Rupanya Petra benar-benar tidak nyenyak. Tidurnya hanya empat jam. Namun badannya segar bugar berkat elfnya. Petra membuka pintu kamar perlahan, terlihat Levi masih tidur. Lalu Petra keluar dari log cabin, ingin bertemu dengan teman-teman di pohon redwood.
Eld merasakan kehadiran manusia dengan cepat Eld berteriak, "Segera kalian bersembunyi"
Mendengar itu Petra membuka tudung dan mengepakkan sayapnya. Bunyi gemerincing bel yang terdengar dari telinga manusia.
Eld barusan mengetahui kalau Petra datang , terbang menghampiri begitu pula dengan Gunter dan Oluo, "Petra bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja, Eld. Saat ini ada yang ingin aku laporkan kepadamu"
"Kau bisa cerita kapanpun, tapi lebih baik kita tidak berbicara disini" ucap Gunter setelah menoleh ke belakang karena elf lainnya bersembunyi ketakutan di balik ranting.
"Ikutlah aku" Petra berjalan kembali menuju rumah Levi.
Oluo berteriak kencang karena mengetahui rute yang mereka tempuh, "Stop!! Disini saja. Sudah tak terlihat oleh elf lainnya dan jangan sampai kau ketahuan kalau kau -"
"Levi sudah tau" jawaban Petra membuat Oluo, Eld dan Gunter terdiam.
"Dan ada dua orang lainnya yang tinggal di dekat perbatasan hutan dan pemukiman juga mengetahui karena aku butuh pakaian wanita manusia umumnya" ujar Petra sambil mengibaskan roknya.
Reaksi kaku dari teman-temannya, tanpa ada yang berani berkomentar. Petra segera mengalihkan, "Tenang saja mereka akan merahasiakannya. Ada yang perlu aku laporkan, sebenarnya aku masih -"
"Petra, kalau kau kerepotan. Panggil saja kami. Jangan melibatkan banyak manusia" Eld memotong perkataan Petra. Gurat setuju juga terpampang dari Oluo dan Gunter.
Petra tau kalau mereka sedang khawatir padanya, "Manusia sama halnya kita yang saling tolong menolong, Eld. Mereka orang-orang yang baik. Kalian tenang ya"
Oluo menghela napas berat, "Tapi lelaki itu kenapa mengetahui juga?"
"Aku sempat pingsan karena kelaparan" jawab Petra dengan sedikit tawa.
"Eh? Itu apa?" pertanyaan mereka hampir serempak.
"Sudahlah, intinya aku masih dalam penyesuaian menjadi manusia. Tinggal empat hari lagi sebelum aku benar-benar tidak bisa berbicara dengan kalian. Kali ini aku akan menemui adik dari seorang raja yang kemungkinan bisa membantuku. Dia tinggal di sekitar hutan" jelas Petra.
"Aku tau, dia pernah menggunakan pohonku untuk membangun rumah. Tak jauh dari sini, tinggal menuju ke arah utara" Gunter sebagai perawat pohon mengetahuinya.
"Terimakasih Gunter. Kalian kembalilah segera, sebentar lagi sudah fajar"
"Ya Petra, semoga kau berhasil hari ini" ucap Eld sambil berlalu. Disusul Gunter.
Oluo masih terdiam, "Jaga sayapmu baik-baik Petra" kemudian berlalu pergi ke arah pohon redwood. Harusnya Oluo tidak mengkhawatirkan itu.
**
"Aku diusir dari istana karena aku mencintai seseorang yang keturunannya berasal dari negeri yang jauh" Eren sambil menggenggam erat tangan wanita berwajah oriental bernama Mikasa di sampingnya.
Cinta? Apakah itu?
"Itu terdengar rumit. Tapi bantulah aku untuk kau kembali ke istana. Memerintahkan dengan bijak untuk tidak membabat habis hutan hanya karena perluasan wilayah" nada Petra sedikit memelas.
"Aku khawatir akan terjadi apa-apa dengan Mikasa" kepala Eren tertunduk seakan tidak mau membahas lebih lanjut untuk rencana Petra menggulingkan kerajaan, mencopot jabatan Zeke sebagai raja Paradies.
"Baiklah kalau begitu. Sebentuk cinta yang kau pertahankan pada Mikasa sama halnya aku dengan hutan ini" Petra tak menyerah membuat Eren agar mengerti.
Mikasa tertawa menutup mulutnya dengan anggun, sedangkan kepala Eren jadi bangkit kembali mendengar paduan kata yang aneh dari Petra, "Sebentuk cinta?"
Petra jadi diam seribu bahasa takut-takut ketahuan kalau dirinya baru menjadi manusia seharian, menyunggingkan senyum untuk menutupinya.
"Baiklah, aku akan datang ke kerajaan dan juga istana menemui kakak tiriku. Sudah seharusnya dia sadar diri" akhirnya Eren akan membantu Petra. Petra senangnya bukan main.
"Terimakasih. Terimakasih banyak" sambil menggenggam tangan Eren dan juga Mikasa, menggoyangkan berkali-kali dengan antusias. Eren jadi mengaduh dan Mikasa hanya diam tanpa reaksi.
"Aduh ma-maaf, genggamanmu terlalu kencang Petra. Telapak tanganku bisa patah nanti" ucap Eren yang tertatih. Seketika Petra menarik tangannya, meminta maaf.
"Apa kita bisa ke istana sekarang?"
Pertanyaan Petra membuat Eren menganga. Eren mengiyakan bukan berarti harus sekarang kan?. "Memangnya kau sudah memiliki rencana?" tanya Eren yang sebenarnya ingin menolak halus.
"Hmm, sudah. Nanti kau langsung ke istana menemui raja kemudian aku dan temanku nanti menyebarkan selebaran tentang silsilah keluarga kerajaan yang selama ini ditutupi"
"Ah begitu. Berarti kau memiliki buktinya?"
Petra membatin mengapa percakapan dengan manusia agar memiliki perasaan saling percaya bisa serumit ini. Tidak, sifat manusia seperti itu meski dengan bahasa yang sama. "Aku bisa menyelinap untuk mendapatkannya"
"Tidak perlu. Armin memilikinya. Dia salah satu cendekiawan yang tinggal di istana yang juga temanku. Kita bisa memintanya"
"Kita harus segera Eren. Tak ada hari esok yang berubah kalau hari ini kita tidak memulainya. Dan hubungan kalian tidak ada kesalahan di dalamnya" Petra kali ini merasa ini ujaran persuasif yang sedikit memaksa.
Eren nampak menimbang-nimbang, lagipula hubungan dirinya dengan Mikasa harusnya disambut suka cita oleh rakyatnya bukan disembunyikan dan melarikan diri ke hutan. "Baiklah, kita temui Armin sekarang"
Petra merasa senang mendengarnya, "Baiklah, ayo berangkat"
Eren menggenggam erat tangan Mikasa dan menatapnya lembut, "Inilah waktunya. Demi kita dan demi hutan yang memiliki banyak kenangan" Mikasa menatap mata Eren dengan binar bahagia sambil mengelus syal merah di pangkuannya.
Petra ikut tersenyum melihat pemandangan di hadapannya, sebentuk cinta ternyata memiliki kekuatan yang ajaib, mengubah keputusan manusia untuk diperjuangkannya.
Petra jadi ingin merasakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind at Dawn
FanfictionMatahari mulai terbit menembus sela kabut Memberi secercah cahaya dan kehangatan Semilir angin berbisik menyatakan pertemuan Juga perpisahan bersamaan dengan kabut yang sirna Itulah gambaran tentangmu -- Celebrating RivetraMonth 2021 on December 31...
