11. Hope Ur Okay

8 1 1
                                        

Beberapa buku berjatuhan dari rak karena terhantam tubuh Jane yang didorong oleh suaminya sendiri, Rad. Setelah itu Rad pergi meninggalkan rumah begitu saja, mungkin pergi minum atau mengunjungi rumah simpanannya, Jane tidak lagi benar-benar peduli. Sudah terbiasa dengan rutinitas baru Rad beberapa bulan terakhir; cekcok, berakhir pada kekerasan rumah tangga, dan pergi menemui wanita barunya.

Jane selalu bertanya-tanya, kenapa jadi seperti ini? Padahal awalnya semua baik-baik saja.

Satu buku yang jatuh menarik perhatian Jane, itu adalah buku tahunan miliknya semasa sekolah menengah dulu. Diambilnya buku itu diantara tumpukan buku lain yang berjatuhan untuk dibaca di atas kursi bacanya yang nyaman.

Tangannya mengelus sampul buku, membuatnya teringat masa-masa yang indah dimana dia hanya perlu sekolah dan bersenang-senang setelah itu.

"Mama." Gladys, anak perempuannya yang masih berusia lima tahun keluar dari kamar dan langsung mengambil tempat di atas pangkuan sang ibu. "Ini buku apa?"

Agak menyakitkan bagi Jane ketika Gladys harus berpura-pura tidak mendengar dan tidak terpengaruh atas pertengkaran rumah tangga yang setiap hari hadir di rumah ini. Lihat, gadis ini malah bertanya soal buku seolah cekcok yang tadi tidak pernah terjadi.

Jane membuka buku itu dan pergi ke halaman di mana wajahnya terpampang di sana. "Ini buku tahunan waktu Mama sekolah, sayang."

Tidak butuh waktu lama untuk gadis kecil itu menemukan Mamanya sewaktu masih belia. Dia dengan senyumannya menunjuk foto Jane. "Ini Mama, kan?"

"Yup, betul! Gladys pintar, ya."

"Aku punya teman di sekolah, ada Amy, ada Ollie. Teman Mama yang mana?"

"Hmm, teman Mama?" Jane menunjuk foto seorang pemuda dengan rambut pirang terang. "Ini, namanya Tonny."

Dia ingat Tonny adalah pemuda dengan senyum yang menawan, namun hidupnya sangatlah tertekan. Orangtuanya lebih peduli dengan Alkitab dibandingkan menjadi seseorang yang bisa dijadikan teman bagi anaknya. Pemuda itu diharuskan hidup sesuai aturan orangtua yang konservatif.

"Dia tampan!" gigi-gigi putih Gladys terlihat ketika dia tersenyum malu-malu.

"Dia adalah pemain drum di marching band, loh."

"Hebaaat!"

Jane tersenyum lagi melihat antusiasme putrinya.

Kemudian dia menunjuk satu foto lagi, foto seorang gadis dengan raut wajah lelah walau sudah tersenyum sedemikian rupa. "Satu lagi, dia namanya Millie."

Millie sering mengidam-idamkan kehidupan perkuliahan, karena sesungguhnya dia ingin kabur dari rumah. Mempunyai orangtua, tapi Millie bisa dibilang bertumbuh seorang diri tanpa dituntun. Dia bahkan membesarkan adiknya sendirian, dengan bekerja part-time dan membuka jasa mengerjakan tugas. Orangtuanya pun tidak menyukai pemuda yang dia cintai. Terkadang, dia sangat lelah hingga bertanya-tanya kenapa dirinya dibawa ke dunia dimana keluarga hanyalah darah.

"Dia orang yang baik, dia berani melupakan semua kebencian yang diberikan orang lain."

"Sekarang mereka di mana, Ma?"

Jane memeluk Gladys dengan erat, hanya kehangatan dari putrinya-lah yang membuatnya berani menghadapi setiap kejutan dalam hidupnya. "Entahlah, tapi Mama harap mereka baik-baik saja."

Tidak ada yang akan bertahan selamanya, takdir selalu berubah. Tidak ada yang sebaik kelihatannya, di dalamnya pasti ada badai.

Dan jika awan badai tak mau lagi pergi, monster-monster merayap memasukki rumah, sedangkan pintu-pintu sulit untuk ditutup.

Jane hanya berharap semuanya baik-baik saja meski kedengarannya tidak mungkin.

SOUR (songfiction)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang