|ON-GOING|
❝
Seperti halnya matahari terbit untuk tenggelam, dia datang untuk pergi di kemudian.❞
ft. cbg - srj ✶
-----
re-up : jan 12, 2022
update : every saturday
COLLABORATION STORY BETWEEN :
@venecyajisu & @philocaly16
- h a p p y r e a d i n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bersama siang dan mega mendung di angkasa, yang ditunggu pun datang. Sebuah bus biru muda berhenti tepat di depan halte kota. Orang-orang memasuki mesin itu untuk menuju lokasi tujuan. Tak terkecuali pemuda-pemudi yang tadinya duduk bersebelahan di tempat penantian kendaraan umum itu.
Ia yang disebut Ryujin lebih dulu menginjakkan kaki di dalam bus. Seperti biasa, langsung menuju salah satu kursi untuk duduk. Tapi, hei...
Tatapannya menjadi tajam saat melihat orang yang tak ia inginkan ikut duduk di sampingnya. Parahnya, kaki taruna itu sudah menempel pada sandaran kursi di depan mereka, artinya Ryujin akan sulit untuk keluar. Ingin tau yang lebih menjengkelkan? Ryujin tidak melihat kursi kosong lain dalam bus itu. Bahkan beberapa orang harus rela berdiri ketika kendaraan mulai berjalan.
"Ck!"
Gadis itu berdecak sambil melirik Beomgyu yang masih saja memasang senyum jumawa di wajahnya.
Lelaki itu membenarkan posisi duduk beserta tas di pangkuannya, sementara Ryujin merogoh sesuatu di tasnya sendiri.
"Ya, lo tau ga—"
Beomgyu menoleh pada Ryujin. Namun, kalimatnya patah usai melihat gadis itu memasang earphone di kedua telinga. Semacam sadar diri bahwa tiada kesempatan berdialog pada pertemuan kali ini. Seketika senyum manis Beomgyu berubah menjadi senyum miris karena nasib tak mujur miliknya.
Ryujin menempelkan kepala pada bahu kursi, kedua kelopak matanya pun memejam. Sepertinya ia berniat tidur untuk menghabiskan waktu selama perjalanan pulang itu.
Teringat pada niat kecil yang diucapkannya dalam hati, Beomgyu memilih untuk mengalah. Ia enggan membuat gadis pujaannya marah dan meninggalkannya, maka ia pun kini diam.
Diam-diam mengamati Ryujin, maksudnya.
Toh, tidak ada yang salah dengan itu, kan? Tidak merugikan juga bagi si gadis Shin, kan?
"Berhenti natap gue, atau lo mau gue turun sekarang juga?"
Ah, sepertinya bersifat merugikan karena ternyata membuat cewek itu tak nyaman. Tajam juga insting yang dimiliki Ryujin.
"Ekhm.. mian." Menghapus sesuatu yang mengganjal di tenggorokan, lantas Beomgyu mengucap maaf spontan.
Ia jadi gugup karena ketahuan, padahal sekalipun Ryujin tidak membuka mata. Sekuat itu kah aura seorang Choi Beomgyu? Pemuda itu pun menyenderkan kepala dan membuang muka. Menatap ke segala arah, meski kadang tak tahan untuk tidak melirik orang yang disukainya itu.
Kesekian kalinya mencuri pandang, Beomgyu baru tau jika Ryujin tidak benar-benar tidur. Dengan kerut tipis di antara dahi, perempuan itu berulang kali membuka mata untuk memeriksa jam di pergelangan tangan kirinya.
Jangan tanya seberapa besar keingintahuan Beomgyu mengapa Ryujin seperti itu. Tapi apa daya, hari ini agaknya ia tak punya nyali baja untuk bertanya. Mencoba abai, ia malah jadi mengantuk karena gerak bus yang stabil dan semilir angin yang melewati sela jendela.
— • —
Choi Beomgyu tertidur. Untuk sekian menit di siang itu, ia berada di alam bawah sadarnya—hitung-hitung untuk mengganti malam-malam yang ia lalui dengan insomnia. Ia bermimpi ini-itu, kadang bagus, kadang juga membuatnya berjingkat terkejut. Yang lebih ampuh membuatnya terbangun adalah tepukan di bahunya.
Beomgyu gelagapan melihat Ryujin yang sudah bangkit dari duduknya. Ia pun refleks mengalihkan kedua kaki agar ada jalan untuk gadis itu keluar dari lingkup sepasang kursi bus.
Tidak ada yang meminta ataupun menyuruh, tapi Beomgyu juga ikut berdiri dan mengekor pada Ryujin. Sembari memeluk tas, ia turun dari bus. Di tepi jalan, ia mengernyit bingung karena tempat itu bukanlah halte yang ada di dekat rumah mereka. Lalu. kenapa keduanya turun? Ah lebih tepatnya, kenapa Ryujin turun di situ?
Pertanyaan itu juga berputar di kepala Beomgyu. Ingin meminta jawaban, tapi si gadis sudah pergi lebih dulu.
"Ya! Tunggu!"
Melangkah lebar-lebar, Beomgyu berusaha mengikis jarak dengan Ryujin di depan sana. Tidak dipedulikan, maka cowok itu berjuang sendirian.
Tak pernah sekalipun Ryujin memelankan langkah. Berulang kali dia memeriksa arloji seperti tadi. Sementara di belakang, Beomgyu masih mengikuti seraya mengamati diorama sekitar yang dipenuhi jajaran pertokoan dan bulevar.
Berhenti di depan restoran seafood, Ryujin langsung masuk, tapi Beomgyu berhenti dan menatap bangunan itu dari atas ke bawah. Jendela kaca yang cukup lebar membantu Beomgyu melihat keadaan di dalam. Agak ramai, tapi yang menarik atensinya adalah si gadis Shin yang berhadapan dengan pria gempal berapron merah.
Apa yang terjadi?
Ia membatin dan tangannya mendorong knop pintu restoran. Belum sepenuhnya terbuka, udara yang lewat membawa suara berat seorang pria—dia yang ada di hadapan Ryujin. Beomgyu mendengarnya, nada itu agak tinggi, seperti orang yang marah.
"Telat dihari pertama?! Kamu niat kerja atau tidak?!"
Begitulah kalimat perdana yang Beomgyu tangkap. Entah mengapa kakinya menahan niat untuk masuk lebih dalam di restoran. Ia bergeming sebelum akhirnya undur diri. Pintu kembali ia tutup, dan pemuda itu berdiri menunduk di depan restoran.
Pikirannya terganggu oleh hal-hal yang membuat rasa tak nyaman di dada. Gemuruh di angkasa seenaknya membawa gusar di kepala. Beomgyu bingung harus berbuat apa melihat yang dipuja tengah melara, namun tiada kuasa untuk membantunya.
Lantas hujan sungguh datang menerpa Choi Beomgyu di luar.