17 Juni 1993, Alor, Helangdohi
“Kuil Hathor di kota Dendera, Mesir.” Ucap Naya.
“Hwooo! 100! Lokasinya udah bener tuh, sekarang jelaska secara singkat mengenai Dendera lamp!” Perintah Galih penuh semangat.
“Dendera lamp adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah ukiran yang dianggap sebuah lampu kuno di kuil Hathor. Kuil itu sendiri lebih mirip sebuah laboratorium karena tidak memiliki ukiran maupun patung dewa.”
“Hmmm, hmmm, sejauh ini masih ok. Lanjut!” Ucap Galih.
“Ukiran tersebut menurut Naya sangat simbolik dan tidak menjelaskan secara langsung bahwa Dendera lamp ini adalah sebuah lampu pijar seperti yang kita kenal. Jika melihat ukirannya, Di dalam Dendera lamp terdapat sebuah benda seperti kabel yang terhubung pada sebuah bunga lotus. Selain itu ada sebuah benda besar yang menahan Dendera lamp, padahal yang memegang Dendera lamp tersebut adalah manusia berukuran besar yang biasanya dianggap sebagai ukiran untuk para dewa. Harusnya mereka ga perlu bantuan penahan dong.” (Pembaca silahkan cari gambarnya ya di google :D )
“Ok, op, oooop. Berhenti dulu.”
“Udah kaya tukang parkir aja kak”
“Kenapa kamu anggap oranng yang ukurannya besar itu dewa? Ukuran manusia dalam sebuah ukiran itu sudah biasa terdistorsi kok, bisa jadi itu manusia biasa.” Jelas Galih. Sandhi dari kejauhan mendekati kakak dan adik yang sedang asik ngobrol tersebut.
“Iya, misalnya aja kaya gw nih. Badan tinggi tegap semampai, ganteng lagi. Wajar dong kalo diukir lebih besar daripada yang lain?” Serobot Sandhi sambal memasukkan barang-barang survival ke dalam tasnya.
“Yah elo San, gw lagi ngajarin adik gw dengan serius, baik dan benar nih. Lo lanjut packing aja sono, jangan ganggu. Hush, hush…sana, sana.”
“Iya nih kak Sandhi gangguin aja. Lagian mana ada tegap semampai, itu bentuknya kaya apa coba? Haha”
Sandhi pergi sambil menggerutu. Ia mendekati Gantha yang juga sedang sibuk packing. Pakaian mereka sudah cocok untuk melakukan ekskavasi ataupun penjelajahan lainnya.
“Kakak liat deh, ada gambar manusia kecil juga kan? Nah, yang ini manusia, yang lebih besar ini dewa.” Jelas Naya sambal memperhatikan dengan seksama buku catatannya.
“Udah? Itu doing alasannya? Ampun dah Nayaaa….”
“Tunggu dulu. Kakak lihat juga di ukiran tersebut juga ada sebuah makhluk mirip monster babon kan? Nah, itu adalah simbol dari jin pelindung. Mungkin tugasnya adalah melindungi Dendera lamp ini? Jelaslah, Dendera lamp bukan sebuah lampu biasa, namun benda buatan dewa yang penting dan disembah oleh manusia.”
“Hm, hmmm. Salah. Jauh banget salahnya. Payah ah analisanya.”
“Loooh? Salah dimananya kakak?!”
Tidak jauh dari sana, Gantha dan Sandhi yang masih sibuk packing juga sedang asyik mengobrol.
“Ta, kira-kira kita mau kemana ya? Si Galih tumben-tumbenan main rahasia-rahasiaan kaya gini segala.” Tanya Sandhi.
“Sebuah tempat yang menarik pastinya. Dia pasti lagi girang karena bisa menemukan sesuatu yang menarik kaya gini tanpa bantuan kita. Biasalah, dia pengen bikin kita penasaran dulu dan dengan puasnya melihat eaksi terkejut kita nanti.” Jelas Gantha.
“Iya sih, gw penasaran juga kita mau kemana dan ngapain sebenernya. Dia bilang udah menemukan kan, terus ngapain kita harus siapin peralatan menggali dan survival kaya gini coba?”
“Hm, gw baca-baca buku mengenai Alor dan juga nanya beberapa tetua disini barusan da nada hal menarik mengenai Alor loh.”
“Wah sial, lo juga punya rahasia tentang Alor ternyata. Coba ceritain Ta.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Reiva : Awal
FantasiApakah sejarah manusia sesuai dengan yang tertulis di buku-buku sejarah selama ini? OOPart (Out of Place Artifactc) telah merusak kronologi sejarah teknologi manusia yang tertulis di buku-buku sejarah karena benda-benda berteknologi tinggi tersebut...