Keadaan rumah cukup sepi, Mingyu yang baru saja pulang pukul tujuh malam memilih melesak ke bagian ruang kantor dalam rumah dibanding kamar pribadinya bersama Wonwoo. Pria itu tampak tergesa-gesa masuk hingga melupakan kehadiran Wonwoo. Pria manis itu hanya mengerucutkan bibir sebal sembari menghentak-hentakkan kaki manja saat ikut memasuki ruang kerja Mingyu ─berharap sang suami menyadari kode abstrak yang ia berikan.
“Babbun!” Mingyu tak menggubris sama sekali, pandangannya masih terfokus pada layar komputer. Seolah, benda persegi panjang itu lebih indah untuk dilihat dibandingkan dengan Wonwoo.
“Babbun! Aku marah!” Wonwoo melayangkan protes lucu. Bibirnya masih mengerucut dengan alis yang menukik tajam.
“Sebentar sayang, proposal harus dikirim sebelum jam delapan. Tadi nggak sempet kerjain di kantor, sabar ya?” Mingyu berucap menenangkan tanpa melirik barang seinci pun.
“Babbun udah nggak sayang sama aku lagi ya?!” Wonwoo berjalan mendekat, lalu ia mendudukkan dirinya di atas pangkuan Mingyu yang masih duduk di kursi kerja. Keberadaan Wonwoo tentu mengganggu proses kerja Mingyu, lantas Mingyu mendorong Wonwoo mendekat dan memposisikan sang suami untuk menunduk sedikit dan menyandar pada dada bidangnya.
“Sebentar ya?” Ucap Mingyu lembut lalu memberikan kecupan kupu-kupu di pelipis Wonwoo.
Awalnya Wonwoo tampak tenang menyandar di dada Mingyu, namun lama kelamaan ia menjadi tambah bosan dengan aktivitas yang ia jalani ─hanya menyandar dan mendengar detak jantung Mingyu.
“Mingyu udah selesai belum?”
“Belum, lima belas menit lagi ya.” Mingyu lagi-lagi memberi kecupan lalu melanjutkan kerjanya. Wonwoo tak tinggal diam, ia menegakkan badannya lalu berpose lucu di depan sang suami.
Dua jari telunjuknya beringsut menyilang di pipi gemasnya, sambil menyunggingkan senyuman terbaik dengan mata yang hampir tenggelam.
“Tadi aku belajar pose gini, lucu nggak?” Mingyu tersenyum simpul lalu mendekatkan diri untuk menggigit hidung Wonwoo; terlalu gemas dengan tingkah lucunya.
“Proposalnya udah dikirim.”
“Berarti udah nggak sibuk?!” Mingyu mengangguk.
“Yeay!” Wonwoo memekik senang, tangannya refleks memeluk Mingyu erat. Bibirnya tak henti untuk melayangkan ciuman di seluruh wajah sang suami.
“Langsung mandi terus kita bobo-boboan yah?” Mingyu menukikkan alis tajam. “Bobo-boboan? Gimana sayang?”
“Nggak bobo beneran, di halus-halus.” Mingyu hanya menggelengkan kepal heran, ada-ada saja bahasa aneh yang selalu Wonwoo lontarkan.
“Di halus-halus?” Mingyu bertanya.
“Punggungnya di halus-halus Mingyu~”
“Oh, iya paham. Yaudah aku mau mandi dulu.” Wonwoo mengangguk tanpa berniat beranjak dari pangkuan Mingyu.
“Yang?”
“Iya babbun?”
“Kamu mau ikut aku mandi?”
“Kan aku udah mandi?”
“Iya, ini susah mandi kalo kamu masih duduk di sini.” Wonwoo menepuk dahi paham. “Maaf ya, babbun~”
Wonwoo beranjak dan menarik Mingyu berdiri─keluar dari ruang kerja dan menyuruh sang suami untuk membersihkan badan di kamar mandi dalam ruang kamar mereka.
Wonwoo sudah menyiapkan piyama couple berwarna biru navy. Sembari menunggu Mingyu selesai membasuh diri, Wonwoo terlebih dulu mengganti pakaiannya. Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, Mingyu keluar dengan keadaan lebih segar. Rambut basah dengan percikan air yang masih menempel di tubuh atletisnya bagai pemandangan indah yang selalu Wonwoo lihat setiap hari. Tiada hari tanpa mengucap terima kasih kepada Tuhan telah memberikan sosok sempurna untuk pendamping hidupnya.
“Bentar mau keringin rambut dulu ya.” Wonwoo mengangguk, melihat punggung sang suami mendekat ke arah meja rias yang terletak di sudut ruangan.
Wonwoo tak pandai berurusan dengan hal semacam itu. Biasanya, Mingyu yang selalu melakukan untuknya atau melakukan sendiri. Bukan berarti tak ingin melakukan sesuatu yang lebih untuk suami, namun Mingyu selalu melarang Wonwoo untuk melakukan hal yang tak ia bisa, alih-alih demikian, Mingyu hanya takut Wonwoo terluka jika harus berurusan dengan suatu hal yang tak ia paham.
“Babbun, udah?” Mingyu mengangguk, rambutnya sudah lumayan kering. Kaki jangkungnya melangkah menuju ke arah ranjang─ikut bergumul bersama Wonwoo di bawah selimut tebal hangatnya.
Mingyu yang sudah memposisikan diri di ranjang segera menarik Wonwoo mendekat untuk dipeluknya. Menyesap aroma shampoo strawberry yang melekat di surai Wonwoo, seolah menjadi salah satu obat penenang dan pelepas penat atas kesibukan kesehariannya.
“Babbun kalo aku punggungin gini pasti susah halus-halus.” Wonwoo membalikkan badan dan kini ia sudah berhadapan dengan Mingyu. Tangan kanannya terulur menetap di pinggang Mingyu sedangkan satu tangannya terlipat menopang kepala.
“Babbun..”
“Hm?”
“Kalo misal dapet jatah cuti, mau ngajak aku kemana?” Mingyu memejamkan mata, terlihat berpikir untuk jawaban yang memuaskan.
“Paris?”
“Aku lagi nggak mau kesana.”
“Terus kemana?”
“Mau ke Kutub Utara!” Mingyu mengangguk, mengiyakan ucapan Wonwoo. Pria itu menatap penuh puja saat Wonwoo mulai menceritakan keinginannya untuk pergi ke suatu tempat.
“Di Kutub Utara nanti bisa lihat beruang putih!” Seru Wonwoo antusias, matanya berbinar saat mengucapkan keinginannya.
“Iya nanti kalo ada kesempatan kita kesana ya?”
“Beneran? Nanti uang kamu nggak habis kan kalo kita kesana?”
“Kamu nggak tau ya, aku punya suami pinter atur uang?” Wonwoo sedikit tersipu malu saat Mingyu mengucap hal demikian.
“Iya ya, uang kamu kan banyak.”
“Iya, nggak perlu takut uang habis.” Mingyu terkekeh. Tangan kirinya beringsut masuk ke dalam piyama yanh Wonwoo kenakan. Permukaan telapak tangannya mulai bersentuhan dengan kulit mulus Wonwoo di area punggung.
Jika sudah seperti ini, Wonwoo sangat suka saat Mingyu menggaruk punggungnya. Seperti terasa lebih nyaman dan terasa nyenyak.
“Babbun nggak mau cerita apa-apa tentang di kantor tadi?”
“Di kantor tadi aku kangeeen banget sama kamu.” Wonwoo tersenyum malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang sang suami sambil memeluk erat─merapatkan posisi tubuh.
“Aku juga kangen sama babbun!” Suaranya sedikit teredam namun Mingyu masih bisa mendengar dengan jelas. Satu ciuman lama mendarat di puncak kepala Wonwoo. Agenda-agenda seperti ini seharusnya bisa mereka lakukan setiap hari, namun apa daya kesibukan Mingyu seolah membangun benteng tinggi untuk menggagalkan semua itu.
Belum lagi, Wonwoo sangat mudah sekali tertidur, membuat dirinya tak bisa menghabiskan waktu lama saat malam hari.
“Sayang,” Mingyu menghentikan usapannya sebentar. “Belum ngantuk kan?” Wonwoo mendongak untuk menggeleng.
“Belum, kenapa?”
“Besok tanggal merah sampe minggu.” Wonwoo masih mendongak mendengarkan ucapan sang suami.
“Artinya babbun nggak bakalan sibuk lagi kan?”
“Iya, nggak sibuk kok.” Wonwoo tersenyum dan mendorong dirinya naik untuk mengecup dagu Mingyu.
“Asyik dong! Bisa pacaran lamaa!” Mingyu terkekeh lalu sedikit mengubah posisi Wonwoo yang semula berada di samping kini sudah berada di atas; menindihnya.
“Kalo malem ini pacaran mau nggak?” Wonwoo memincingkan mata tajam dengan menampilkan senyum jahil yang dibuat-buat.
“Pasti babbun kangen aku lagi seksi ya?” Wonwoo kembali menggoda, memberikan kedipan maut sebagai penutup ucapan.
“Iya, boleh?”
“Apasih yang enggak buat babbun?”
Dan malam itu dihabiskan keduanya dengan sangat berisik.
─end
![[✔] Mr. Busy | Minwon](https://img.wattpad.com/cover/174368888-64-k18331.jpg)