"Jadi gimana?"
Ucap seorang pemuda yang berdiri menatap langit dengan pasrah jawaban dari sang kekasih dan sahabatnya tersebut,
"ji maaf aku maunya kak junkyu" jawaban sang kekasih yang selama ini ia cintai dan sayangi, berharap dia lah yang menjadi ibu dari anak anaku nanti, ternyata hanyalah sebuah cerita hayalan saja.Jihoon, hanya tersenyum menatap langit, kala itu bintang dan sinar terang rembulan lah yang menjadi saksi bisu berakirnya persahatan dan kisah cinta nya, membelakangi mashiho sang kekasih dan junkyu sahabat semasa kecilnya yang berdiri tepat berada di belakang jihoon dan saling bergandengan tangan dengan erat satu sama lain.
"Oke kalo itu keputusan kamu, aku ga bisa larang"
Jawab jihoon yang perlahan membalikan badanya berhadapan dengan kedua pasangan di belakang nya,
"Ini aku ada undangan buat kamu ji"
Di berikanya undangan dengan nama takata mashiho dan kim junkyu tertulis jelas di undangan tersebut, jihoon menerima undangannya, membaca undangan itu dengan seksama
"Waw!oke gua bakal dateng, makasi atas waktunya cio"
Ucap jihoon menepuk pundak mashiho dan
"Kyu gua ijin peluk calon lu untuk terakir kalinya ya?"
Minta jihoon menatap junkyu dengan oenuh harapan, junkyu yang mengerti tak bisa menolak permintaan sahabatnya, jihoon mendekat perlahan kearah mashiho, memeluk tubuh mungil tersebut dengan se erat mungkin,
"Akh!.. jihoon lepas.. cio sesak"
Rengek mashiho berusaha melepaskan pelukan dari sang mantan kekasihnya, jihoon perlahan merenggangkan pelukanya, di raihnya tangan jihoon, kedua telaoak tanganya di elus perlahan, menatap kedua mata jihoon dan berkata
"Makasi ya atas waktunya, aku ga akan lupain, buat kenangan aja kalo terulang jangan, cari yang lebih baik dari cio ya, pasti ada, aku percaya sama jihoon kalo tanpa cio mesti jihoon bakal bahagia, oiya jangan panggil cio lagi ya, panggil mashi aja okey?" Jihoon hanya mematung mendengarkan ucapan terakir mantan kekasihnya, membalas tatapan mashiho dengan penuh kata tidak, jihoon hanya menganggukan kepalanya perlahan sebagai jawaban pesan mashiho."Aku pamit ya"
Kata terakir yang di dengar oleh jihoon di halaman depan rumah pribadi miliknya, sakit, marah, menyesal, kehilangan, penghianatan, tercampur aduk di dada nya kali ini, tak di sangka sahabat masa kecilnya dapat menghilangkan separuh hidup yang berarti di hidupnya.Keesokan harinya, jihoon hanya terdiam di kasurnya, menatap langi langit atap kamarnya, mamikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menemukan cinta nya yang baru?, menjauh dari mashiho, mungkin itu ide bagus.
Siang ini menjadi siang yang begitu menyakitkan, dimana ia menyaksikan kekasih yang sangat ia cintai berdiri di pelaminan, bukan dia yang mendampingi kekasihnya, tetapi sahabat nya, kecewa, yang jihoon rasakan saat ini, jihoon hanya melihat mereka melaksanakan pernikahan jauh dari pandangan mantan kekasih dan sahabat nya, tak lama jihoon berada di tempat tersebut ia memutuskan untuk pergi dari acara itu.
Malam ini terasa panjang baginya, merelakan kedua bagian dari hidupnya untuk pergi, semoga ini jalan yang terbaik untuk jihoon kedepanya.
Pagi ini jihoon berada di bandara tokyo jepang, membawa kedua koper besar nya, ia memutuskan untuk kembali ke nengri kelahiranya.
"Semoga bahagia selalu mashiho"
Lirih jihoon saat pesawat perlahan meninggalkan jepang.

KAMU SEDANG MEMBACA
gamon || Hoonsuk
Teen FictionUsaha hyunsuk untuk membuat anaknya merasakan hangat nya kasih sayang keluarga