Only A Matter Of Time

107 13 1
                                        

Malem gais eh udah subuh. Btw welkam bek sama oneshots KePat, ngga kerasa udah 8 chapters yaa^^

Okehlah makasi yah udah vote chapter sebelum-sebelumnya lop yu gaes <3 , makasi udah sabar sama haluan saia yang nggak jelas dan gatau berujung di mana....

Moga kalian suka chapter ini yahh

Selamat Membaca!!

____________________________________________________

"Ck! Papa gimana sih? Pai udah bilang berkali-kali kalo Pai nggak mau dijodohin! Gimana sih? Ekonomi kita kan juga lagi stabil, ngapain coba dinikahin sama orang yang bahkan nggak Pai kenal? Mau nambah kekayaan? Segini belum cukupkah pa?" Protes pria berkemeja putih itu sedikit membentak, lelaki paruh baya di depannya hanya duduk terdiam.

"Patrick, kamu tahun ini sudah berumur 28. Dan lagi kamu masih lajang, daripada hanya sibuk bekerja lebih baik mencari seseorang untuk dinikahi bukan?"

Pria itu mengacak rambutnya frustasi, ia lalu kembali menatap mata pria di depannya yang ia panggil ayah. "Papa kan tau kalo Pai nggak suka diatur, apalagi dengan hal yang risikonya besar." Ucap sedikit lebih pelan, berusaha mengontrol emosinya.

Ia lalu duduk kembali berhadapan dengan ayahnya. Karena Patrick merupakan anak satu-satunya keluarga Finkler, sebab itulah ia sangat dekat dengan kakek dan ayahnya. Namun selang beberapa hari yang lalu kakek Patrick meninggal dunia, beliau meninggalkan surat wasiat untuk cucu kesayangannya dan beberapa anggota keluarga lainnya.

Pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju rak lemarinya. Tangannya bergerak membuka laci tersebut, ia mengambil sepucuk surat yang masih terlihat baru. Lalu memberikan surat itu kepada anaknya yang masih terlihat kebingungan.

Patrick menoleh ke arah ayahnya yang menawarkan surat tersebut, tangannya lalu terhenti. Lelaki itu ragu-ragu, di lubuk hati terdalamnya ia ingin sekali membuka lalu membaca surat peninggalan kakeknya. Namun dia masih maju-mundur, walau pada akhirnya memutuskan untuk menerima kenyataan bahwa kakeknya sudah tiada.

Lelaki itu kini berada sendirian di kamarnya yang luas, ia menatap kosong surat itu bengong. Pria itu sama sekali tidak pernah memikirkan kehilangan sesuatu yang berharga baginya, kakeknya merupakan salah satu hal yang sangat berharga untuk dirinya. Jari-jarinya bergerak membuka surat tersebut, Patrick terlihat gugup sekaligus takut. Takut dirinya mengingat kenyataan pahit yang sudah berusaha ia lupakan, ia lalu mendapati tulisan tangan almarhum kakeknya. 

Pria itu kembali mengulang surat yang ditulis tangan almarhum kakeknya, namun dia tetap tidak percaya bahwa ia harus menikah seorang laki-laki

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pria itu kembali mengulang surat yang ditulis tangan almarhum kakeknya, namun dia tetap tidak percaya bahwa ia harus menikah seorang laki-laki. 'Huh? Kakek pikir aku ini apa? Yah aku memang BI sih, dan lagi aku masih lajang. Tapi bukankah membuatku menikahi seseorang yang tidak aku kenal keterlaluan? Apalagi dari namanya usdah terlihat bahwa dia seorang laki-laki! Kakek gila ya?' Patrick berkutat dengan pikirannya sendiri sibuk bertanya-tanya, ia masih berusaha mencerna keadaan. Kemudian lelaki itu menyimpan surat tersebut di rak meja hitam miliknya, tangannya terhenti saat ia mendapati dirinya memandang secarik surat yang terlihat sudah tua. 

Our Precious Moments (ONESHOTS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang