Bibir merah, mata yang dihiasi eye shadow, eyeliner dan maskara, dan pipi kemerahan. Semuanya hanya agar Jade terlihat seperti Ratu Prom yang pernah Beck kencani dulu, dia pikir dengan riasan ini Beck akan lebih menyukainya. Gadis itu berusaha sangat keras untuk menjadi gadis yang sangat diinginkan sang kekasih, dengan merombak dirinya sendiri habis-habisan. Sampai tidak tahu lagi yang mana Jade asli dan mana Jade yang hanya jadi boneka bagi Beck. Semuanya menyatu, semuanya jadi semu.
Tapi yang dia dapatkan hari ini bukan pujian melainkan sebuah dahi yang mengernyit dari Beck. "Kamu tidak pernah puas, ya?"
Dan apa arti kalimat itu? Jade yang baru saja duduk di kursi mobil tidak mengerti. Dia hanya tersenyum seperti orang bodoh, bahkan masih belum mengenakan sabuk pengamannya. "Apa? Apakah warna lipsticknya tidak bagus?"
"Jangan terlalu terobsesi untuk jadi secantik mantanku."
Satu kalimat yang eksplosif, meledakkan kepercayaan diri Jade sampai luluh lantak. Ingin sekali rasanya make-up ini dia hapus saking marah dan malu pada diri sendiri. Pikirannya berkecamuk, apakah benar dia terobsesi? Tapi yang dia inginkan hanya menjadi cukup untuk Beck, hanya agar dapat diakui olehnya. Apakah itu berlebihan?
Suara bergetar, tangis hampir pecah, Jade mencoba menyangkal. "Aku tidak terobsesi soal mantanmu. Aku hanya ingin kamu melihat aku juga."
"Yang bisa aku lihat sekarang hanya seorang gadis dengan obsesi dan emosi. Aku tidak bisa membuat kamu jatuh lebih dalam."
"Astaga," Jade mendengkus, kini dia tak menahan lagi air matanya untuk turun, "kalau begitu bilang saja aku tidak perlu mencoba begitu keras, bahwa aku apa adanya cukup untuk kamu. Tapi tidak, kamu tidak pernah merasa aku cukup. Makanya aku mati-matian jadi apa yang kamu inginkan dan yang aku dapatkan adalah ini?"
Beck bergeming. Dan Jade terisak.
"Aku sampai membaca buku self-help yang biasa kamu baca agar aku mengerti kamu, aku bahkan memilihkan lagu dan kopi sesuai dengan mood kamu." Dengan tangisan dan suaranya yang bergetar, entah Beck mendengarnya dengan jelas atau tidak. "Semuanya aku lakukan agar kamu mengakui kalau aku gesit dan pintar. Aku sangat ingin jadi apa yang kamu butuhkan. Apa itu salah, Beck?"
Selama ini yang dilakukan Jade hanyalah berjalan mengikuti bayangan Beck, berusaha keras menyesuaikan diri dengan reputasi Beck sebagai cowok populer di sekolah. Cowok seperti Beck tidak seharusnya punya pacar jelek dan cupu, jadi Jade bertranformasi menjadi secantik para pemandu sorak. Walau dari awal dia sendiri tahu bagaimana kekasihnya akan pergi, Jade yakin suatu hari Beck akan menemukan seseorang yang lebih menarik dan kemudian meninggalkannya menangis sembari bertanya-tanya apa dia melakukan kesalahan?
Tangan Beck berusaha meraih bahu Jade. "Maafkan aku, aku menghancurkan hati kamu." Tanpa dia sadari, dia telah menghancurkan diri Jade lebih banyak dari sekedar hati. Karena bagaimana Beck dapat mengembalikan identitas diri kekasihnya yang lama dengan kata maaf?
Namun Jade terlalu lelah untuk dimanfaatkan kemudian dibuang, lagi. "I'm quit."
Dan jika Beck benar-benar masih menyayangi Jade, dia akan mencegah ketika gadisnya keluar dari mobil dan menyusuri jalan yang dingin dengan terisak tanpa sesiapapun di sampingnya. Tapi tidak, dia tidak melakukannya.
Kini hanya ada Jade dan identitas diri palsu yang bukan miliknya. Bagaimana cara untuk kembali?
KAMU SEDANG MEMBACA
SOUR (songfiction)
Short Storya bunch of fiction that inspired by Sour Album. you'll get the vibes of sour. TW// SHORT STORY
