Ruang rapat, disinilah Tania berada. Duduk diapit oleh Dela dan Fatur, dan berhadapan dengan Raka.Tania juga tau bahwa yang menabraknya tadi pagi adalah bosnya. Mas Ceo!
'Aduh kenapa harus dia sih yang jadi mas ceo!!!' teriak batin Tania.
"Seriusan dia?" tanya Raka tak percaya. Pasalnya perempuan di depannya ini tidak begitu cantik, biasa saja, dan tidak menarik. Mana bisa memenuhi keinginan kolega.
Fatur memutar bola matanya malas, "serius Ka! lo udah nanya itu berkali kali dan jawabanya tetap iya!"
"Ck, mending lo balik ke kantor lo yang lain deh!" ucap Dela kesal.
Raka langsung menatap sepupunya itu tajam. Dirinya di usir dari kantornya sendiri? Sungguh keterlalun.
"Gimana? kamu mau kan Tania?" tanya Dela.
Tania menatap Raka sebentar lalu beralih menatap Dela. "Eum.."
"Mau kan?" tanya Fatur tak sabar menunggu jawaban Tania.
"Aku gak bisa," jawab Tania lirih namun masih bisa di dengar.
"Loh? Kenapa?" tanya Fatur kaget. Pasalnya setiap perempuan pasti mau jika di tawarkan menjadi model.
Dela sudah menduga akan jawaban Tania.
Sedangkan Raka tersenyum kecil.
"Aku gak memiliki bakat model, lalu aku juga gak suka menjadi pusat perhatian," sahut Tania.
"Untuk bakat, menurut gue seseorang tidak perlu memiliki bakat untuk menjadi model, kau hanya perlu bergaya dan tersenyum di depan kamera," ucap Hasan yang tiba-tiba berdiri di depan pintu ruang rapat.
Dela mengganguk setuju, "ayolah Tania, kamu udah berjanji sama aku akan menjadi model, dan aku menagih janji itu sekarang."
"Tapi aku takut,"
Dela menggerutkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Hasan.
Tania menatap mereka bergantian, "takut mengecewakan kalian."
Fatur dan Dela tersenyum kecil. Sangat cocok, batin mereka.
Raka menatap Tania dengan pandangan sulit di artikan.
"Tidak. Justru kalau kamu menolak, kamu akan mengecewakan kita," ucap Hasan meyakinkan Tania agar mau menjadi model dalam projek besar ini.
"Ayolah, mau ya ya ya?!!" tanya Dela sembari menggoyangkan goyangkan tanggan Tania.
"Tidak usah dipaksa. Masih banyak orang yang mau!" ucap Raka.
"Banyak yang mau tapi gak ada yang pas!" sahut Fatur.
Raka melirik Fatur dan berdecak kesal. 'Tau gitu tadi gue suruh pergi!'
"Gimana?" tanya Hasan.
Tania mengganguk ragu. 'Semoga gak mengecewakan mereka', batin Tania.
"Good!" ucap Fatur.
Raka menghela nafasnya kasar. "Kalau ini tidak berhasil, kau dipecat!"
Tania membulatkan matanya. 'Apa? Di pecat? bahkan gue kerja belum ada seminggu. Oh Tuhan!' teriak batin Tania tak percaya.
Dela menatap Raka sinis. "Astaga! Raka, lo keterlaluan banget! Liat aja gue laporin ke Oma nanti!"
"Kejam sekali bos kalian ini! Tapi gak papa, kalau kamu di pecat kamu bisa bekerja di kantor gue!"Fatur tersenyum menatap Tania.
Tania hanya tersenyum kiku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mas CEO
General FictionRaka Emilio lelaki gila kerja yang sudah cukup umur untuk menikah, membangun rumah tangga. Tapi hingga 1 tahun ke depan tak kunjung menikah juga, dia bahkan sempat dikira tidak normal oleh sahabat dan orang tuanya. Sampai akhirnya dia tidak sengaja...