5. Tension

1.8K 237 4
                                        

(Maaf untuk part kali ini tidak ada gambarnya, karena saya susah buka pinterestnya)

***

Kami berkumpul di ruangan tersebut dengan minuman keras sebagai suguhannya.

Aku terkejut saat paman memberi tahu mereka adalah kelompok kriminal bonten yang terkenal itu.

Disaat paman sedang mengobrol dengan salah satu dari mereka, apa tidak apa apa kalau paman bekerja sama dengan mereka. Aku dengar mereka pembunuh yang keji. Tak terlepas sepertinya aku pun begitu.

Aku tidak terlalu berfokus pada percakapan paman. Aku malah berfokus memikirkan siapa ketuanya dari mereka ini. Apa mungkin pria yang memiliki luka gores di salah satu matanya? Karena ialah yang banyak bercakap dengan paman dibandingkan anggota yang lain.

Apalagi pria yang ku katakan pernah bertemu denganku dan berbicara denganku itu, ia malah hura-hura menikmati suguhannya.

Karenanya aku pun jadi penasaran dengan rasa minuman itu, sepertinya cukup enak. Tapi jika aku meminumnya, aku harus membuka maskerku terlebih dahulu. Nanti ia akan mengenaliku.

"Apa kau membawa contoh obatnya?" Ujar pria yang kukatan pernah berbicara denganku itu.

"Iya aku membawanya untuk sempel." Paman langsung buru buru mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang ia kenakan. Dan dikeluarkannya sebuah barang yang paman jual itu kepada pria tadi.

Wajah pria itu tampak ceria melihat barang haram tersebut yang berpindah tangan ketangannya.

"Apa efek sampingnya bisa membuat kita mati?"

Apa pula yang ia tanyakan.

"Kalau kau mengonsumsinya dengan dosis yang sangat banyak, tentu saja. Mungkin dalam sekejap nyawamu akan melayang." Balas paman, ya seharusnya ia pun mengetahui itu tanpa bertanya juga.

Pria itu terkekeh lalu di keluarkannya dua butir ke dalam telapak tangannya.

"Hey, Sanzu. Apa kau akan memakannya? Kondisimu sedang mabuk." Ujar salah satu dari mereka yang menurutku penampilannya agak aneh.

"Koko! Aku tidak mabuk, hehe."

Oh astaga, tingkahnya memang sangat menyebalkan atau bagaimana? Aku tidak mengerti. Sudah jelas ia sedang mabuk, aku lihat dia terus terusan menegak alkohol itu dari tadi.

"Mikey, apa aku boleh mencoba obat ini?" Pria itu mensodorkan tangannya di depan pria yang berada di sampingnya.

Aku langsung membulatkan mata saat mendengar nama itu. Apa orang yang bernama Mikey itu dia? Orang yang sangat suram, penampilannya tidak dapat di deskripsikan. Yang aku bisa lihat  sorot matanya itu sangat gelap.

Tapi percakapan dari teman-teman Inui kemarin, terdengar jelas bahwa mereka sangat mengagungkannya. Apa aku salah mengira?

"Hah, terserah kau saja." Suara rendah itu mampu membuat suasana ruangan agak sedikit tegang.

Saat aku masih memperhatikan orang yang bernama Mikey itu, orang itu melirik kearahku dengan tatapan tajamnya. Disitu jantungku rasanya akan melompat karena ketakutan. Untuk pertama kaliny aku merasakan hal ia, seakan ada yang menusuk dadaku lewat tatapan tersebut.

Ugh menyeramkan.

Aku langsung membuang wajahku sambil membenarkan kerah leher kemaja yang ku pakai, tiba-tiba tenggorokanku rasany tercekat.

Aku berdeham-deham. Pria yang berada di sampingku, pria yang sepertinya teman pamanku itu berinisiatif mengambilkanku secangkir air.

"Kau haus ya?" Tanyanya.

Aku tidak menjawabnya namun mengambil cangkir tersebut.

