"Babbun, aku mau honeymoon lagi deh." Mingyu yang terduduk di meja kerjanya mendadak mengadahkan pandang saat sang suami membahas keinginan honeymoon untuk kesekian kali.
"Ay, sini." Mingyu menepuk kedua pahanya dan menyuruh Wonwoo untuk mendudukkan diri di sana. Seperti anjing penurut, Wonwoo langsung bergegas dan menempatkan posisi sesuai dengan suruhan Mingyu; duduk di pangkuan Mingyu dengan saling berhadapan.
"Coba ulang lagi tadi mau apa?"
"Mau honeymoon lagi..." Balas Wonwoo sembari mengalungkan kedua tangan ke arah leher Mingyu.
"Tumben, biasanya males diajak pergi." Kali ini Mingyu bertanya dengan nada seduktif. Tak lupa ia menyodorkan wajah tepat di perpotongan leher Wonwoo dan menghidu aroma campuran persik dan vanila yang tercium di sana.
"Nggak tau, pengen honeymoon, Babbun..." Mingyu terkekeh mendengar ucapan sang suami dengan nada manjanya.
"Emang mau ke mana?" Kedua tangan Mingyu merambat naik hingga berhenti di punggung lebar Wonwoo; memberi usapan abstrak dengan ujung jarinya.
"Mm—Eropa?" Jawab Wonwoo asal, hanya saja benua itu yang terlintas saat Mingyu melontarkan pertanyaan.
"Boleh, kamu maunya kapan?" Wonwoo tidak membalas, ia hanya diam sebelum tangannya beringsut naik dan berhenti tepat di dada bidang Mingyu. Jari telunjuknya menari-nari di atas kaos putih yang saat ini Mingyu kenakan.
"Sekarang." Jawab Wonwoo dengan nada polosnya.
"Pake pintu ke mana saja?" Alih-alih tertawa, Wonwoo justru mengerucutkan bibir tanda sebal.
"Kenapa Eropa jauh sih!"
"Soalnya yang deket kita." Wonwoo menekan jari telunjuknya dengan keras dan menimbulkan rintihan sakit dari bibir Mingyu.
"Sakit, Ay." Adunya dengan memelas.
"Habisnya aku serius, Babbun! Malah dibercandain."
"Emang orang kalo honeymoon tuh ngapain aja sih? Kok Sayangku pengen banget ke Eropa sekarang demi honeymoon doang...." Muncul semburat merah saat Mingyu menanyakan hal tersebut kepada Wonwoo. Dengan berani Wonwoo menarik wajah Mingyu mendekat dengan kedua tangannya.
"Babbun nggak usah sok polos ya," Lalu Wonwoo berpindah ke arah telinga Mingyu untuk meneruskan ucapannya. "...kan Babbun yang paling semangat kalo kita honeymoon."
Mingyu hanya tersenyum dan tak menyangkal. Yang dikatakan Wonwoo benar, sangat benar. Saat-saat honeymoon adalah puncak energinya yang takkan habis meskipun melewati seribu malam.
"Jelasin dong, ngapain aja~" Goda Mingyu.
"Eum, yang pasti kita berdua, di kamar..." Mingyu mengangguk, kini tangannya sudah berada di dalam kaos Wonwoo dan menyusuri punggung itu dengan kedua telapak telanjang—kulit bersentuhan.
"Terus lampunya remang-remang." Mingyu menatap dengan tatapan penuh cinta ke arah Wonwoo dan dengan setia memandangi sang suami untuk melanjutkan obrolan dewasa mereka.
"Terus kita berdua nggak pakai baju." Mingyu tersenyum, satu tangannya keluar untuk memberi usapan pada bibir Wonwoo sebelum mengecup singkat bibir delima kesayangannya.
"Di dalem selimut...." Mingyu membiarkan Wonwoo dengan ucapan polosnya meneruskan kalimat-kalimat nakal yang cukup memacu adrenalin. Bayangkan saja posisi mereka sudah sangat intim, ditambah ucapan-ucapan Wonwoo yang menggiring ke arah sesuatu yang menyenangkan; itu adalah jackpot.
"Kamu mau," Tanya Mingyu mendekatkan wajah di telinga Wonwoo. "...sekarang?"
"Nggak ah, Babbun sibuk kalo sekarang. Makanya kita planing aja dulu buat honeymoonnya." Balas Wonwoo dengan sedikit menggoda. Kedua tangan yang setia bertengger di pundak Mingyu, kini beranjak naik untuk masuk di sela surai sang suami—seolah memberi tekanan sensual di kepala Mingyu.
"Udah nggak sibuk semenjak kamu duduk di sini." Balas Mingyu tak mau kalah. Sontak ia mendorong Wonwoo mendekat dan mengikis jarak yang ada. Mingyu memulai kecupan hangat dengan tempo yang pelan. Mingyu benar-benar menikmati bagaimana ia melahap habis bibir penuh Wonwoo. Mencoba memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang pas. Belum lagi Wonwoo yang sukarela memajukan diri kala tempo ciumannya mulai memanas.
Jika boleh memberi label, Wonwoo dengan hormat akan memberi label good kisser pada Mingyu. Tak hanya lihai dalam berciuman, Mingyu juga tahu cara mengatur tempo tanpa harus melepas untuk meraup oksigen. Dan Wonwoo sangat menyukai hal itu.
"Jadi, kamu mau sekarang apa nanti?" Tanya Mingyu di tengah kegiatan mereka.
"Eum, kapan yaaa~" Balas Wonwoo dengan ekspresi lucu—hidung dan pipinya memerah serta bibir yang cukup bengkak—sembari tampak berpikir.
Mingyu melihat itu semakin bersemangat untuk mengerjai Wonwoo. Dalam hitungan detik Mingyu langsung menyerang leher Wonwoo dan membubuhkan kecupan di sepanjang jalan. Tangannya tak lagi berada di balik punggung Wonwoo, karena ia buru-buru memindahkannya ke depan bersamaan dengan kecupannya di leher sang suami.
Wonwoo sudah kalah telak, ia bahkan tak bergeming dan hanya menerima semua sentuhan yang di dapat.
Kala Mingyu bergerilya dengan bibir dan tangannya, Wonwoo sudah siap meledak saat itu juga.
"Ah—!"
Mingyu berhenti sejenak untuk melihat wajah kacau sang suami yang ada di pangkuannya.
"Jadi, mau sekarang apa nanti?" Tanyanya sekali lagi. Wonwoo mengadahkan pandangan dan mendekatkan wajah ke arah telinga Mingyu. Sebelum menjawab, ia memberi kecupan—dengan bubuhan lidah yang menjulur ke arah telinga Mingyu—terlebih dahulu.
"Sekarang, aku mau...." Mingyu menarik sudut bibirnya sebelum mengangkat Wonwoo untuk menuju ke arah ranjang.
"As your wish."
Keduanya menyajikan surga dalam satu malam; bergumul panas di atas ranjang.
—the end.
![[✔] Mr. Busy | Minwon](https://img.wattpad.com/cover/174368888-64-k18331.jpg)