Chapter 5

1K 185 3
                                    

"Tidak." Tolak Sakura berusaha terdengar tegas. "Aku tidak bisa berada di dalam satu rumah dengan pria dewasa yang belum menikah didalamnya."

"Aku tidak akan melakukan apapun!" Sasuke berusaha meyakinkan. Namun ketika ia melirik tubuh Sakura yang berada dalam pelukannya, ia mulai sadar kalimatnya itu mungkin tidak bisa ia pegang. "Ekhem," ia mengalihkan pandangannya berusaha tetap terlihat meyakinkan. "Selama kau yang tidak menggoda ku aku rasa, aku bisa menahannya.."

Sakura menatap tak percaya. Melihat Sasuke yang tak berani menatapnya dengan sedikit rona merah diwajahnya membuatnya tanpa sadar ikut merona. Tidak, ia tidak bisa ikut terhanyut. Rasa suka tidak seharusnya semudah ini. Apa bedanya sekarang dengan masa lalu?

"Hentikan mobilnya Sai-san."

"Apa!?" Kaget Sasuke. "Diluar salju sangat lebat! Aku tak akan membiarkan mu, dan lagi aku meminta mu keluar dari apartemen teman mu juga karena Sai mengeluh pada ku dan meminta ku untuk segera mencari tempat untuk mu agar tidak mengganggunya!"

Sai menahan malu ditempat. Sial. Bisa-bisanya Sasuke membuangnya begitu saja untuk dijadikan alasan agar ia bisa mendapatkan Sakura. Sai harus mengalah membiarkan namanya jelek kali ini untuk membantu Sasuke. "Ma-maafkan aku Sakura-san.."

Sasuke merasa lega Sai mau diajak kerja sama kali ini. Ia akan memberikan bonusan untuk pria itu besok.

Sakura terdiam. Ia tak tau lagi harus apa. Jelas sekali ia di situasi yang buruk sekarang. Meski kemungkinan Sai berbohong juga ada, namun ia juga tidak bisa menuduh pria itu.

"Aku akan menjamin semua kebutuhan mu, katakan saja apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman di rumah nanti!" Sasuke berbicara dengan antusias seakan-akan Sakura benar-benar akan tinggal bersamanya.

Ia akan mendapatkan bunga musim semi di musim salju tahun ini!

"Aku akan menginap di hotel selama belum mendapatkan tempat tinggal."

Senyum di wajah Sasuke seketika lenyap.

"Maafkan aku telah merepotkan mu Sai-san. Tolong antarkan ke hotel terdeka-"

"Ok fine! Kau gunakan rumah itu sendirian!" Sasuke menyela dengan cepat. "Aku tidak akan membiarkan mu menginap ditempat yang tidak nyaman seperti itu. Aku yakin rumah ku akan jauh lebih baik dan juga aman. Tolong tinggal lah di rumah itu setidaknya agar aku merasa tenang, ya..?"

Sakura masuk setelah Sasuke membukakan pintu untuknya. Pria itu memberikan sebuah sandal berbulu berwarna putih untuknya. Pria itu juga berlutut membantunya melepas sepatu dan meletakan sepatunya dengan rapi.

Sasuke melayaninya dengan baik.

Apa pria ini berusaha merayunya? Sakura mendengus pelan. Harusnya ia tidak terkejut. Melihat senyum sumringah Sasuke jelas ia tau pria ini memang sedang berusaha merayunya.

"Barang mu akan diantarkan besok pagi. Kau bisa gunakan kamar mana pun yang kau suka. Katakan jika ada yang tidak kau sukai di rumah ini." Ucap Sasuke beramah tamah layaknya tuan rumah yang menyambut tamu kehormatan.

"Yang ku butuhkan hanya aku sendirian di tempat ini agar bisa segera beristirahat. Apa bisa?" Balas Sakura dengan datar. Bagaimana pun ia harus bisa menenangkan diri sekarang. Ini sudah cukup larut, baik Sasuke mau pun Sai -yang masih menunggu didalam mobil- harus segera istirahat.

Sasuke mengangguk menuruti. Ia mendekat memberikan kecupan singkat di dahi Sakura. "Selamat malam."

Blam.

Sakura membuang karbon dioksida dengan sedikit keras. Apa yang harus ia lakukan dengan pria itu? Sakura tau benar Sasuke benar-benar serius padanya.

