoseog kalau Hanna juga pasti akan ikut memandikan Mayat itu karena dia ahlinya, melihat tubuh pria tanpa busana dengan telanjang mata, di depan Hoseog. "Eh!!!?" Hanna tertawa puas sampai memegang perutnya.

"Tidak usah malu," Hanna masih tidak bisa mengontrol tawanya. "Sudah menjadi bagian pekerjaanku, aku juga sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Kau tak perlu merasa sungkan kepada wanita sepertiku ini, oke?" Hanna menepuk nepuk punggung Hoseog sambil nyengir. Setelah itu Hanna menjelaskan beberapa langkah yang harus diberitahu Hoseog terlebih dahulu agar mengerti dan tidak banyak tanya.

Sebelum mencuci tubuh mayat mereka membuka baju mayat untuk menghilangkan bukti yang kemungkinan rambut nyangkut disana atau keringat atau pun sidik jari. Jika akhirnya mereka ketahuan telah mengubur mayat di halaman rumah mungkin akan mencurigakan, kenapa tidak dipemakaman saja mengubur mayat saudagar dan malah mengubur di halaman rumah? Lalu kecurigaan itu semakin besar dan akhirnya saksi menelepon polisi bahwa dia melihat hal yang mencurigakan, polisi datang ke tempat yang dimaksud saksi tadi dan menemukan Mayat Paman di dalam tanah dalam keadaan habis tertusuk. Melapor pada atasannya, lalu dibuatlah kasus pembunuhan. Jika menemukan sidik jari sang korban identitas korban akan ketahuan, mencari alamat korban yang di dapat dari identitasnya, dan mendapat informasi dari para tetangga bahwa dia tinggal bersama keponakannya lalu Hoseog diinterogasi karena dialah saudara terdekatnya bahkan tinggal bersama di satu atap, kalau alibi Hoseog kurang meyakinkan dan ditindak lebih lanjut pasti ujungnya bakal ketahuan juga dan Hoseog di penjara atas kasus pembunuhan selama bertahun-tahun lamanya.

cigarettesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang