Mutiara menangis semalaman. Angannya buyar. Hatinya seperti ditusuk sembilu. Sikap Zaidan masih sama seperti awal mereka bertemu. Dia abai. Acuh tak acuh. Semaunya sendiri tanpa peduli ada Mutia di sampingnya.
Ya Allah, sampai kapan dia akan menerima perlakuan Zaid yang semena-mena. Padahal semalam sudah membayangkan bahwa mencoba baju pengantin bersama Zaidan akan meninggalkan kesan yang manis.
Mutia juga membayangkan seperti di film-film atau FTV, si laki-laki yang sangat romantis, dengan perhatian kecil namun sangat manis. Membantu memasangkan heels atau mengusap lembut peluh yang mengucur dengan selembar tissue. Ah, nyatanya Mutia terlalu tinggi berangan-angan. Sekarang ia merasakan sakit saat terjatuh dari ketinggian itu.
"Saya tegaskan sama kamu! Kita memang akan menikah, tapi ini maunya mama, bukan mau saya. Jadi jangan berharap lebih. Pernikahan kita nanti hanya akan menjadi status!"
Kalimat Zaid semalam masih terngiang di telinga Mutia. Sangat menyakitkan. Ia bisa saja memilih mundur dan tidak melanjutkan rencana ini. Tetapi Mutia tidak ingin jadi pecundang. Perjuangannya baru dimulai, apa ia harus mengaku kalah secepat ini.
Mutia menelan ludah dengan susah payah. Berusaha menyembunyikan segala perasaan sesak. Di kafe ini, Mutia berusaha menghibur diri. Duduk di sudut ruangan. Menghadap ke arah taman. Ekor mata Mutia menatap anggrek bulan yang menggantung di sisi kanan. Anggrek itu sangat cantik. Namun ia tidak bisa memilih ingin hidup di mana. Hidupnya sudah ditentukan, bahwa anggrek bisa bertahan jika hidup dalam gumpalan sekam. Lalu ditempel di dinding atau batang kayu. Ironi. Sama seperti hidup Mutia. Ia cantik. Sangat cantik malah. Namun Mutia tidak punya pilihan lain untuk tetap menerima Zaidan sebagai calon suami.
"Satu espresso dan satu tiramisu, silakan Mbak. Ada yang mau ditambah?" Seorang waiters meletakkan pesanan Mutia di mejanya. Reflek menoleh, karena ia merasa tidak asing dengan suara itu.
"Kamu Khanza, kan?" Tegur Mutia langsung ingat.
"Mbak Mutiara, ya?" Sahut pelayan kafe yang ternyata adalah Khanza. Mutia menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis. Tersenyum manis pada Khanza. Pikiran yang dijejali oleh sikap Zaidan membuat Mutiara baru ingat kalau saat ini berada di kafe yang juga tempat Khanza bekerja.
"Ayo duduk sini, Khanza." Mutia menarik kursi yang ada di depannya, mempersilakan Khanza duduk.
"Maaf Mbak, bukannya mau nolak, tapi saya sedang sibuk, lagi ramai pengunjung. Sebentar ya, Mbak. Nanti saya ke sini lagi." Pamit Khanza. Mutia mengangguk disertai ulasan senyum. Memang benar, kafe lumayan ramai dengan pengunjung. Ruang hati Mutiara yang sempat menahan nyeri akibat perkataan Zaidan semalam agak mereda saat bertemu Khanza. Selama ini Mutia memang tidak banyak memiliki teman. Waktunya habis untuk fokus dalam kerjaan. Ada beberapa sahabat dari jaman di bangku SMA dan kuliah, namun kebanyakan mereka sudah pindah, melanjutkan study ke luar kota, malah ada yang ke luar negeri. Pun ada juga yang sudah menikah dan diboyong oleh suami mereka. Kehilangan jejak.
"Mbak Mutia," sapa Khanza setelah beberapa saat. Gadis itu menarik kursi di depan Mutia dan beranjak duduk. Pengunjung sudah terlihat agak longgar.
"Hei, udah ga sibuk?" Tanya Mutia. Ia tidak mau kalau sampai kerjaan Khanza jadi terganggu.
Khanza menggeleng, "Alhamdulilah udah longgar, Mbak. Ke sini sendirian ya, Mbak?"
"Iya, sudah biasa sendiri."
"Maaf Mbak, aku perhatikan dari tadi Mbak Mutia kayak lagi mikirin sesuatu yang berat." Lontar Khanza. Sebagai sesama perempuan ia bisa membaca gurat itu di wajah Mutiara.
"Kamu benar Za. Ada sesuatu yang mengganjal di hati saya."
"Mbak, kita emang baru kenal, kata Mbak Muti, kita teman, kan? Kalau Mbak ga keberatan, boleh kok, cerita sama aku," tawar Khanza.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Luka
EspiritualSeluruh Hak Cipta © Dilindungi oleh Allah SWT. Zaidan mencintai Khanza, gadis yang baru dikenalnya beberapa waktu. Entah kenapa ada rasa tak biasa dalam relung hati, seolah Zaidan telah lama mengenal Khanza. Di saat cinta sedang menggebu, Zaid pun...
