27 - schlaflose Nacht

53 9 5
                                    

'Zeke ingin menunjukkan ke warga kerajaan dan kerajaan tetangga kalau memakan daging setengah manusia-elf akan menjadi dirinya bisa awet muda dan hidup selamanya. Ibunya Zeke, meninggal karena warga yang mengetahui memburunya'

"Bukankah hanya lima hari saja menjadi setengah manusia-elf?" tanya Petra. Eld dan lainnya rupanya ikut dalam membaca kabar tentang itu terbang mengarah pada mereka. Eld langsung menimpali, "Karena ibunya Zeke adalah seseorang yang berasal dari keturunan Ymir Dryad sendiri, dia bernama Dina"

Eld bercerita pada teman-temannya, Petra menjelaskan dalam bahasa manusia pada Levi, "Aku pernah bilang kan salah satu elf dari pohon ek pernah menjadi manusia. Saat itu, Dina sendiri yang mengajukan dirinya karena pabrik logam dan jatuh cinta pada sang raja. Pabrik logam tidak jadi didirikan dekat hutan, namun Dina malam itu mengungkapkan dirinya pada raja dan melakukan 'itu' dengan sang raja pada masa Dina masih setengah manusia dan setengah elf. Sang raja merahasiakan kehamilan Dina dan statusnya, anak yang dikandungnya adalah Zeke. Rupanya menjadi incaran dari beberapa kerajaan dekat untuk menghabisi Dina. Setelah melahirkan Zeke di sore hari, malamnya Dina dikejar, sang raja tak berkutik karena tak bisa menjaga Dina hingga Dina lari sampai pada pohon ek. Kekuatannya saat itu lemah karena setelah melahirkan akhirnya meninggal. Dryad Ymir menutup jasad Dina di bawah akar pohon ek"

Kisah yang tragis, alasan mengapa Zeke ingin mengkhianati kerajaan tetangga, alasan mengapa dia ingin membuktikan bahwa dengan memakan dagingnya setengah manusia-elf bisa abadi, alasan mengapa ia balas dendam pada semuanya.

Petra tertunduk, kalau begitu dia ingin bicara langsung pada Zeke kalau tidak ada yang namanya kehidupan abadi dengan memakan dirinya. Seakan bisa membaca pikiran Petra, Levi mengelak, "Terlalu beresiko. Besok adalah hari terakhirmu menjadi manusia setengah elf"

Petra terdiam, ucapan Levi ada benarnya, sama saja ia menyerahkan dirinya.

"Besok, kau tidak boleh terlihat di rumah ataupun di kerajaan. Sebelum itu, aku harus menyembunyikan ibuku pada Erwin agar beliau aman. Lalu kita pergi, dengan kekuatanmu untuk menidurkan yang berada di hutan dan kekuatan teman-temanmu. Berkeliling di dalam hutan sampai fajar tiba" Levi memberikan siasatnya. Tadi Hange meninggalkan dua kuda miliknya untuk Levi pinjam, berjaga-jaga melarikan diri.

"Tapi kita tak boleh menggunakan kekerasan" Petra kekeuh dalam kewajibannya sebagai elf.

"Atau kau memang bersedia sebagai santapan? Menggunakan kekerasan untuk melindungi diri bukanlah kejahatan, Petra" Levi tak bisa paham dengan jalan pikiran Petra. Petra tertunduk. "Kita hanya memberinya pelajaran, tidak sampai membunuhnya" imbuh Levi.

"Baiklah Petra. Kami akan terus melindungimu. Kau jaga dirimu" ucap Oluo berpamitan.

"Sebagai gantinya agar kami bisa komunikasi dengan Levi, kami menggunakan bel untukmu agar mengerti isyarat dari kami. Lonceng sekali artinya waspada dan yang kedua artinya bahaya" ucap Eld sambil menyerahkan lonceng yang seukuran lebih besar dari Eld pada Levi. Levi menerimanya dan mengikatnya di sabuk celananya.

"Dan Petra, jangan khawatir. Kami akan menjagamu, terus dengarkanlah angin pohonku ya" ucap Gunter menenangkan Petra. Oluo, Eld, dan Gunter pergi berpencar sekitar hutan.

Petra terdiam karena tak bisa membayangkan dirinya akan dihabisi seperti manusia yang sedang makan. Tidak, itu mengerikan. Tapi yang lebih penting juga adalah sayap keemasannya karena ia tak mau mati di dua keadaan.