Saat aku melihat kedalam cangkir tersebut. Wajahku seketika berubah kesal. "Hey, ini alkohol."

Ah sial! Aku malah bersuara dan suaraku cukup jelas terdengar seruangan itu. Itu terbukti jelas dari tatapan mereka yang mengarah padaku dengan tatapan terkejut.

"Hoi apa anak buahmu itu seorang wanita paman tua?" Tanya salah seorang pria yang pernah bertemu denganku.

Paman langsung dilanda kepanikan karena pertanyannya. Aku pun sama begitu.

"Memangnya kenapa jika dia benar seorang wanita?" Terdengar suara rekan pamanku di tengah kepanikan aku dan paman.

Pria yang tadi bertanya itu menggeleng. "Tidak, kalian cukup berani membawa seorang wanita di pertemuan antara seorang pria ini." Balasnya. "Kau tadi haus bukan? Silahkan minum." Lanjutnya sambil mempersilahkanku untuk minum.

"Kalau dia mabuk bukan salah kami." Sambung salah satu dari mereka kembali yang duduk tepat di samping pria tadi. Pria itu juga pernah aku temui.

Pamanku langsung menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan ketegangannya tadi. "Baiklah aku perkenalkan ia adalah keponakanku sekaligus eksekutif di kelompok kami. Kalian pun harus mengenalkan karena setelah ini kita akan selalu berurusan."

Apa?

Paman menyuruhku mengenalkan diriku? Sial.

Aku melihat kearah paman dengan tatapan yang tak percaya. Aku tindakan ini tidak salah. Aku takutnya aku malh masuk ke dalam lubang buaya jika harus memperkenalkan diri kepada mereka, mereka akan mengenaliku saat aku berada di luar nanti.

"Nah, ayo nona. Coba perkenalkan dirimu." Ujar pria yang kalau tidak salah seperti perkiraanku namanya Sanzu.

Harusnya sebelum kesini aku mengikuti saran paman untuk mengenali satu satu anggota mereka, namun aku menolak dan menganggap itu sangat mempusingkan. Jadinya sekarang aku takut keliru untuk menyebutkan nama mereka.

Aku lalu pasrah dan berdiri. Membuka maskerku dan menggerai rambutku kembali.

Tunggu dulu, apa itu harus?

Aaaah bodoh sekali, harusnya meski aku tidak membuka masker pun tetap bisa memperkenalkan. Namun kini sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Dan mereka sudah melihat wajahku.

"Wow, dunia itu sempit ya nona? Bukannya kita pernah bertemu sebelumnya." Ucap pria yang bernama Sanzu tadi.

Pria yang di sebelah Sanzu mengerutkan dahinya lalu bertanya. "Kau pernah bertemu dengannya?"

"Bukannya kau juga pernah? Kita bertemu waktu itu. Dia adalah wanita waktu itu yang membawa pistol di saku celananya." Jelas Sanzu.

Untuk apa dia mengingatnya, dan lagi. Diakan sedang mabuk, harusnya pikirannya sedang melayang layang saat ini. Dasar pria menyebalkan satu itu.

"Hah ya, aku pun melihat wajahnya waktu itu."

"Eh Rin kau pun tau? Matamukan rabun."

"Hah mata siapa yang rabun melihat seorang wanita."

"Hoh aku tidak percaya kau mata keranjang."

"Bukannya kau sedang mengatai dirimu sendiri, Sanzu?"

"Itu hal wajar bagi seorang pria."

"Menjijikan."

"Kalian bertiga, bisa berhenti bicara tidak?" Suara rendah namun penuh tekanan itu dapat membuat ketiga pria dewasa tadi membisu.

Oh apa ini yang di namakan, the power of Mikey?

______________________________
Bersambung...

Kan saya bilang, saya akan mengetik lebih panjang sedikit. Jadi saya menambahnya hanya sedikit.

Gomen ne:>

Arigatouuuu:^^

Bad Crew | BONTEN | [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang