4 - Es war Einmal

83 11 0
                                    

Levi tau dirinya akan dipanggil lagi oleh pihak kerajaan meski tadi ia bertindak kasar. Ya, ia tau kapabilitas dirinya yang sangat dibutuhkan oleh kerajaan, tak hanya kerajaan ini tapi kerajaan lain di sekitarnya. Hingga pihak kerajaan segan dengannya.

Hampir semua orang yang berada di kerajaan, ia membencinya. Terkecuali dua orang sahabat sejatinya dan beberapa teman lainnya yang selalu mendampingi sahabatnya.

Levi berkunjung di kediaman Erwin yang saat ini banyak orang yang duduk mengantre menunggu giliran. Diselingi bersin atau erangan kesakitan. Levi pun ikut menunggu di antrean terakhir. Tak perlu menunggu lama, Mike datang menghampiri Levi. Indera penciuman Mike sangat peka dengan bebauan temannya ini yang berbau sabun.

Mike datang sambil menunduk berbicara pada Levi, "Ada yang mau kau bicarakan pada Erwin?"

"Tidak, berikan ini pada Erwin" Levi menyerahkan selembar kertas yang dilipat pada Mike. Hanya memberitahukan letak rumah Levi di dalam hutan untuk jadwal kontrol ibunya.

"Baiklah" Mike menyahuti dan kembali masuk. Rumah dokter Erwin memang sedang sibuk-sibuknya jadi Mike juga harus segera membantu Erwin di dalam.

Levi berjalan lagi, kali ini menuju rumah Hange yang nampak tertutup rapat dengan gorden jendela yang ditutup. Kalau sudah begitu artinya Hange sedang melakukan eksperimen pada takhayul yang sebagian orang masih percayai. Konon tentang keberadaan sekumpulan makhluk bersayap penjaga hutan.

"Hohoho Moblit, cepat sketsa dia sekarang" teriak antusias Hange dari dalam yang terdengar sampai di luar rumahnya. Levi langsung membuka pintu tanpa mengetuk dan izin pemilik rumah. Benar dugaan, Hange sedang mengamati sesuatu yang berada di dalam toples dengan tutup yang sudah dilubangi.

"Kau terlalu berisik, mata empat" Levi langsung duduk di salah satu kursi sembarang tempat karena rumah Hange isinya berantakan dengan buku-buku yang tergeletak di lantai bercampur sobekan kertas dan pastinya debu yang tebal.

Levi merasa risih, akhirnya mengambil sapu tangan dari saku untuk menutup hidung dan mulutnya bersiap membersihkan.

"Hoy, Levi. Kau seperti biasa datang untuk membersihkan. Terima kasih yaa" Hange menyapa Levi yang saat ini sedang memungut sampah dan dimasukkan ke dalam karung.

"Tch. Urus saja pengamatnmu" Levi kembali sibuk membersihkan. Hange hanya melihat pasrah, memiliki sahabat yang berkebalikan darinya. Cukup unik sampai saat ini mereka bisa akur.

"Selagi kau bersih-bersih dan Moblit sedang sketsa. Aku mau membacakan hasil penelitian kakekku" Hange berjalan mencari buku yang dimaksud. Yang diajak bicara hanya diam, tapi Hange yakin Levi akan mendengar.

Buku bersampul hijau pupus dengan tulisan dengan judul tiga huruf. Hange berdeham membuka buku dan membacanya, "Elf memiliki tugasnya masing-masing, ada yang bertugas menumbuhkan pohon, ada yang menyuburkan lahan, bahkan ada yang mengurus bayi-bayi binatang hutan. Tugas itu diberikan karena mereka terlahir dari salah satu bagian dari tumbuhan atau binatang itu. Dihidupkan oleh dryad, ibu dari peri hutan"

"Lalu aku melakukan percobaan seperti berbicara padanya, tampaknya mereka paham malah wajah mereka ekpresif seperti kita. Ah, kau tidak termasuk Levi. Wajahmu terlalu datar untuk ukuran manusia. Hahaha"

"Dan satu lagi, sepertinya mereka hidup muda selamanya karena aku menemukan ini. Sini Levi lihatlah, ini buku milik kakekku disketsakan lima puluh tahun lalu. Dan sekarang lihatlah sini" Hange menyeret lengan Levi mendekat ke arah toples yang saat ini isi di dalamnya disketsakan oleh Moblit. Levi hanya menoleh sesaat.

"Wajahnya mirip kan. Yah meski aku dan kakekku sama-sama menemukan dia yang wajahnya nampak tua tapi terlihat kan dia tidak berubah sama sekali. Tuh, ekspresinya kelihatan ketakutan." Hange memelototi di dalam toples itu dengan wajah kegirangannya.

"Bagaimana Levi, kau sudah tinggal di dalam hutan. Apakah kau pernah tak sengaja melihat mereka? Atau sepintas mereka terbang melewatimu? Atau kau merasa dilihat oleh seseorang?" Hange menoleh ke arah Levi yang tetap diam sibuk membereskan buku-buku di lantai ke rak lemari.

Tidak ada tanggapan dari Levi, Hange menyerah "Ah sudahlah".

Hange beralih kembali mengamati Moblit menanggapi sketsanya, "Wah, sketsamu bagus Moblit. Lebih bagus dari punya kakekku. Hahaha" Hange menggoyang-goyangkan badan Moblit karena kegirangan "Hentikan, Ketua. Gambarku jadi berantakan"

The Wind at DawnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang