"Babe! I got my drivers lisence!" Aku melompat ke dekapanmu.
Kamu tertawa dan mengelus rambutku. "Sekarang kamu bisa ke rumahku kapan aja."
Itu bukan kenyataan, hanya gambaran halusinasi yang aku dambakan untuk menjadi nyata. Minggu lalu aku mendapatkan izin mengemudiku seperti yang selalu kita bahas dulu, saat itu kamu sangat bersemangat karena akhirnya aku akan bisa berkendara menuju rumahmu kapan saja aku mau.
Tapi hari ini aku mengendarai mobilku melewati perumahan suburban, menangis karena kamu tidak lagi di sampingku. Sial, berlebihan sekali kalau harus menangis sepanjang jalan seolah tidak ada laki-laki lain selain kamu di dunia ini. Sayangnya walau kita memang tidak sempurna tapi aku tidak pernah menyayangi orang sedalam ini. Membayangkan bagaimana kamu tetap baik-baik saja ketika aku melangkah pergi darimu membuatku gila. Kini aku mulai bertanya-tanya apakah kamu benar-benar serius soal lagu cinta yang dibuat untukku kala itu atau kamu memang tidak pernah memaknainya sedalam yang aku pikirkan?
"I love you forever," katamu. Omong kosong, buktinya kini aku sendirian dan merana.
Dan sekarang kamu mungkin sedang bersama gadis pirang itu, gadis yang selalu membuatku cemas. Dia lebih tua dariku. Dia cantik, dia keren, dia adalah segala hal yang membuatku minder. Aku telat beberapa tahun untuk bisa menyaingi dia. Kamu pasti sangat bangga memilikinya.
"Aku kangen Ricky." sudah berapa kali aku mengatakan itu?
Temanku mendengus, "Stop it, Clay. Kamu harus move on dari dia."
Kurasa temanku juga sudah lelah mendengarnya. Aku kasihan mereka harus terus mendengarku mengeluh dan merindukanmu. Yah, tetap saja, mereka kan tidak pernah benar-benar tahu tentang kamu seperti aku tahu kamu luar dan dalam. Bagaimana aku bisa mencintai orang lain sekarang? Aku merasa sangat terikat padamu.
Kini aku berkendara melewati perumahan di tepian kota. Membayangkan kalau aku berkendara pulang menuju dirimu.
Lampu merah, tanda berhenti. Aku rasanya dapat melihat wajahmu di mobil berwarna putih, berbelok ke jalan yang pernah kita lalui. Aku juga merasakan bahwa kamu masih disini, tertawa bersamaku mengalahkan bisingnya kemacetan, menyanyikan lagu kita bersama. Aku sangat ingin mendengar suaramu sekarang, meski hanya basa-basi busuk seperti, "Cuaca hari ini bagus, ya."
Kulirik kursi di sebelahku, aku bisa melihatmu tersenyum padaku. Halusinasiku semakin parah. Menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOUR (songfiction)
Cerita Pendeka bunch of fiction that inspired by Sour Album. you'll get the vibes of sour. TW// SHORT STORY