**

"Jangan senandungkan lagu tidurmu padaku" Levi menoleh pada Petra.

"Untuk saat ini, tidak akan ku lakukan" Petra masih terduduk di sofa panjang dengan kepala yang masih tertunduk. Levi beranjak dari duduknya menuju dapur, menyalakan api untuk memanaskan air panas. Menuangkan teh pada cangkirnya dan cangkir baru Petra yang belum ia gunakan sejak kemarin.

Levi memberikan teh pada Petra, "Agar kau bisa tenang" Dan benar dari ucapan Levi, kehangatan cangkir itu menjalar ke telapak tangannya yang dingin karena gugup dan takut. Memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya, termasuk pada kematian dua keadaan yang tidak tau bagaimana akhirnya sebagai akibat tidak menjaga sayap keemasan miliknya.

"Kau memikirkan apa?" tanya Levi setelah menyesap tehnya.

Ketakutan yang sedari tadi Petra rasakan, tak bisa ia ceritakan pada Levi. Memilih untuk bertanya tentang manusia, "Sepertinya kau tidak ingin mengalami dari sebentuk cinta ya?"

Alis Levi berkerut dengan pertanyaan mendadak Petra yang tidak ada hubungannya dengan kejadian sekarang tapi lebih baik untuk mengusir rasa sepi dan kantuknya, "Bagaimana kau simpulkan begitu?"

"Kan sebelumnya pernah bilang kau tidak akan ditolak oleh wanita yang memujamu. Kau tidak memilih mereka karena tidak sesuai standarmu. Sedangkan standarmu sepertinya terlalu berlebihan hingga-"

"Itu hanya alasan. Aku tidak menyukai mereka" Levi memotong ucapan Petra. "Karena yang aku sukai bukan berada di kerajaan"

Petra manggut-manggut dan menyesap teh, "Kau tau bila aku sudah menjadi manusia, aku ingin mengalami sebentuk cinta itu. Kau ingat sepasang kekasih di ujung gang itu terlihat menggebu-gebu dan aku ingin seperti itu"

Levi mengalihkan pandangannya, "Yang seperti kau lihat, kau terlalu cepat untuk melakukan itu"

Petra tersipu di balik cangkirnya, melihat Levi yang melihat ke arah jendela tak berani menatapnya. Petra makin berbuat iseng pada Levi, "Kalau begitu setidaknya aku ingin seperti Eren dan Mikasa yang tiap pergi berpamitan, berciuman di depan rumah. Mereka manis sekali"

"Hal itu wajar dilakukan sebagai sepasang kekasih" Levi menjawabnya dengan cepat dan segera meminum tehnya.

"Kalau begitu siapa yang cocok sebagai kekasihmu?" tanya Petra yang masih dengan keisengannya. Levi tak menjawab, kepalanya menoleh ke arah Petra. Menatap datar.

Petra mengalihkan, "Ah, selagi aku memiliki kekuatanku harusnya aku bersenandung pemanggil perhatian agar kau bisa segera mendapatkan kekasih"

"Pikirkan dirimu. Kau sedang dalam incaran"

Petra tertawa kikuk, ia hanya ingin menghilangkan ketakutannya dengan berbicara diluar dari topik. Tapi sepertinya Levi tidak begitu tertarik dengan topik itu.

"Kalau kau sendiri, standar kekasihmu seperti apa?" tak diduga Levi bertanya hal itu.

"A-aku? hmm" Petra jadi berpikir tipe kekasih apa yang diinginkan setelah ia menjadi manusia seutuhnya, tidak ada salahnya bukan untuk berpikiran kemungkinan baik yang bisa saja terjadi. "Aku ingin memiliki kekasih yang tampan, baik hati, suaranya enak didengar, berkasih sayang denganku, bisa menjagaku, perkataannya tidak kasar, murah senyum dan kalau sudah bersama ia mau menetap di hutan"

"Tipe kekasihmu seperti dalam kisah dongeng anak-anak. Tidak ada yang sesempurna itu"

"Tapi aku tidak sepertimu yang melulu soal standar" Petra jadi sebal kalau disamakan dengan Levi. Levi hanya menggelengkan kepala, "Ada-ada saja"

The Wind at DawnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang