Hari ini nampak berbeda dari biasa, pasalnya, suami tercinta Mingyu yang memiliki kebiasaan menghabiskan pagi di dapur atau ruang tengah nampak bergelung gelisah di balik selimut tebal. Mingyu awalnya tak menyadari, hingga pada akhirnya Mingyu mendengar Wonwoo sesekali menghela nafas berat.
"Ay, kamu kenapa?" Tanyanya khawatir. Ia berjalan mendekat dan menyibak gelungan selimut tebal itu. Dilihatnya sang suami tampak memucat dengan mata sayu khas orang sakit.
"Kamu sakit?" Belum sempat membalas, telapak Mingyu sudah mendarat sempurna di dahi Wonwoo.
"Cuma nggak enak badan aja kok, Babbun." Mingyu menggeleng. Bagaimana bisa Wonwoo berucap hanya pegal semata di saat hawa panas melingkupi dirinya.
"Kamu sakit, ini buktinya demam."
"Enggak, Babbun. Aku nggak ngerasa sakit, cuma emang badanku agak panas." Mingyu menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari menelisik ke arah Wonwoo.
"Tumben banget kamu sakit, kemarin nggak hujan-hujanan, kan?" Wonwoo mengerucutkan bibir sebal. Bagaimana bisa ia menghujankan diri di saat umurnya saja sudah mau menyentuh kepala tiga; kadang analisis suami terdengar ngawur.
"Udah dibilangin, aku kecapekan, Babbun." Balasnya dengan suara sedikit lirih; seperti tak ada tenaga untuk berucap kencang.
"Kamu ngapain aja di rumah kok sampe kecapekan?" Kali ini Mingyu ikut membaringkan diri dan memeluk tubuh hangat Wonwoo. Sedikit mentransfer rasa nyaman agar suaminya tak terlalu kedinginan.
"Aku ngapain ya..., paling mikirin Babbun sih yang paling banyak, hehe." Mingyu yang sudah serius mendengarkan sedikit terkejut dengan jawaban ajaib—yang sebenarnya tak perlu dikagetkan lagi—sang suami. Lantas Mingyu langsung menggigit gemas hidung bangir Wonwoo dengan sekali gerakan.
"Babbun sakit!"
"Biarin, habisnya lagi serius dibercandain."
"Beneran, Babbun. Aku di rumah cuma mikirin kamu aja, stress juga enggak, kecapekan juga enggak. Kan kamu semua yang bantu aku kalo beres-beres." Benar juga. Selama ini suami gemasnya selalu terima jadi dan raja di rumah ini. Namun Mingyu masih heran apa penyebab sakit yang dialami Wonwoo. Sungguh tak terduga.
"Kita ke dokter ya?" Wonwoo menggeleng.
"Nggak mau, ini minum obat sebentar aja langsung sembuh."
"Terus nanti kalo makin parah gimana?"
"Ih, Babbun doain aku sakit parah gitu?!" Wonwoo mendorong pelan sang suami dan menjauhkan sedikit tubuh mereka—tentu ini hanya candaan semata—dan memilih pergi, duduk di sofa.
"Bukan gitu, Ay. Dengerin dulu, dong."
"Itu tadi bilang kalo makin parah. Berarti nggak support aku sembuh walau minum obat-obatan aja." Oke, Mingyu jelas kalah telak jika harus berdebat dengan Wonwoo, karena pria manis itu punya 1001 cara untuk mematahkan pendapat dan selalu menjadi pemenang. Jadi, Mingyu menurut dan segera mengambilkan makanan serta obat yang harus dikonsumsi Wonwoo.
"Yaudah, yaudah. Kamu tunggu situ, aku ambilin makan sama obat dulu ya."
"Okee, makasih, Babbun." Jawab Wonwoo riang. Sebenarnya rasa sakit yang dialami Wonwoo ini memang seperti siklus tahunan yang seperti isyarat untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Wonwoo sudah menduga sebelumnya, karena ia bukan orang yang melewatkan sarapan dan vitamin untuk konsumsi sehari-hari. Tapi Wonwoo juga sadar, setiap tahunnya ia selalu sakit seperti ini: meriang, flu dan batuk-batuk.
Tubuhnya masih bisa bekerja dengan baik, hanya saja rasa pusing yang melanda saat flu pertama kali sungguh merepotkan. Kalau saja ada ikat kepala, mungkin Wonwoo sudah mengikat kepalanya itu.
![[✔] Mr. Busy | Minwon](https://img.wattpad.com/cover/174368888-64-k18331.jpg)