Halo semuanya, balik lagi nih.
Mau nepatin janji untuk cepet update walau tipis-tipis. Gak apa-apa lah ya ☺️Jangan lupa tekan bintang dan komentar sebanyak-banyaknya ya❤ biar bisa semangat updatenya. Hihihi 🤭
Hope you enjoy, guys ❤
Sorry for typo(s)
"Nyawamu masih ada di sana kan?"
Luhan menatap Baekhyun yang masih diam sembari menatap kosong ke arah depan sejak tiba di ruang kelas.
"Mungkin nyawanya tengah bergentayangan sekarang, untuk mencari penunggu pohon kesemek yang kau kencingi lusa kemarin secara sembarangan," celetuk Wonwoo yang sedang tenang memakan kuaci.
Pemuda yang postur tubuhnya hampir sama seperti Baekhyun itu mendelik kepada temannya.
"Jangan bicara sembarangan ya!"Wonwoo berdecih, ia melemparkan kulit kuaci kearah Luhan.
"Harusnya aku yang berbicara seperti itu. Jangan kencing sembarangan ya!"Luhan mencebik, ia mengibaskan rambutnya yang terkena lemparab sampah kuaci.
"Itukan karena aku sudah tidak tahan lagi. Dari pada aku kencing di celana," belanya dengan polos dan penuh kejujuran."Ya, ya, ya. Percaya saja dari pada menangis."
"Cih, aku bukan anak kecil."
"Katakan itu kepada seseorang yang minggu lalu menangis keras sambil memeluk Baekhyun karena kena tilang."
Baekhyun menghela napasnya. Bahunya yang tadi menegang lantas terkulai lemas. Aktingnya untuk berpura-pura shock dan terkejut karena pernyataan Chanyeol gagal total. Harusnya saat ini dia di interogasi dan mendapatkan jalan keluar. Tapi lihatlah sekarang.
Kemudian pemuda cantik itu menggeram marah sambil menggebrak meja. Hingga Luhan dan Wonwoo terjengit takut.
Tetapi ternyata suara gebrakan itu bukan hanya mengagetkan kedua temannya, melainkan semua teman sekelasnya.
"Maafkan aku, maafkan aku," kata Baekhyun yang langsung berdiri dan meminta maaf dengan rasa bersalahnya. Apalagi melihat tatapan teman sekelasnya yang merasa terganggu.
Pemuda cantik itu lalu duduk sembari menatap datar Wonwoo yang tersenyum miring.
"Sok sekali, ingin menjadi preman?" Tanyanya sekaligus meledek. Karena ia tahu betul watak Baekhyun seperti apa."Aku tidak sengaja," dengus Baekhyun. "Ini juga salah kalian. Kenapa jadi bertengkar dan membuat kepalaku serasa ingin pecah!" Desisnya dengan tidak terima.
"Dia lebih dulu," tunjuk Luhan pada Wonwoo dengan tatapan dendamnya. Sedangkan yang ditunjuk masih saja memakan kuaci dengan wajah santainya.
Baekhyun menghela napas kesal.
"Ini tidak akan berakhir," desahkan kesal yang kemudian menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya.Luhan mendelik sinis pada Wonwoo dan menyenggol kaki temannya itu. Memperingati pemuda bermata sipit itu untuk tetap diam.
"Diam, bangsat!" Desis Baekhyun dengan gumaman samarnya.
Lantas senggol menyenggol kaki yang dilakukan Luhan dan Wonwoo berhenti detik itu juga.
"O-ow, anaknya Byun Minho sekarang bisa mengumpat rupanya," celetuk Wonwoo yang masih saja meledek. Ia kemudian menyimpan kuacinya ke dalam loker mejanya. "Tumben sekali marah-marah, ada apa?"
"Bodoh, kenapa masih bertanya? Jelas-jelas satu sekolah heboh karena Chanyeol mendeklarasikan bahwa Baekhyun adalah pacarnya," celetuk Luhan dengan tidak senang.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRAGMA [CHANBAEK]
FanfictionSejak masuk sekolah dasar pada usia tujuh tahun hingga beranjak remaja seperti sekarang, Baekhyun merasa dia adalah murid biasa saja. Menurutnya tak ada yang spesial, ia bahkan tak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang di buat oleh pihak sekolah...