Mutiara tersenyum lembut memandang sosok yang terbaring lelap di sebelahnya. Wajah polos Zaidan menjadi pemandangan yang menarik atensi Mutiara. Tangannya melayang dan mendarat tepat di puncak kepala Zaidan. Bergerak pelan mengusap surai lelaki yang telah menikahinya itu.
Angan Mutia terbang pada dimensi beberapa waktu lalu. Saat kedua matanya tak sengaja menangkap dua sosok yang familiar. Embusan napasnya menguar pelan mengingat semua yang terekam oleh indera penglihatannya kala itu.
Awalnya Mutia berniat mengucapkan terima kasih pada Khanza karena secara khusus telah datang dan menjadi pendamping saat dia menikah. Memasuki kafe dan bercengkrama sejenak dengan Khanza, lalu Mutia pamit pulang. Saat baru membuka pintu mobil, desis malasnya mencuat saat mendapati kotak hampers berisi hadiah kecil untuk Khanza sebagai ungkapan terima kasih malah tertinggal di jok belakang mobil. Mutia berbalik arah, ingin kembali ke kafe, tapi matanya menangkap sosok Khanza baru saja memasuki sebuah angkutan umum. Akhirnya Mutia memilih mengikuti Khanza dari belakang. Kebetulan sekali gadis itu ingin tahu kediaman Khanza.
Khanza turun di depan sebuah gang. Teriakan Mutia agaknya tak didengar, sampai dia putuskan untuk turun, mengikuti jejak langkah Khanza. Namun saat di belokan gang, mata Mutia membeliak kaget menyaksikan seseorang yang dia kenal sedang menarik tangan Khanza.
"Aku enggak bisa ngelupain kamu Khanza." Kalimat Zaidan disertai tarikannya pada Khanza. Membawa gadis itu ke dalam pelukan.
Pemandangan yang menciptakan luka pada ceruk perasaan Mutiara saat itu juga.
Mutia memilih bergeming di tempat. Berbatas tembok yang agak tinggi, Mutia bisa mendengar semua yang diobrolkan Khanza dan laki-laki yang dia kenali adalah Zaidan.
Mutia membeku di tempat saat kata-kata cinta itu keluar dari bibir Zaidan untuk Khanza. Batinnya mendadak terasa sakit. Mutia tertawa lirih. Bisa-bisanya dia tidak menyadari satu hal, bahwa inisial K yang dimaksud Zaid dalam buku catatannya adalah Khanza.Perasaan Mutia berkecamuk. Antara marah, kecewa dan sedih, membaur jadi satu. Di satu dia merasa sangat kecewa pada Zaidan dan Khanza. Kenapa harus menyembunyikan semua darinya. Ingin marah, melabrak Khanza saat itu juga, tapi sisi nurani Mutia memberi sinyal, bahwa keadaan yang rumit bukan untuk saling menyalahkan. Toh dia mendengar sendiri kalau Khanza telah ikhlas melepas Zaidan. Mutia ingin egois, sekali ini saja dengan mempertahankan Zaidan untuknya sendiri. Tidak dimungkiri deru-deru rasa kagum telah lama mengakar di hati Mutia pada Zaidan. Semakin lama, perasaan yang awalnya hanya kekaguman, berubah menjadi rasa lain yang lebih hebat. Rasa yang tak bisa dijabarkan dengan banyak kata, tapi mampu menerjemahkan isi hati melalui sikap.
Gerakan samar lelaki di sebelahnya membuat Mutia kaget, reflek menarik tangannya dari puncak kepala Zaid--tapi terlambat, lelaki itu lebih dulu menangkap genggaman tangan Mutia, membawanya ke depan bibir dan memberi kecupan singkat pada punggung tangan sang istri.
"Kenapa berhenti?" tanya Zaid dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kamu udah bangun, aku mau siapin keperluan kamu, Mas." Mutia beranjak dari sisi tempat tidur. Melangkah menuju walk in closet untuk mengambil pakaian yang akan dikenakan Zaidan. Kemeja pirus garis-garis, dasi dan celana panjang hitam milik Zaidan sudah berada di tangan Mutia. Beberapa saat kembali ke sisi tempat tidur, meletakkan keperluan Zaidan di sana.
"Mas mau sarapan apa? Biar aku siapkan." Tawaran Mutia mendapat gelengan Zaidan. Lelaki itu memangkas jarak, berdiri persis di sebelah Mutia.
"Kamu terlalu rajin, Mutia. Saya belum selesai bicara tadi," ucap Zaid. Mutia mendengak memandang sosok tinggi di sebelahnya. "Saya hari ini ambil cuti, jadi santai saja, kamu enggak perlu nyiapin apa-apa," lanjut Zaidan mengimbuhi.
"Oh, maaf, aku enggak tahu."
"Kamu ada rencana ke mana hari ini?"
Mutia menggeleng pelan. Zaidan tersenyum lembut. Lelaki itu menarik tangan Mutia, menghelanya duduk di sofa tunggal yang ada di kamar ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Luka
SpiritualSeluruh Hak Cipta © Dilindungi oleh Allah SWT. Zaidan mencintai Khanza, gadis yang baru dikenalnya beberapa waktu. Entah kenapa ada rasa tak biasa dalam relung hati, seolah Zaidan telah lama mengenal Khanza. Di saat cinta sedang menggebu, Zaid pun...