Sakura tak menyangka pagi buta Sasuke datang membawakan semua perlengkapannya. Meski ia berterimakasih karena ia jadi tak perlu bingung berangkat kerja dengan menggunakan apa, tapi haruskah pagi buta dimana mentari bahkan belum terlihat? Ia harus meminta maaf pada Ino secepatnya.

"Apa tidur mu nyenyak?" Tanya Sasuke berbasa-basi sembari membuatkan sarapan untuk Sakura dan juga dirinya.

"Entahlah... " balasnya tak begitu perduli.

"Maaf sebenarnya aku tidak berniat membangunkan mu, aku kira kau ada dikamar lain ternyata kau memilih kamar ku." Sasuke tersenyum sumringah mengingat Sakura yang terlelap nyaman diatas kasurnya.

"Aku hanya memilih asal." Sahutnya acuh. Jujur saja Sakura memang sedikit terkejut, ia terkejut menyadari dirinya malah merasa semakin nyaman saat tiba-tiba dalam tidurnya seseorang terus menciumi wajahnya dan terus membelainya. Memalukan. Padahal harusnya ia tidak seceroboh ini.

Tak!

Sasuke meletakan sereal untuk sarapannya. "Mau ku buatkan roti bakar juga?"

"Tidak,"

Cup!

Lagi-lagi pria itu menciumnya seakan itu adalah hal sepele. Siapapun yang melihat pasti akan menganggap mereka adalah sepasang kekasih. Sepertinya ia harus membicarakan mengenal hal ini agar pria itu tak sembarangan menyentuh wanita.

Apa dia memang selalu terbiasa menyentuh wanita dengan mudah?

"Kau bilang kau tak pernah memiliki pasangan lagi ketika aku pergi, tapi kau seakan begitu ahli menyentuh perempuan," celetuk Sakura begitu Sasuke duduk dihadapannya dengan sepotong roti panggang.

"Aku tidak pandai menyentuh perempuan nona, aku hanya tak bisa menahan diri ku untuk tidak terus menempel pada mu. Maafkan aku tapi itu memang bukan sesuatu yang bisa ku kendalikan." Balas Sasuke santai seakan itu memang benar-benar hal normal yang bisa dibicarakan di pagi hari.

Sakura membuang muka. Lagi-lagi wajahnya memerah. Oh ayolah, padahal ia bukan lagi seorang remaja.

Sakura menggigit bibirnya pelan berusaha berpikir keras agar Sasuke tidak menyadari kegugupannya. Ini pasti hanya karena ia tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Selama ini yang ia lakukan memang hanya bermain dan belajar. Tidak ada percintaan dalam kehidupannya selama kuliah. Apa lagi orang yang ia hadapi adalah si bungsu Uchiha yang memiliki berbagai macam kelebihan. Pasti ini memang hanya karena ia tak terbiasa.

Sakura menarik nafas dalam. "Aku harap kau tidak menyentuh ku dengan sembarangan lagi." Matanya menatap tajam berusaha memperingatkan.

"Sampai kapan?" Sasuke memasang wajah memelas. "Kau tidak berniat membunuh ku pelan-pelan kan?"

Pria ini benar-benar!

"Mungkin sampai aku mau menikah dengan mu," Sakura menjawab asal. Apapun lah pokoknya jawab saja agar Sasuke diam.

"Itu artinya kau mau memikirkan untuk menikah dengan ku?" Sasuke antusias.

Kenapa jadi seperti ini sih pembicaraannya.

"Habiskan saja makanan mu."

"Aku anggap itu iya."

Sakura mendengus. Dasar seenaknya sendiri.

.

"Apa kau akan makan siang dengan ku?"

"Aku akan makan siang dengan teman-teman ku." Jawab Sakura sekadarnya.

"Apa aku tidak bisa jadi teman mu?"

Kali ini matanya melirik si pengemudi yang sangat menantikan jawaban darinya. "Kalau begitu kau tidak bisa jadi calon suami ku."

"Lupakan, aku akan makan sendiri." Putus Sasuke cepat.

"Bagus." Sahut Sakura puas. Sakura kembali memandangi jalanan pagi hari melalui jendela mobil. Salju semalam masih terlihat begitu menumpuk.

"Sakura."

"Hm?"

"Aku menyukai mu."

.
.
.

Tbc

Kontrak KerjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang