5# Berjalan Tanpa Cinta?

2.3K 206 47
                                        


Mutiara melangkah dengan wajah semringah. Kafe tempat Khanza bekerja menjadi tujuannya. Kali ini selain untuk santai sejenak di kafe tersebut, Mutia juga berniat memberikan undangan pernikahan-nya pada Khanza. Tadinya Mutiara meminta Zaidan menemaninya ke kafe ini, dia juga berniat akan mengenalkan Zaid pada sosok Khanza. Akan tetapi Zaidan menolak dengan alasan harus mengikuti rapat dengan dewan direksi rumah sakit.

Kafe tidak terlalu ramai saat Mutia menguak pintu kaca. Mutiara tidak langsung duduk, matanya sibuk memindai sekitar  mencari keberadaan Khanza. Senyumnya terbit menyaksikan Khanza sedang mengantarkan pesanan ke meja tamu. Setengah berteriak pada Khanza sembari melambaikan tangan.

"Mbak Mutia..." Khanza menghampiri. Ada gejolak dalam hatinya, sejak tahu bahwa Mutiara ternyata adalah calon istri Zaidan. Sebersit amarah sempat mencuat. Namun Khanza sadar bahwa semua ini bukanlah kesalahan Mutiara. Apalagi gadis itu telah bersikap sangat baik padanya. Semalam sejak Khanza memutuskan untuk ikhlas, dengan membakar apapun yang berhubungan dengan Zaidan, lalu, saat ini ia juga harus bisa menghadapi Mutiara.

"Hei... Ayo duduk sini, saya bawa sesuatu buat kamu." Mata Mutia berbinar cerah saat berbicara.

Khanza duduk tanpa mengeluarkan kalimat sekata pun.

"Za, kamu harus datang ya. Minggu depan pernikahan saya." Mutiara mengangsurkan undangan yang sama dengan yang dibawa Zaidan waktu itu. Khanza menelan ludah dengan susah payah.

"I-insya Allah, Mbak," sahutnya dengan nada terbata.

"Kenapa Za?"

"Nggak pa-pa, Mbak. Aku cuma malu aja kalau harus datang ke sana. Pasti yang datang orang-orang penting semua, kan, Mbak? Sedangkan aku ini siapa?" Tidak bohong Khanza beralasan seperti itu. Ia saja belum bisa membayangkan apa sanggup jika harus menyaksikan Zaidan mengucap janji suci yang harusnya untuknya, tapi malah dengan perempuan lain.

Mutiara menggeleng dengan kalimat Khanza. "Apaan, sih, Za, kamu itu tamu spesial saya. Pokoknya harus datang ya. Soalnya nanti saya juga mau minta tolong sama kamu."

"Minta tolong apa, Mbak?"

"Jadi Bridesmaids di resepsi saya nanti, mau, kan?"

Khanza terkejut dengan permintaan Mutiara. Datang sebagai tamu undangan saja ia belum tentu bisa, apalagi ingin dijadikan Bridesmaids atau pendamping pengantin perempuan. Khanza tidak tahu harus menjawab iya atau tidak.

"Khanza, mau, kan?" Mutiara kembali bertanya atas gemingnya Khanza.

"I-insya Allah, Mbak. Tapi aku nggak janji ya, soalnya..." Khanza menggantung kalimat. Berusaha mencari alasan yang masuk akal.

"Soalnya kenapa, Za?"

"Soalnya aku harus jagain nenek di rumah, Mbak. Nenek udah tua, sering sakit-sakitan juga, aku khawatir kalau harus ninggalin lama-lama." Alasan Khanza bisa terbilang tepat. Ia memang tidak bisa jika harus meninggalkan nenek Aminah dalam waktu yang lama.

"Yaudah, tapi aku masih berharap kamu mau, ya."

Khanza mengangguk. Sejurus getaran ponsel mengalihkan fokusnya. Meraih ponsel yang disimpan dalam saku, Khanza membuka salah satu ruang chat. Ada pesan masuk, yang membuatnya tidak percaya, pesan itu dari Zaidan.

[ Assalamualaikum Khanza, bolehkah kalau Mas ingin ketemu sore ini. Tolong Za, jangan menghindar. Sekali ini saja. Mas cuma ingin minta maaf]

Khanza membaca sembari berpikir. Ragu awalnya. Namun setelah dipikir, ia juga ingin bertemu dengan Zaidan, sekaligus mengucapkan selamat, lalu Khanza juga ingin memperingatkan Zaid agar laki-laki itu melupakannya untuk selamanya.

Cinta Dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang