"Gandengan udah, ciuman udah, pelukan juga udah. Enaknya ngapain lagi ya?" tanya Kano pada dirinya sendiri.
Hana yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias ingin sekali melempar sisir itu ke kepala suaminya yang sedang duduk di atas ranjang. Tapi saat melihat wajah Kano yang memang tampak sedang berpikir serius, ia mengurungkannya. Hana melanjutkan kembali acara menyisir rambutnya.
Hana sudah memutuskan untuk tidak menghindari suaminya lagi. Percuma saja. Rencananya tidak pernah berhasil dengan mulus. Sekarang yang bisa Hana lakukan adalah menghadapi perasaan anehnya saat berada di dekat Kano.
Besok malam merupakan acara peresmian penggabungan perusahaan kakek Hana dan orang tua Kano. Sampai malam ini ia masih tinggal di rumah kakeknya, bersama Kano tentu saja. Rencananya mereka bertiga akan berangkat bersama-sama ke acara tersebut. Tapi setelah acara, kakek Hana tidak mengijinkan lagi ia tinggal lebih lama di rumah tersebut. Tidak baik ada pihak ketiga dalam urusan rumah tangga, meski itu adalah kerabat sendiri, begitu pesan kakek Hana pada Hana. Hana menurut saja pada kakek kesayangannya itu.
Pada malam peresmian tersebut Hana memakai gaun warna ungu muda, warna kesukaannya. Rambutnya yang lurus terurai dengan hiasan rambut berbentuk bunga sakura kecil-kecil berwarna ungu muda dan merah muda. Sedangkan Kano mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja warna putih dan dasi berwarna ungu tua. Bukan kebetulan mereka berdua memakai pakaian dengan warna senada, penata busana keluarga Artawijaya yang mengaturnya seperti itu.
Pada acara tersebut diumumkan susunan pengurus perusahaan yang baru, sesuai akta notaris yang telah diperbarui. Ayah Kano menjabat sebagai Direktur, sedangkan kakek Hana akan menjadi Komisaris. Karena merasa sudah sangat tua, kakek Hana hanya ingin mengawasi perusahaan saja. Kano sendiri kini menjadi manajer perencanaan, sesuai keinginannya. Di acara itu pula Tuan Artawijaya mengumumkan bahwa pemegang saham terbesar adalah cucunya, Hana. Sekaligus menyatakan pada semua orang, termasuk kolega dan lawan bisnisnya, bahwa cucunya masih hidup.
Acara ditutup dengan ramah tamah. Hana yang sejak tadi di dekat kakek dan suaminya mulai terpisah. Bukan ia yang memisahkan diri. Tapi suami dan kakeknya itu mulai sibuk membicarakan masalah perusahaan dengan rekan bisnis mereka. Saat Hana ingin membaur dengan istri para pebisnis, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Kasihan ya Pak Artawi, sudah tua tapi masih ngurusi perusahaan." Kata-kata seorang wanita di grup itu sudah terdengar telinga Hana sebelum ia sempat bergabung.
"Iya ya, harusnya kan usia segitu udah istirahat aja di rumah," sambung wanita dengan gaun merah marun.
"Tapi mau gimana lagi? Anak sama menantunya udah lama meninggal," ucap seorang wanita dengan dandanan menor. Yang lain hanya mengangguk.
"Satu-satunya penerusnya ya cuma cucu perempuannya itu. Tapi denger-denger cucunya dari kecil punya penyakit jantung, ya walaupun udah dioperasi sih katanya. Dengan kondisi begitu, mana bisa diharapkan buat ngurus perusahaan?" kata perempuan menor itu lagi.
"Kasihan ya, udah sakit jantung dari kecil, orang tuanya meninggal, nggak bisa ngurus perusahaan juga," sahut wanita dengan gaun krem.
"Harapan Pak Artawi ya tinggal cucu menantu sama besannya itu. Tapi kok percaya aja ya Pak Artawi itu, kan walaupun besan juga bukan keluarga sedarah." Wanita dengan rambut bergelombang terurai menambahkan.
Baru kali ini Hana mendengar pendapat orang lain tentang dirinya dan keluarganya. Rasanya sesak. Seperti itukah orang-orang menilai dirinya? Tidak bisa diharapkan? Hana hanya bisa mematung di tempatnya, seperti ada yang memaku kakinya dan mengunci mulutnya. Tidak bisa apa-apa.
"Kasihan juga suaminya, ganteng-ganteng gitu harus nggantiin posisi istrinya yang malang," tambah wanita yang pertama kali bicara.
"Malang?!" batin Hana kembali menjerit. Tapi tiba-tiba Hana merasakan sebuah tangan menepuk bahu kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUNISHMENT
RomanceCara terbaik untuk menghukum seseorang adalah dengan memberinya rasa bersalah seumur hidup.
